Selasa, 10 Januari 2017

KETERKAITAN EFIKASI-DIRI DENGAN KEMATANGAN KARIER SISWA SMA (dimuat pada jurnal Guru Membangun)



KETERKAITAN EFIKASI-DIRI DENGAN
KEMATANGAN KARIER SISWA SMA
(dimuat pada jurnal Guru Membangun)

Oleh:

Luhur Wicaksono


Abstrak  :  Tahapan penting yang harus dilalui oleh siswa SMA berkaitan dengan pengambilan keputusan, yaitu keinginan untuk penentuan jurusan/program studi. Ketepatan/optimalisasi pengambilan keputusan sangat ditentukan oleh adanya kematangan karier. Salah satu aspek yang terkait atau ikut mempengaruhi kematangan karier antara lain adalah efikasi-diri. Bukti hasil temuan menunjukkan bahwa efikasi-diri yang tinggi pada siswa berkait dengan tingginya kematangan karier siswa.

 Kata Kunci : Efikasi-diri, Kematangan Karier


Keberhasilan siswa dalam membuat keputusan karier ternyata dipengaruhi oleh banyak faktor. Krumboltz untuk itu secara lebih sistematis membuat 4 (empat) kategori, kemudian ditambah lagi dengan 3 (tiga) kategori yang berpengaruh secara relevan terhadap pengambilan-keputusan-karier (PKK) (Krumboltz dan Mitchel dalam Brown, 1987), (lihat gambar 2.1). Gejala-gejala yang sementara ini muncul di SMA ternyata mendukung pendapat Krumboltz tersebut. Gejala tersebut antara lain berupa; efikasi-diri sebagai generalisasi observasi-diri, prestasi sebagai hasil dari belajar, pemrosesan informasi dari model sebagai pengalaman belajar, pengumpulan informasi dan penentuan sumber informasi yang paling dipercayai, akurat serta relevan sebagai ketrampilan pendekatan tugas dan pembuatan keputusan karier.
Pengambilan-keputusan karier (PKK) yang optimal untuk mewujudkannya diperlukan keyakinan-diri bahwa seseorang akan mampu melakukan apa yang menjadi pilihannya. Keyakinan-diri --bahwa kalau ia mau melakukannya pasti ia-- mampu melakukan suatu perbuatan tertentu  merupakan kekuatan awal untuk berani memulai melakukan sesuatu (perbuatan). Hal itu akan timbul apabila individu telah mengetahui dan memahami -yang diperoleh dengan belajar (pengalaman dan latihan) apa yang akan dilakukannya. Rasa ampuh-diri  yang timbul itulah pada gilirannya

1
2


nanti akan menjadi perantara bagi timbulnya tingkah-laku baru dimasa yang akan datang, termasuk dalam tingkah-laku pengambilan-keputusan karier (PKK). Oleh karena itu Teori Belajar Sosial mengatakan bahwa, kepribadian dan tingkah laku orang itu lebih merupakan hasil belajar daripada hasil pembawaan dari lahir (Munandir, 1986 : 97).  Rasa ampuh-diri juga merupakan bentuk kepribadian sebagai hasil belajar, dan rasa ampuh-diri ini oleh Bandura dikatakan sebagai efikasi-diri (ED).
Bandura mengemukakan istilah efikasi diri sebagai faktor yang berpengaruh  bagi tingkahlaku individu, bagi pemilihan kegiatan yang akan dijalani.  Efikasi-diri merupakan keyakinan individu bahwa ia akan dapat berhasil menjalankan tingkah-laku yang diperlukan agar dapat membuahkan akibat tertentu. Bagi siswa SMA keyakinan untuk dapat menjalankan perilaku tertentu begitu penting artinya, agar ia dapat memilih kegiatan yang akan dijalaninya. Penentuan jurusan/ program studi merupakan kegiatan yang akan dijalani oleh setiap siswa SMA sebagai salah satu dari kegiatan pengambilan-keputusan-karier (PKK), dan siapnya individu di dalam mengenali serta mengatasi masalah pekerjaan dikatakan bahwa dia sudah sampai pada kematangan karier.

Kematangan-Karier (KK)
Karier diartikan sebagai urutan okupasi-okupasi, job, dan posisi-posisi yang diduduki sepanjang pengalaman kerja seseorang (Tolbert, 1974 : 28). Pengalaman kerja itu dapat meliputi posisi-posisi pada pra dan pasca vokasional, seperti siswa-siswa yang melakukan persiapan kerja dan orang-orang pensiun atau ganti peranan baru (Crites, 1969 : 3). Individu sebelum bekerja sebenarnya telah membuat keputusan karier. Sepanjang hidupnya individu bahkan selalu melakukan keputusan karier, termasuk keputusan ketika dia mencapai jenjang klas X SMA dalam menentukan pilihan jurusaan / program studi pada saat kenaikan kelas. Ginzberg menegaskan bahwa pemilihan pekerjaan adalah suatu proses pengambilan keputusan seumur hidup dalam mana individu secara tetap mencari untuk menemukan

3


kecocokan yang optimal antara tujuan karier dengan realita dunia kerja (Ginzberg dalam Brown,1987 : 179). Pengambilan-keputusan-karier oleh individu tentu saja dilakukan sesuai tahapannya yang berkaitan dengan usianya.
Siswa SMA dengan rentangan usia 17 th - 19 th terletak dalam salah satu tahap tertentu. Usia antara 17th - 19 th menurut Super adalah tahap eksplorasi, terutama sub tahap tentatif (Brown, 1987 : 201 - 202), atau disebut juga sebagai tahap transisi (Ginzberg dalam Brown, 1987 : 174) dengan tugas utama berupa kesiapan melakukan pilihan karier secara realistis. Pilihan karier yang realistik ini sangat ditentukan oleh tingkat kematangan karier siswa. Kematangan karier dimaksud menurut Super (1974: 8) ditandai oleh siapnya individu dalam mengenali dan mengatasi masalah pekerjaan.
Kematangan karier (KK) menurut Super dan Bachrach (dalam Crites, 1969 : 84)  serta Herr dan Cramer (1984 : 127 -129) dipengaruhi baik secara langsung atau tidak langsung oleh faktor lingkungan yang berupa sistem sosial budaya dimana seseorang berada, dan secara langsung oleh faktor pribadi dari dalam diri orang itu sendiri. Keputusan-karier (Page., Thomas., & Marshal., 1978) merupakan suatu ketrampilan atau kemampuan yang diartikan sebagai aktivitas mental dan fisik yang sistematis dan terkoordinasi yang pembentukannya melalui latihan atau kegiatan. Ketrampilan-ketrampilan pilihan-karier dapat dipelajari secara sistematis (George dan Cristiani., 1990 : 224), karena kematangan karier adalah daerah yang siap dijangkau proses belajar yang kompleks mulai dari awal masa kanak-kanak dan terus menerus sepanjang hidup (Herr dan Cramer dalam George dan Cristiani., 1990 : 225). Dengan demikian pengambilan-keputusan-karier merupakan suatu ketrampilan yang dapat dipelajari atau diajarkan kepada individu. Melalui suatu pembelajaran, maka pengambilan-keputusan-karier dapat ditingkatkan kualitasnya sehingga membuahkan hasil yang semakin sempurna, baik dalam hal sikap maupun kompetensi.
Kematangan-karier (KK) bagi siswa SMA mempunyai makna yang sangat besar, karena menentukan sekali bagaimana alur kariernya di masa yang akan datang. Pentingnya permasalahan tersebut semakin dirasakan khususnya ketika siswa berada pada menjelang kenaikan kelas XI, walaupun permasalahan karier itu sendiri sebenarnya merupakan proses yang ada sebelum siswa menginjak kelas XI  SMA.

4


Permasalahan karier pada siswa kelas X SMA terjadi karena pada masa menjelang kenaikan kelas ini siswa mulai dihadapkan pada suatu situasi pilihan “spesialisasi” dimana diharapkan siswa membuat keputusan pilihan yang tepat yaitu kesesuaian antara bidang kajian yang akan ditekuni di kelas XI dengan minat dan kemampuannya. Hal yang demikian sedikit-banyak tentu akan berpengaruh pada pengambilan-keputusan-karier di masa mendatang yakni melanjutkan belajar ke perguruan tinggi (dan memilih fakultas dan jurusan  tertentu) atau harus terjun ke masyarakat memasuki lapangan pekerjaan.  Bagi siswa yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka akan dihadapkan pada masalah program studi apakah yang paling tepat untuk dimasuki dengan segala konsekuensinya, ke jenjang S 1  atau cukup ke jenjang Diploma. Siswa yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, masalah yang dihadapi adalah jenjang pekerjaan apa yang tersedia bagi lulusan SMA?  Apakah tersedia faktor pendukung bagi pilihan kerja yang telah diputuskan?  Lebih dari itu  -baik bagi yang melanjutkan ke perguruan tinggi atau yang memilih untuk memasuki dunia kerja, keyakinan atau rasa percaya-diri terhadap kemampuannya merupakan faktor yang tidak kalah penting di dalam menentukan pilihan karier.
Pilihan-karier sebagai suatu fungsi dari kematangan karier, prosesnya dapat diketahui melalui pemahaman teori-teori dan model-model pengambilan-keputusan-karier (PKK). Banyak teori dan model PKK yang dikemukakan oleh para ahli, salah satunya adalah model PKK yang dikemukakan oleh Krumboltz dengan teori belajar-sosial-nya. Krumboltz dalam teorinya, menyatakan bahwa proses pengambilan-keputusan-karier secara garis besar dipengaruhi oleh  empat kategori, yaitu; (1) sumbangan genetik dan kemampuan khusus, (2) kejadian-kajadian dan kondisi-kondisi lingkungan, (3) pengalaman belajar, dan  (4) ketrampilan-ketrampilan  pendekatan tugas. Disamping itu, terdapat juga faktor-faktor lain yang berpengaruh secara relevan terhadap pengambilan-keputusan-karier (PKK), yaitu; (5) generalisasi-generalisasi observasi-diri (SOG),  (6) generalisasi-generalisasi pandangan-dunia, (7) ketrampilan-ketrampilan pendekatan tugas dan pengambilan-keputusan-karier (PKK) (Krumboltz dan Mitchel dalam Brown,  1987).


5


Krumboltz mengemukakan teori yang dikenal dengan teori belajar-sosial. Dalam hal pengambilan-keputusan-karier, teori belajar Krumboltz merupakan perkembangan teori belajar-sosial secara umum terhadap tingkah-laku, yang mana selalu dikaitkan dengan karya (teori) Albert Bandura (Krumboltz dan Mitchell dalam Brown,  l987). Teori Belajar Sosial Albert Bandura membedakan antara belajar dan unjuk perbuatan (performance) atau tingkah-laku. Bandura (1977 b [dalam Gredler, 1986 : 234]) karena itu mengajukan hubungan timbal balik yang terus menerus yang terjadi antara faktor-faktor penentu pribadi dan lingkungannya, untuk menjelaskan fungsi-fungsi psikologi. Dikemukakan lebih lanjut, bahwa ciri-ciri fisik seperti penampilan yang atraktif, ras, perawakan, jenis kelamin, dan atribut-atribut sosial mengaktifkan reaksi-reaksi lingkungan yang berlainan. Hal yang penting menurut Bandura (1971a [dalam Gredler, 1986: 247]) ialah bahwa tingkah-laku atau unjuk perbuatan si belajar itu dibimbing oleh proses kognitif daripada dibangun atau dibentuk oleh perbuatan yang memperoleh penguatan. Ada empat proses yang   berpengaruh pada belajar dan unjuk perbuatan (Bandura, 1971 a, 1977 b), yaitu  atensi, retensi, produksi motorik, dan motivasi. Disamping itu menurut Bandura (1982 [dalam Gredler, 1986: 250]) agar tingkah-laku dapat terlaksana dengan baik, diperlukan dua komponen lain yaitu efikasi-diri, dan regulasi diri.
Bandura  (1977, 1982, 1986)  ternyata telah menerapkan teori efikasi-diri ini untuk Pengambilan-Keputusan-Karier  (PKK).  Pada tahun 1977, Bandura  telah mengemukakan hipotesa berupa sebuah hubungan langsung antara ekspektasi-ekspektasi efikasi-diri dan penampilan secara tingkah-laku (Luzzo, 1993). Dalam hal ini tingkah-laku tersebut antara lain dimaksudkan sebagai tingkah-laku dalam mengambil keputusan karier (PKK).
Krumboltz dalam teori kerjanya memang banyak terkait oleh apa yang dikemukakan Bandura. Itulah sebabnya apa yang dikemukakan oleh Bandura,  “digunakan juga”  oleh Krumbolt. Sebagai contoh seperti ciri-ciri fisik (antara lain ; penampilan yang atraktif, ras, jenis kelamin) yang dikemukakan oleh Bandura, digunakan oleh Krumboltz walau dengan istilah lain, yaitu sumbangan genetik.


6

Contoh lainnya adalah istilah efikasi diri yang “diambil” Krumboltz dari teorinya Bandura, sebagai faktor yang ikut berpengaruh dalam pengambilan-keputusan-karier. Tentu saja banyak terdapat faktor-faktor yang mempunyai hubungan dan berpengaruh terhadap pengambilan-keputusan-karier (PKK).
Untuk lebih memperjelas tentang beberapa faktor yang mempengaruhi PKK, dapat dilihat pada gambar 2.1, berikut :
1. Sumbangan genetik dan                                                                               2. Kejadian-kejadian dan
    kemampuan khusus.                                                                                        kondisi lingkungan                  
- r a s                                                                                                              -  kekuatan sosial
- jenis kelamin                                                                                                -  kekuatan kultural
- penampilan dan                                                                                            - kekuatan politik
         karakteristik fisik.                                                                                        -  kekuatan ekonomi
- inteligensi                                                                                                     - kekuatan alamiah;
- kemampuan musik                                                                                          + bencana alam
- kemampuan artistik                                                                                         + lokasi sumber alam     

3.  Pengalaman belajar                                                                                    7. Ketrampilan pendekat-    
      -  instrumental                                                                                               an tugas dan pembuat- 
      -  assosiatif                                                                                                    an keputusan karier :
      -  yang berkaitan dng:                                                                                      - mengenali  situasi
   pengalaman indi                                                                                              keputusan yg penting
         vidu lain (Pemroses                                                                                     -  mendefinisikan kptsn
  an informasi dari                                                                                             atau mengatur tugas
        model)                                                                                                             dan realitasnya
                                                                                                                              -  menguji serta menilai
4. Ketrampilan pendekat-                                        P K K                                        secara akurat obser-     
    an tugas                                                                                                                vasi diri generalisasi
    Hasil dari interaksi                                                                                               pandangan terhadap
     antara                                                                                                                   dunia
      -  pengalaman belajar                                                                                       -  generalisasi secara       
     - karakteristik genetik                                                                                        luas thd bermacam  
      - kemampuan khusus                                                                                        alternatif  
     - pengaruh lingkungan                                                                                   -  mengumpulkan infor
                                                                                                                                 masi yang dibutuhkan
5.  Generalisasi observa                                                                                           tentang alternatif  
     si diri (SOG)                                                                                                    -  menentukan sumber
     - efikasi tugas:                                                                                                   informasi yg paling
     - minat                                                                                                               dipercayai, akurat,
     - nilai-nilai personal                                                                                        dan relevan.       
                                                                                                                              -  merencanakan dan
6.  Generalisasi pandangan                                                                                       melaksanakan urut-       
      terhadap dunia                                                                                                    an TL pengambilan           
      -  generalisasi terhadap                                                                                   keputusan                 
                                                                                                                              bermacam-macam pe                                                                                
                                                                                                                              kerjaan yang ada.

Gambar 2.1 :  Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan-keputusan-karier
                    (PKK)   (diringkas dari  Krumboltz dan Mitchell  dalam Brown,                              
                    1987).


7

Berdasarkan gambar 2.1 dapat dikemukakan bahwa, seseorang mengambil keputusan karier karena ia terlibat dalam berbagai perilaku yang mengarah ke suatu karier (Mitchell  &  Krumboltz,  1987). Beberapa perilaku pengambilan-keputusan-karier antara lain; bersekolah serta memasuki program latihan, melamar pekerjaan, peningkatan pekerjaan, berubah jabatan atau memasuki pekerjaan baru. Dasar pelaksanaan perilaku tersebut menurut teori belajar adalah munculnya minat akibat dari generalisasi pengamatan diri (Generalisasi Observasi Diri / SOG) yang berasal dari pengalaman belajar sebelumnya. Interaksi dari pengalaman belajar, sifat-sifat bawaan, kemampuan khusus dan pengaruh lingkungan menghasilkan ketrampilan pendekatan tugas yang sangat penting dalam pengambilan keputusan karier (Mitchell  &  Krumboltz,  1987). Ketrampilan yang dimaksud meliputi :  (1) mengenal situasi keputusan yang penting, (2) menetapkan keputusan atau tindakan yang dapat dikelola dan realistik, (3) memeriksa dan menilai secara cermat dan tepat generalisasi observasi diri dan generalisasi pandangan atas dunia, (4) menyusun alternatif-alternatif yang luas dan beragam,  (5) mengumpulkan informasi yang diperlukan tentang alternatif-alternatif,  (6) menentukan sumber informasi mana yang paling andal, cermat dan relevan,  (7) merencanakan dan melaksanakan urutan dan langkah-langkah pengambilan keputusan.
Pengambilan-Keputusan-Karier (PKK) merupakan perwujudan dari pengembangan karier individu. Herr & Cramer mengemukakan bahwa teori-teori pengembangan karier secara khusus mendeskripsikan bagaimana karier-karier itu direncanakan dan dipilih untuk jangka waktu yang lama (Herr & Cramer, 1988  [dalam Spokane, 1991 : 173] ), dan menimbulkan konstruk-konstruk hubungan karier secara khusus (sebagai misal; kematangan karier) untuk menerangkan kemajuan keberhasilan  melalui  tingkat-tingkat  keinginan (Spokane, 1991: 173 ). Kemampuan karier individu oleh Crites (1973 ; 1978 dalam Crites 1981) diungkap sebagai bagian dari Inventori Kematangan Karier (Career Maturity Inventory / CMI) yang digunakan untuk individu usia 15 tahun keatas. CMI ini secara garis besar terdiri atas dua bagian (yaitu tes skala sikap dan tes kemampuan). Komponen sikap, dibagi menjadi lima indikator, yaitu; (1) keterlibatan (involment), (2) independensi (independence), (3) pengenalan / penyesuaian (orientation), (4) ketegasan (decisiveness), dan (5) kompromi

8


(compromise). Sedangkan segi-segi kemampuan karier diukur melalui beberapa indikator, yakni; (l) mengenal diri sendiri, (2) pengetahuan tentang jurusan/program studi, (3) pemilihan suatu jurusan/program studi, (4) langkah-langkah menuju ke suatu jurusan/program studi (melihat kedepan), dan (5) apa yang seharusnya dilakukan.
Efikasi - Diri  ( Self - Efficacy)
Effikasi-diri (ED) adalah keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu menampilkan perilaku yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Bandura, 1977 ; 1977 b [ dalam Luzzo, 1993]). Karena itu ED, rasa ampuh-diri, atau keampuhan diri meliputi adanya rasa mampu menguasai. Sebagai contoh, seorang siswa yang memiliki rasa ampuh-diri atau ED yang kuat percaya bahwa ia dapat memperoleh nilai yang tinggi pada mata pelajaran mata pelajaran prasyarat agar ia masuk pada jurusan/ program studi yang dipilihnya.
Efikasi-diri (ED), merupakan salah satu dari tiga macam (dua lainnya adalah minat dan nilai-nilai personal) Generalisasi-Observasi-Diri/ Self-Observation Generalizations (SOG) dalam teori Krumboltz.
Generalisasi observasi-diri (SOG) merupakan pernyataan oleh diri sendiri yang mengandung penilaian atas kinerja diri, kinerja langsung nyata atau kinerja pengganti (tak langsung), atau penilaian atas minat dan nilai diri sendiri (Munandir, 1986 : 100).  Generalisasi observasi-diri ini ditarik sebagai hasil belajar --orang itu-- terus-menerus melihat dirinya, yaitu sikapnya, ketrampilannya, dan menilai apa-apa yang dilakukan dan bagaimana kinerjanya. Generalisasi ini juga mempengaruhi proses belajar berikutnya, sedangkan bentuk generalisasi ini bisa tertutup (tidak dilahirkan, tidak dinyatakan, dikatakan dalam hati), bisa juga dinyatakan secara terbuka.
Bandura (1977a [dalam luzzo, 1993]) pada awalnya mengarahkan ekspektasi efikasi-diri sebagai anggapan kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuannya untuk dengan berhasil menguasai tugas-tugas khusus secara tingkah-laku. Menurut Bandura (dalam Lent dan Hackett, l987) ekspektasi - ekspektasi efikasi secara perseorangan adalah kekritisan pada permulaan dan ketekunan penampilan tingkah laku di dalam seluruh aspek pengembangan manusia. Lebih lanjut dikatakan bahwa

9


ekspektasi-ekspektasi efikasi-diri  rendah berkenaan dengan bidang tingkah-laku khusus yang berperan dalam menjauhi suatu tingkah-laku, sehingga menampilkan tingkatan yang rendah dalam bagian tersebut. Di bagian lain ekspektasi efikasi-diri tinggi kemungkinan besar dapat menaikkan (mempertinggi) frekuensi tingkah-laku dalam suatu bagian (domain) khusus dan oleh karena itu menampilkan tingkah-laku yang lebih sukses. Menurut Super, tingkah-laku (T) merupakan wujud (fungsi) konsep
diri (Super dalam Brown, 1987). Dengan demikian tingkah-laku (T) yang sukses merupakan buah dari ketepatan penerapan dan pengembangan konsep diri, dimana konsep diri itu sendiri merupakan hasil interaksi bakat, perubahan fisik, kesempatan menjalani berbagai peran, dan evaluasi yang seluas-luasnya. Sedangkan Bandura (1978 dalam Gredler [ 1986 : 239]) mengajukan hubungan segitiga yang saling berkaitan antara tingkah-laku (T), lingkungan (L), dan kejadian internal yang mempengaruhi persepsi dan tindakan (P). Bandura (1974) mengemukakan bahwa lingkungan adalah fungsi tingkah-laku [ L = f  (T) ] dengan perantaraan berbagai faktor pribadi seperti seleksi peristiwa yang akan diobservasi dan bagaimana peristiwa
itu dipersepsi dan dipertimbangkan. Untuk lebih jelasnya hubungan segitiga itu dapat dilihat sebagaimana gambar 3
                                                                                  (P)
.                          Expectations and  values                    Physical characteristics such
                             influence behavior                               as attractiveness, race, size,
                                                                                            sex, and social attributes
                                                                                       activate different environmental 


 Behavior is often evaluated                                                                    Differential  social treatment
 independent of                                                                                                   influencies individual’s
 environmental feedback,                                                                                 self-conceptions.        
 thereby altering
 personal impressions.
                             

                                      (B)                                                                 (E)
         Behavior activates                                                      Activated contingencies can
             environmental contingencies                                       alter intensity or direction                                              
                                                                                              of activity

Gambar 3   :    Hubungan segitiga antara lingkungan, faktor pribadi dan tingkahlaku.
(diringkas dari Bandura, 1978 dalam  Bell-Gredler, 1986: 240)

10

Efikasi-diri dikemukakan sebagai salah satu istilah dalam Teori Belajar Sosial Bandura yang dimaksudkan sebagai keyakinan bahwa orang dapat berhasil menjalankan tingkah-laku yang diperlukan untuk membuahkan akibat tertentu (Bandura, 1977b dalam Gredler [1986 : 250]). Oleh karena itu efikasi-diri meliputi adanya rasa mampu untuk menguasai (suatu tingkah-laku). Bandura (1982 : 123) lebih lanjut menyatakan bahwa efikasi-diri mempengaruhi tingkah-laku paling kurang dalam tiga hal, yaitu : (1) pemilihan kegiatan yang akan dijalani, (2) mutu unjuk kerja individu, dan (3) kegigihan dalam menghadapi tugas-tugas yang sulit. Efikasi diri juga membantu orang melawan kegagalan. Orang yang tidak memiliki efikasi-diri biasanya akan terus menerus memikirkan kekurangan dirinya dan percaya bahwa halangan yang mungkin timbul itu sesuatu yang menakutkan.
Kualitas performansi dan kegigihan individu dalam menghadapi tugas-tugas sulit juga dipengaruhi oleh kepercayaan akan keampuhan diri (ED). Penelitian yang menyelidiki perkembangan dan penerapan tingkah-laku menunjukkan bahwa rasa ampuh-diri seperti yang dipersepsi individu merupakan faktor penting bagi terjadinya perubahan tingkah-laku untuk jangka panjang (Bandura, 1982 : 131).  Individu yang tinggi efikasi-diri-nya (ED) segera kembali menerapkan kontrol-diri setelah tahu bahwa ia kambuh -- dalam menghadapi tugas-tugas sulit atau tugas-tugas yang pernah gagal dikerjakannya--, sedangkan yang kurang efikasi dirinya akan kambuh terus, sehingga dalam hal ini ia akan terus larut dalam perasaan malas, dan tugas yang menjadi tanggungjawabnya-pun tidak akan pernah terselesaikan.
Efikasi-diri (ED) menurut Bandura mengandung dua dimensi yaitu : efficacy expectancy (ekspektansi-efikasi), yakni keyakinan individu bahwa dirinya mampu menampilkan perilaku tertentu yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu;  dan outcome  expectancy (ekspektansi keluaran), yakni keyakinan seseorang bahwa perilaku yang ditampilkan itu dapat mengantarkan kepada tercapainya tujuan yang diinginkan  (Sanna, 1992: 774). 
Dengan demikian efikasi-diri seseorang memiliki pengaruh penting terhadap pola-pola berfikir, afektif, dan perilakunya.


11

Efikasi-diri mempengaruhi tingkah-laku karena menurut Bandura, efikasi-diri mempengaruhi pilihan, permulaan, upaya, ketekunan, dan karena itu dapat meningkatkan prestasi penampilan (Bandura, 1977: 194). Apalagi ekspektasi efikasi  adalah faktor yang sangat menentukan aktivitas pilihan orang-orang, berapa banyak usaha yang dilakukan yang akan mereka curahkan, berapa lama mereka dapat menyokong upaya dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan  (Bandura, 1977:194;  Sanna,  1992:774).
Betz & Hacket (1981) adalah orang yang pertama kali menegaskan tentang pentingnya  ekspektasi-ekspektasi efikasi-diri  dalam  pengambilan-keputusan-karier  ( Betz & Hacket dalam Isaacson & Brown, 1993 : 341). Taylor & Betz (1983 [dalam Luzzo, 1993]) mengembangkan Skala Efikasi-Diri Pengambilan- Keputusan-Karier (SED PKK) untuk mengukur ekspektasi-ekspektasi efikasi-diri seseorang sebagai arahan untuk tugas-tugas Pengambilan-Keputusan-Karier (PKK) dan tingkah-laku tingkah-laku (TL). Item-item pada SED PKK ini didapatkan dengan menyeleksi konstruk kematangan karier Crites (1965, 1971 [dalam Luzzo, 1993]), dengan perhatian khusus dalam model Crites dari komponen   affektif kematangan karier dan penilaian sikap-sikap masing-masing orang terhadap proses PKK. Taylor & Betz (1983) dalam investigasinya pada mahasiswa-mahasiswa S1 (College undergraduates) menemukan hubungan ekspektasi antara efikasi-diri PKK mahasiswa dan keraguan karier. Dilaporkan bahwa pada partisipan-partisipan yang secara umum mengalami.keraguan, maka keyakinannya juga kurang di dalam kemampuannya terhadap tugas-tugas secara komplit pada PKK. Dengan kata lain mahasiswa-mahasiswa yang mengalami kebingungan (keraguan), secara relatif rendah tingkat efikasi-diri PKK-nya.
Keterkaitan Efikasi-Diri (ED) dengan Kematangan Karier (KK)
Ekspektasi Efikasi-Diri (ED) (Bandura, 1977a dalam Luzzo, 1993) pada awalnya diarahkan sebagai anggapan kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuannya untuk dengan berhasil menguasai tugas-tugas khusus secara tingkahlaku. Lebih lanjut Bandura (Lent dan Hackett, 1987) menyatakan bahwa ekspektasi-efikasi secara perorangan adalah kekritisan pada permulaan dan ketekunan penampilan tingkahlaku di dalam seluruh aspek pengembangan manusia.

12


Kemampuan menguasai tugas-tugas khusus dan penampilan tingkahlaku tidak akan lepas dari kematangan karier. Sehubungan dengan itu Herr dan Cramer (Herr dan Cramer, 1984) menyatakan bahwa kematangan karier itu ditunjukkan oleh cara orang muda berurusan dengan pilihan pekerjaan. Pilihan pekerjaan atau pengambilan-keputusan-karier disini terlihat sebagai fungsi dari kematangan karier, dan tidak dapat diungkiri bahwa cara untuk berurusan dengan pilihan pekerjaan itu tidak dapat dipisahkan dari keyakinan diri seseorang akan kemampuannya untuk menjalani pilihan karier/pekerjaan yang diinginkan; yang dalam hal ini adalah pilihan jurusan/program studi.
Siswa yang merasa yakin bahwa pilihan jurusan/program studi yang diaa ambil akan membawa kesuksesan bagi dirinya, maka dia tidak akan ragu-ragu untuk memilih jurusan tersebut. Dengan demikian ia telah mempunyai kematangan vokasional. Sebagaimana dikemukakan oleh Herr dan Cramer (Herr dan Cramer, 1984) yang menyatakan bahwa kematangan karier sebagai kematangan vokasional.
Uraian yang dikemukakan terdahulu dapat dirangkai dalam simpulan bahwa Efikasi-Diri (ED) berhubungan dengan pengambilan-keputusan-karier sebagai fungsi dari kematangan karier.  Krumboltz (Krumboltz dan Mitchell dalam Brown, 1987), telah menyatakan hal yang sejalan, bahwa efikasi tugas merupakan salah satu (yang lainnya adalah minat dan nilai-nilai personal) dari Generalisasi Observasi-Diri (SOG) yang mempengaruhi pengambilan-keputusan-karier.

Temuan di Lapangan
Teori efikasi-diri Bandura (1977a, 1982, 1986 dalam Luzzo [1993]) ternyata telah diterapkan untuk pengambilan-keputusan-karier (PKK). Diindikasikan melalui dukungan ahli-ahli psikologi (Cook, 1991; Lent & Hackett, 1987) bahwa efikasi-diri patut memperoleh perhatian serius sebagai variabel penting dalam tingkah-laku jabatan. Didalam suatu tinjauan secara komprehensif mengenai riset efikasi-diri, Lent & Hackett (1987) menganjurkan menambah dukungan empiris untuk menerapkan teori efikasi-diri dalam ujud pengembangan karier secara kompleks.


13

Beberapa penelitian telah membuktikan adanya pengaruh efikasi-diri (ED) terhadap pola-pola berfikir, afektif, dan perilaku; misalnya saja pengaruh ED terhadap ketekunan akademik (academic persistance) (Lent dan Larkin, 1984), pengaruh ED terhadap penampilan akademik (academic performance)  (Multon dan Brown,1993; dan Lent, 1986 ; Rangel, Church, Szendre, dan Reeves, 1990), serta pengaruh ED terhadap pertimbangan karier dan kemampuan mengambil keputusan karier  (Betz & Hacket, 1981; Lent dkk., 1986; Post-Kammer & Smith, 1985;  Luzzo, 1993). Temuan-temuan penelitian itu semakin menguatkan dugaan bahwa efektifitas ED dapat mempengaruhi pengambilan-keputusan-karier (PKK) siswa SMA.
Penelitian yang dilakukan luhur (2004) yang melibatkan 3 (tiga) variabel bebas, yang salah satunya adalah efikasi-diri (ED) (dua yang lain adalah prestasi belajar dan informasi karier) mengenai keterkaitannya (hubungannya) dengan kematangan karier (KK), yang dilakukan pada siswa SMA Negeri di Malang. Pada penelitian tersebut terdapat temuan bahwa efikasi-diri (ED), prestasi belajar/rata-rata tingkatan nilai (RTN), dan informasi karier (IK) secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan, dengan koefisien korelasi sebesar 0,613. Dengan kata lain pengaruh efikasi-diri (ED), prestasi belajar/rata-rata tingkatan nilai (RTN), dan informasi karier (IK) secara bersama-sama cukup kuat terhadap kematangan karier (KK). Temuan lebih lanjut menyatakan bahwa 36,5 % variasi dari kematangan karier bisa dijelaskan dari variasi ketiga variabel bebas (yang salah satunya adalah efikasi-diri), sedangkan pengaruh lain sebesar 63,5 % berasal dari variabel yang tidak dilibatkan dalam penelitian. Sercara sendiri, efikasi diri (ED) berhubungan positif dan signifikan terhadap kematangan karier (dengan r = 0,4045), dan mempunyai kontribusi efektif

Saran-saran
Berdasarkan uraian yang sudah dikemukakan, maka diajukan saran-saran sebagai berikut :

1.      Untuk para pengelola sekolah (Kepala Sekolah dan Guru) disarankan agar melakukan upaya-upaya untuk dapat menaikkan Efikasi-Diri siswa melalui peningkatan mutu sekolah yang muaranya diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengambilan-keputusan-karier siswa.

14


2.      Agar Guru Pembimbing membuat program untuk mempertinggi Efikasi-Diri siswa antara lain melalui pemberian penjelasan atau pelatihan-pelatihan dengan materi-materi misalnya; bagaimana memilih suatu kegiatan yang akan dijalani, bagaimana menampilkan unjuk kerja yang baik, dan bagaimana individu hendaknya pantang menyerah atau harus gigih dalam menghadapi situasi sesulit apapun.
3.      Perlu lebih sering diadakan pemantapan kepada Guru BK mengenai proses bimbingan karier secara terus menerus dan sistimatis, melalui penataran-penataran atau pelatihan-pelatihan.
4.      Agar para siswa sedini mungkin diberikan suatu pemantapan mengenai Pengambilan-Keputusan-Karier dalam suatu program yang sistematis dan terencana. Pemantapan ini mencakup antara lain pola persiapan dan struktur pengambilan-keputusan-karier, dalam hal ini adalah proses pemilihan jurusan dengan klasifikasi berbagai jurusan yang harus diinformasikan kepada siswa. Informasi ini hendaknya dilakukan secara terus menerus disesuaikan dengan karakteristik perkembangan, baik masa sekarang maupun masa yang akan datang khususnya yang berhubungan dengan sumber daya manusia yang sesuai dengan globalisasi dan tuntutan pasar bebas, juga dengan pola pembangunan   nasional yang dicanangkan di Indonesia.
5.      Berkenaan dengan pengembangan program bimbingan karier, disarankan kepada pengelola pendidikan untuk mengadakan kerjasama dengan berbagai pihak, yaitu dengan pihak swasta dan pemerintah setempat melalui suatu program terpadu. Hal ini diperlukan untuk kemudahan bagi siswa memperoleh informasi dari tangan pertama dalam rangka perencanaan kariernya .





DAFTAR RUJUKAN



Bandura, A., (1974). Behavior theory and models of man.American Psychologist, 29, 859-869.

Bandura, A. (1977a). Self-efficacy: Toward unifying theory of behavioral change. Psychological Review, 84 (2), 191-215.

-----,  (1982). Self-efficacy mechanism in human agency. American Psychologist, 37, 122-147.

Bandura, A., dan  Schunk, Dale, (1984).  Enhancing Self Efficacy and Achievement Through Rewards and Goals : Motivation and Information Effects,  (ed). The Journal of Educational Research,  76,  (1).

Betz,  N.E., &  Hackett,  G  (1981).  The relationship of Career Related Self-efficacy Expectations to perceived Career Options in College Men and Women.  Journal of Counseling Psychology,  28,  399-410.

-----,    (1983). The relationship of mathematics self-efficacy expectations to the selection of science-based college majors. Journal of Vocational Behavior, 23, 329-345.

-----,   (1987).  Career choice and development. San Francisco,  London:  Jossey - Bass Publishers.

Brown,  D., &  Brooks,  L  (1984).  Career choice and development,  aplliying contempory theories to practice. San Francisco, California:  Jossey - Bass.

Crites, J.O.  (1969). Vocational Psychology: The Study of Vocational Behavior and Development.   New York: McGraw-Hill Book Company.

-----,    (1981). Career counseling:  Models, methods and materials. New York:  McGraw - Hill Book Company.

George, Rickey L., dan Cristiani, Therese S., (1990). Counseling Theory and Practice (Third Edition). Boston : Allyn and Bacon.

Gredler, Bel. M.E., (1986). Learning and Instruction Theory into Practice. New York : Macmillan Publishing Company.  

Hackett, G., & Betz, N.E. (1981). A self-efficacy approach to the career development of women. Journal of Vocational Behavior, 18, 326-339.

Herr, Edwin L., dan Cramer, S.H., (1984). Career Guidance and Counseling Through the Life Span (Second Edition). Boston: Little, Brown & Company.

15
16


Isaacson, Lee. E. dan Brown, Duane.,(1993). Career Information, Career Counseling, & Career Development (Fifth Edition), Boston: Allyn and Bacon

Krumboltz, J.D., (1994). The Career Beliefs Inventory. Journal of Counseling Development, March/April, 72, 424-428.

Krumboltz, J.D., dan Baker, R.D., (1973). Behavioral counseling for vocational decision.  dalam  H. Barrow (eds). Career Guidance for a New Age. Boston, Massachusets : Houghton Mifflin, 235-284.

Lent, R.W., Brown, S.D., and  Larkin, K.C. (1984). Relation of Self-efficacy Expectation to Academic Achievement and Persistence. Journal of Counseling Psychology,  31,  (3),  356-362.

----- , (1986). Self-efficacy in the prediction of academic performance and perceived career option. Journal of Counseling Psychology, 33, 265-269.

----- ,   (1987). Comparison of three theoretically derived variables in predicting career and academic behavior : Self-efficacy, interest congruence, and consequence thingking. Journal of Counseling Psychology, 34, 293-298.

Lent, R.W., & Hackett, G. (1987). Career self-efficacy : Empirical status and future direction [Monograph]. Journal of Vocational Behavior, 30, 347-382.

Luzzo, Darel, A.,(1993). Value of Career-Decision-Making Self-efficacy in Predicting Career-Decision-Making Attitudes and Skills. Journal of Counseling Psychology,  40,  (2),  194-199.

Multon, K.D., and  Brown, S.D., (1993). Relation of Self-Efficacy Belief to Academic outcome:  A Meta Analitic Investigation.  Journal of Counseling Psychology,  37,  407-418.

Munandir. (1986). Program bimbingan karier di sekolah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.  DirJend  Pendidikan Tinggi Proyek Tenaga Akademik

Post Kammer, P., and Smith, P.L.,  (1985).  Sex Differences in Career Self-Efficacy, Consideration, and Interest of Eight and Ninth Graders. Journal of Counseling Psychology,  32,  551-559.

Rangel,  Bores,  E., Church, Timothy. A., Szendre, Dottie., Reeves, Carolyn  (1990).  Self-Efficacy in Relation to Occupational Consideration and Academic Performance in High School Equivalency Students.  Journal of Counseling Psychology,  39,  498-508.

Wicaksono, Luhur., (2004). Hubungan antara Efikasi-Diri, Prestasi Belajar, dan Informasi Karier dengan Kematangan Karier. Malang  Fakultas Pascasarjana IKIP Malang, Tesis (tidak diterbitkan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar