KETERKAITAN EFIKASI-DIRI
DENGAN
KEMATANGAN KARIER SISWA SMA
(dimuat pada jurnal Guru
Membangun)
Oleh:
Luhur Wicaksono
Abstrak
: Tahapan
penting yang harus dilalui oleh siswa SMA berkaitan dengan pengambilan
keputusan, yaitu keinginan untuk penentuan jurusan/program studi.
Ketepatan/optimalisasi pengambilan keputusan sangat ditentukan oleh adanya
kematangan karier. Salah satu aspek yang terkait atau ikut mempengaruhi
kematangan karier antara lain adalah efikasi-diri. Bukti hasil temuan
menunjukkan bahwa efikasi-diri yang tinggi pada siswa berkait dengan tingginya
kematangan karier siswa.
Kata Kunci : Efikasi-diri, Kematangan Karier
Keberhasilan siswa dalam membuat
keputusan karier ternyata dipengaruhi oleh banyak faktor. Krumboltz untuk itu
secara lebih sistematis membuat 4 (empat) kategori, kemudian ditambah lagi
dengan 3 (tiga) kategori yang berpengaruh secara relevan terhadap
pengambilan-keputusan-karier (PKK) (Krumboltz
dan Mitchel dalam Brown, 1987), (lihat gambar 2.1).
Gejala-gejala yang sementara ini muncul di SMA ternyata mendukung pendapat
Krumboltz tersebut. Gejala tersebut antara lain berupa; efikasi-diri sebagai
generalisasi observasi-diri, prestasi sebagai hasil dari belajar, pemrosesan
informasi dari model sebagai pengalaman belajar, pengumpulan informasi dan
penentuan sumber informasi yang paling dipercayai, akurat serta relevan sebagai
ketrampilan pendekatan tugas dan pembuatan keputusan karier.
Pengambilan-keputusan
karier (PKK) yang optimal untuk mewujudkannya
diperlukan keyakinan-diri bahwa seseorang akan mampu melakukan apa yang menjadi
pilihannya. Keyakinan-diri --bahwa kalau ia mau melakukannya pasti ia-- mampu melakukan
suatu perbuatan tertentu merupakan
kekuatan awal untuk berani memulai melakukan sesuatu (perbuatan). Hal itu akan
timbul apabila individu telah mengetahui dan memahami -yang diperoleh dengan
belajar (pengalaman dan latihan) apa yang akan dilakukannya. Rasa
ampuh-diri yang timbul itulah pada
gilirannya
1
2
nanti akan menjadi perantara bagi timbulnya tingkah-laku baru dimasa
yang akan datang, termasuk dalam tingkah-laku pengambilan-keputusan karier (PKK). Oleh karena itu Teori Belajar Sosial mengatakan bahwa,
kepribadian dan tingkah laku orang itu lebih merupakan hasil belajar daripada
hasil pembawaan dari lahir (Munandir,
1986 : 97). Rasa ampuh-diri juga
merupakan bentuk kepribadian sebagai hasil belajar, dan rasa ampuh-diri ini
oleh Bandura dikatakan sebagai efikasi-diri (ED).
Bandura mengemukakan istilah efikasi diri sebagai faktor
yang berpengaruh bagi tingkahlaku
individu, bagi pemilihan kegiatan yang akan dijalani. Efikasi-diri merupakan keyakinan individu
bahwa ia akan dapat berhasil menjalankan tingkah-laku yang diperlukan agar
dapat membuahkan akibat tertentu. Bagi siswa SMA keyakinan untuk dapat
menjalankan perilaku tertentu begitu penting artinya, agar ia dapat memilih
kegiatan yang akan dijalaninya. Penentuan jurusan/ program studi merupakan
kegiatan yang akan dijalani oleh setiap siswa SMA sebagai salah satu dari
kegiatan pengambilan-keputusan-karier
(PKK), dan siapnya individu di dalam mengenali serta mengatasi masalah
pekerjaan dikatakan bahwa dia sudah sampai pada kematangan karier.
Kematangan-Karier (KK)
Karier diartikan sebagai urutan okupasi-okupasi, job,
dan posisi-posisi yang diduduki sepanjang pengalaman kerja seseorang (Tolbert, 1974 : 28). Pengalaman kerja
itu dapat meliputi posisi-posisi pada pra dan pasca vokasional, seperti
siswa-siswa yang melakukan persiapan kerja dan orang-orang pensiun atau ganti
peranan baru (Crites, 1969 : 3). Individu
sebelum bekerja sebenarnya telah membuat keputusan karier. Sepanjang hidupnya
individu bahkan selalu melakukan keputusan karier, termasuk keputusan ketika dia
mencapai jenjang klas X SMA dalam menentukan pilihan jurusaan / program studi
pada saat kenaikan kelas. Ginzberg
menegaskan bahwa pemilihan pekerjaan adalah suatu proses pengambilan keputusan
seumur hidup dalam mana individu secara tetap mencari untuk menemukan
3
kecocokan yang optimal antara tujuan karier dengan realita dunia
kerja (Ginzberg dalam Brown,1987 : 179). Pengambilan-keputusan-karier
oleh individu tentu saja dilakukan sesuai tahapannya yang berkaitan dengan
usianya.
Siswa SMA dengan rentangan usia 17 th - 19 th terletak
dalam salah satu tahap tertentu. Usia antara 17th - 19 th menurut Super adalah tahap eksplorasi, terutama
sub tahap tentatif (Brown, 1987 : 201
- 202), atau disebut juga sebagai tahap transisi (Ginzberg dalam Brown,
1987 : 174) dengan tugas utama berupa kesiapan melakukan pilihan karier secara
realistis. Pilihan karier yang realistik ini sangat ditentukan oleh tingkat
kematangan karier siswa. Kematangan karier dimaksud menurut Super (1974: 8)
ditandai oleh siapnya individu dalam mengenali dan mengatasi masalah pekerjaan.
Kematangan karier (KK) menurut Super dan Bachrach (dalam
Crites, 1969 : 84) serta Herr dan Cramer
(1984 : 127 -129) dipengaruhi baik secara langsung atau tidak langsung oleh
faktor lingkungan yang berupa sistem sosial budaya dimana seseorang berada, dan
secara langsung oleh faktor pribadi dari dalam diri orang itu sendiri. Keputusan-karier
(Page., Thomas., & Marshal.,
1978) merupakan suatu ketrampilan atau kemampuan yang diartikan sebagai
aktivitas mental dan fisik yang sistematis dan terkoordinasi yang
pembentukannya melalui latihan atau kegiatan. Ketrampilan-ketrampilan pilihan-karier
dapat dipelajari secara sistematis (George
dan Cristiani., 1990 : 224), karena
kematangan karier adalah daerah yang siap dijangkau proses belajar yang
kompleks mulai dari awal masa kanak-kanak dan terus menerus sepanjang hidup (Herr dan Cramer dalam George dan Cristiani., 1990 : 225). Dengan demikian
pengambilan-keputusan-karier merupakan suatu ketrampilan yang dapat dipelajari
atau diajarkan kepada individu. Melalui suatu pembelajaran, maka
pengambilan-keputusan-karier dapat ditingkatkan kualitasnya sehingga membuahkan
hasil yang semakin sempurna, baik dalam hal sikap maupun kompetensi.
Kematangan-karier (KK) bagi siswa SMA mempunyai makna
yang sangat besar, karena menentukan sekali bagaimana alur kariernya di masa
yang akan datang. Pentingnya permasalahan tersebut semakin dirasakan khususnya
ketika siswa berada pada menjelang kenaikan kelas XI, walaupun permasalahan
karier itu sendiri sebenarnya merupakan proses yang ada sebelum siswa menginjak
kelas XI SMA.
4
Permasalahan karier pada siswa kelas X SMA terjadi
karena pada masa menjelang kenaikan kelas ini siswa mulai dihadapkan pada suatu
situasi pilihan “spesialisasi” dimana diharapkan siswa membuat keputusan
pilihan yang tepat yaitu kesesuaian antara bidang kajian yang akan ditekuni di
kelas XI dengan minat dan kemampuannya. Hal yang demikian sedikit-banyak tentu
akan berpengaruh pada pengambilan-keputusan-karier di masa mendatang yakni
melanjutkan belajar ke perguruan tinggi (dan memilih fakultas dan jurusan tertentu) atau harus terjun ke masyarakat memasuki
lapangan pekerjaan. Bagi siswa yang
ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka akan dihadapkan pada masalah
program studi apakah yang paling tepat untuk dimasuki dengan segala
konsekuensinya, ke jenjang S 1 atau
cukup ke jenjang Diploma. Siswa yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi,
masalah yang dihadapi adalah jenjang pekerjaan apa yang tersedia bagi lulusan
SMA? Apakah tersedia faktor pendukung
bagi pilihan kerja yang telah diputuskan?
Lebih dari itu -baik bagi yang
melanjutkan ke perguruan tinggi atau yang memilih untuk memasuki dunia kerja,
keyakinan atau rasa percaya-diri terhadap kemampuannya merupakan faktor yang
tidak kalah penting di dalam menentukan pilihan karier.
Pilihan-karier sebagai suatu fungsi dari kematangan
karier, prosesnya dapat diketahui melalui pemahaman teori-teori dan model-model
pengambilan-keputusan-karier (PKK). Banyak teori dan model PKK yang dikemukakan
oleh para ahli, salah satunya adalah model PKK yang dikemukakan oleh Krumboltz
dengan teori belajar-sosial-nya. Krumboltz
dalam teorinya, menyatakan bahwa
proses pengambilan-keputusan-karier secara garis besar dipengaruhi oleh empat kategori, yaitu; (1) sumbangan genetik
dan kemampuan khusus, (2) kejadian-kajadian dan kondisi-kondisi lingkungan, (3)
pengalaman belajar, dan (4)
ketrampilan-ketrampilan pendekatan
tugas. Disamping itu, terdapat juga faktor-faktor lain yang berpengaruh secara
relevan terhadap pengambilan-keputusan-karier (PKK), yaitu; (5)
generalisasi-generalisasi observasi-diri (SOG),
(6) generalisasi-generalisasi pandangan-dunia, (7)
ketrampilan-ketrampilan pendekatan tugas dan pengambilan-keputusan-karier (PKK)
(Krumboltz dan Mitchel dalam Brown, 1987).
5
Krumboltz mengemukakan teori yang dikenal dengan teori
belajar-sosial. Dalam hal pengambilan-keputusan-karier, teori belajar Krumboltz
merupakan perkembangan teori belajar-sosial secara umum terhadap tingkah-laku,
yang mana selalu dikaitkan dengan karya (teori) Albert Bandura (Krumboltz dan Mitchell dalam Brown,
l987). Teori Belajar Sosial Albert Bandura membedakan antara belajar dan
unjuk perbuatan (performance) atau tingkah-laku. Bandura (1977 b [dalam Gredler,
1986 : 234]) karena itu mengajukan hubungan timbal balik yang terus menerus
yang terjadi antara faktor-faktor penentu pribadi dan lingkungannya, untuk
menjelaskan fungsi-fungsi psikologi. Dikemukakan lebih lanjut, bahwa ciri-ciri
fisik seperti penampilan yang atraktif, ras, perawakan, jenis kelamin, dan
atribut-atribut sosial mengaktifkan reaksi-reaksi lingkungan yang berlainan.
Hal yang penting menurut Bandura
(1971a [dalam Gredler, 1986: 247])
ialah bahwa tingkah-laku atau unjuk perbuatan si belajar itu dibimbing oleh
proses kognitif daripada dibangun atau dibentuk oleh perbuatan yang memperoleh
penguatan. Ada
empat proses yang berpengaruh pada
belajar dan unjuk perbuatan (Bandura,
1971 a, 1977 b), yaitu atensi, retensi,
produksi motorik, dan motivasi. Disamping itu menurut Bandura (1982 [dalam Gredler,
1986: 250]) agar tingkah-laku dapat terlaksana dengan baik, diperlukan dua komponen
lain yaitu efikasi-diri, dan regulasi diri.
Bandura (1977, 1982, 1986) ternyata telah menerapkan teori efikasi-diri
ini untuk Pengambilan-Keputusan-Karier
(PKK). Pada tahun 1977, Bandura
telah mengemukakan hipotesa berupa sebuah hubungan langsung antara
ekspektasi-ekspektasi efikasi-diri dan penampilan secara tingkah-laku (Luzzo, 1993). Dalam hal ini tingkah-laku
tersebut antara lain dimaksudkan sebagai tingkah-laku dalam mengambil keputusan
karier (PKK).
Krumboltz dalam teori kerjanya memang banyak terkait
oleh apa yang dikemukakan Bandura. Itulah sebabnya apa yang dikemukakan oleh
Bandura, “digunakan juga” oleh Krumbolt. Sebagai contoh seperti
ciri-ciri fisik (antara lain ; penampilan yang atraktif, ras, jenis kelamin)
yang dikemukakan oleh Bandura, digunakan oleh Krumboltz walau dengan istilah
lain, yaitu sumbangan genetik.
6
Contoh lainnya adalah istilah efikasi diri yang “diambil” Krumboltz
dari teorinya Bandura, sebagai faktor yang ikut berpengaruh dalam
pengambilan-keputusan-karier. Tentu saja banyak terdapat faktor-faktor yang
mempunyai hubungan dan berpengaruh terhadap pengambilan-keputusan-karier (PKK).
Untuk lebih memperjelas tentang beberapa faktor yang mempengaruhi
PKK, dapat dilihat pada gambar 2.1, berikut :

1. Sumbangan genetik dan
2. Kejadian-kejadian dan
kemampuan khusus.
kondisi lingkungan
- r a s
- kekuatan sosial
- jenis kelamin
- kekuatan kultural
- penampilan dan
- kekuatan politik
karakteristik fisik.
- kekuatan ekonomi
- inteligensi
- kekuatan alamiah;
- kemampuan musik
+ bencana alam
- kemampuan artistik
+ lokasi sumber alam
3. Pengalaman belajar
7. Ketrampilan pendekat-
- instrumental
an tugas dan pembuat-
- assosiatif
an
keputusan karier :
- yang
berkaitan dng:
- mengenali situasi
pengalaman indi
keputusan yg penting
vidu
lain (Pemroses
- mendefinisikan
kptsn
an
informasi dari
atau mengatur tugas
- menguji
serta menilai
4. Ketrampilan
pendekat-
P K K
secara akurat obser-
an tugas vasi diri generalisasi
Hasil dari interaksi
pandangan
terhadap
antara
dunia
- pengalaman belajar
- generalisasi secara
- karakteristik genetik
luas thd bermacam
- kemampuan
khusus
alternatif
- pengaruh lingkungan
- mengumpulkan
infor
masi
yang dibutuhkan
5. Generalisasi observa
tentang alternatif
si diri (SOG)
- menentukan sumber
- efikasi tugas:
informasi yg paling
- minat
dipercayai, akurat,
- nilai-nilai personal dan relevan.
- merencanakan dan
6. Generalisasi pandangan melaksanakan urut-
terhadap dunia
an TL pengambilan
- generalisasi
terhadap
keputusan
bermacam-macam
pe
kerjaan
yang ada.
Gambar 2.1
: Faktor-faktor yang mempengaruhi
pengambilan-keputusan-karier
(PKK) (diringkas dari Krumboltz dan Mitchell dalam Brown,
1987).
7
Berdasarkan gambar 2.1 dapat dikemukakan bahwa, seseorang
mengambil keputusan karier karena ia terlibat dalam berbagai perilaku yang
mengarah ke suatu karier (Mitchell &
Krumboltz, 1987). Beberapa
perilaku pengambilan-keputusan-karier antara lain; bersekolah serta memasuki
program latihan, melamar pekerjaan, peningkatan pekerjaan, berubah jabatan atau
memasuki pekerjaan baru. Dasar pelaksanaan perilaku tersebut menurut teori
belajar adalah munculnya minat akibat dari generalisasi pengamatan diri (Generalisasi
Observasi Diri / SOG) yang berasal dari pengalaman belajar sebelumnya.
Interaksi dari pengalaman belajar, sifat-sifat bawaan, kemampuan khusus dan
pengaruh lingkungan menghasilkan ketrampilan pendekatan tugas yang sangat
penting dalam pengambilan keputusan karier (Mitchell &
Krumboltz, 1987). Ketrampilan
yang dimaksud meliputi : (1) mengenal
situasi keputusan yang penting, (2) menetapkan keputusan atau tindakan yang
dapat dikelola dan realistik, (3) memeriksa dan menilai secara cermat dan tepat
generalisasi observasi diri dan generalisasi pandangan atas dunia, (4) menyusun
alternatif-alternatif yang luas dan beragam,
(5) mengumpulkan informasi yang diperlukan tentang
alternatif-alternatif, (6) menentukan
sumber informasi mana yang paling andal, cermat dan relevan, (7) merencanakan dan melaksanakan urutan dan
langkah-langkah pengambilan keputusan.
Pengambilan-Keputusan-Karier (PKK) merupakan perwujudan dari
pengembangan karier individu. Herr
& Cramer mengemukakan bahwa
teori-teori pengembangan karier secara khusus mendeskripsikan bagaimana
karier-karier itu direncanakan dan dipilih untuk jangka waktu yang lama (Herr & Cramer, 1988 [dalam Spokane, 1991 : 173] ), dan menimbulkan
konstruk-konstruk hubungan karier secara khusus (sebagai misal; kematangan
karier) untuk menerangkan kemajuan keberhasilan
melalui tingkat-tingkat keinginan (Spokane, 1991: 173 ). Kemampuan karier individu oleh Crites (1973 ; 1978 dalam Crites 1981) diungkap sebagai bagian
dari Inventori Kematangan Karier (Career
Maturity Inventory / CMI) yang digunakan untuk individu usia 15 tahun
keatas. CMI ini secara garis besar terdiri atas dua bagian (yaitu tes skala
sikap dan tes kemampuan). Komponen sikap, dibagi menjadi lima indikator, yaitu; (1) keterlibatan
(involment), (2) independensi (independence), (3) pengenalan / penyesuaian
(orientation), (4) ketegasan (decisiveness), dan (5) kompromi
8
(compromise). Sedangkan segi-segi kemampuan karier diukur melalui
beberapa indikator, yakni; (l) mengenal diri sendiri, (2) pengetahuan tentang
jurusan/program studi, (3) pemilihan suatu jurusan/program studi, (4)
langkah-langkah menuju ke suatu jurusan/program studi (melihat kedepan), dan
(5) apa yang seharusnya dilakukan.
Efikasi - Diri ( Self - Efficacy)
Effikasi-diri (ED) adalah keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu menampilkan
perilaku yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Bandura, 1977 ; 1977 b [ dalam Luzzo, 1993]). Karena itu ED, rasa
ampuh-diri, atau keampuhan diri meliputi adanya rasa mampu menguasai. Sebagai
contoh, seorang siswa yang memiliki rasa ampuh-diri atau ED yang kuat percaya
bahwa ia dapat memperoleh nilai yang tinggi pada mata pelajaran mata pelajaran
prasyarat agar ia masuk pada jurusan/ program studi yang dipilihnya.
Efikasi-diri (ED), merupakan salah satu dari tiga macam (dua lainnya adalah minat
dan nilai-nilai personal) Generalisasi-Observasi-Diri/
Self-Observation Generalizations (SOG) dalam teori Krumboltz.
Generalisasi observasi-diri (SOG) merupakan pernyataan oleh diri
sendiri yang mengandung penilaian atas kinerja diri, kinerja langsung nyata
atau kinerja pengganti (tak langsung), atau penilaian atas minat dan nilai diri
sendiri (Munandir, 1986 : 100). Generalisasi observasi-diri ini ditarik
sebagai hasil belajar --orang itu-- terus-menerus melihat dirinya, yaitu
sikapnya, ketrampilannya, dan menilai apa-apa yang dilakukan dan bagaimana
kinerjanya. Generalisasi ini juga mempengaruhi proses belajar berikutnya,
sedangkan bentuk generalisasi ini bisa tertutup (tidak dilahirkan, tidak
dinyatakan, dikatakan dalam hati), bisa juga dinyatakan secara terbuka.
Bandura (1977a [dalam luzzo,
1993]) pada awalnya mengarahkan ekspektasi efikasi-diri sebagai anggapan
kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuannya untuk dengan berhasil
menguasai tugas-tugas khusus secara tingkah-laku. Menurut Bandura (dalam Lent dan
Hackett, l987) ekspektasi - ekspektasi efikasi secara perseorangan adalah
kekritisan pada permulaan dan ketekunan penampilan tingkah laku di dalam
seluruh aspek pengembangan manusia. Lebih lanjut dikatakan bahwa
9
ekspektasi-ekspektasi efikasi-diri
rendah berkenaan dengan bidang tingkah-laku khusus yang berperan dalam
menjauhi suatu tingkah-laku, sehingga menampilkan tingkatan yang rendah dalam
bagian tersebut. Di bagian lain ekspektasi efikasi-diri tinggi kemungkinan
besar dapat menaikkan (mempertinggi) frekuensi tingkah-laku dalam suatu bagian
(domain) khusus dan oleh karena itu menampilkan tingkah-laku yang lebih sukses.
Menurut Super, tingkah-laku (T)
merupakan wujud (fungsi) konsep
diri (Super dalam Brown, 1987). Dengan demikian
tingkah-laku (T) yang sukses merupakan buah dari ketepatan penerapan dan
pengembangan konsep diri, dimana konsep diri itu sendiri merupakan hasil
interaksi bakat, perubahan fisik, kesempatan menjalani berbagai peran, dan
evaluasi yang seluas-luasnya. Sedangkan Bandura
(1978 dalam Gredler [ 1986 : 239])
mengajukan hubungan segitiga yang saling berkaitan antara tingkah-laku (T), lingkungan
(L), dan kejadian internal yang mempengaruhi persepsi dan tindakan
(P). Bandura (1974) mengemukakan
bahwa lingkungan adalah fungsi tingkah-laku [ L = f (T) ] dengan perantaraan berbagai faktor
pribadi seperti seleksi peristiwa yang akan diobservasi dan bagaimana peristiwa
itu dipersepsi dan dipertimbangkan. Untuk lebih jelasnya hubungan
segitiga itu dapat dilihat sebagaimana gambar 3
(P)
influence
behavior as
attractiveness, race, size,
sex, and social attributes
activate different environmental
Behavior is often evaluated Differential social treatment
environmental feedback,
self-conceptions.
thereby altering
personal impressions.
(B)
(E)
Behavior activates Activated contingencies can
environmental contingencies alter
intensity or direction
of
activity
Gambar 3 : Hubungan segitiga antara lingkungan, faktor
pribadi dan tingkahlaku.
(diringkas dari
Bandura, 1978 dalam Bell-Gredler, 1986:
240)
10
Efikasi-diri dikemukakan sebagai salah satu istilah dalam Teori Belajar Sosial Bandura yang dimaksudkan sebagai keyakinan
bahwa orang dapat berhasil menjalankan tingkah-laku yang diperlukan untuk
membuahkan akibat tertentu (Bandura,
1977b dalam Gredler [1986 : 250]).
Oleh karena itu efikasi-diri meliputi adanya rasa mampu untuk menguasai (suatu
tingkah-laku). Bandura (1982 : 123)
lebih lanjut menyatakan bahwa efikasi-diri mempengaruhi tingkah-laku paling
kurang dalam tiga hal, yaitu : (1) pemilihan kegiatan yang akan dijalani, (2)
mutu unjuk kerja individu, dan (3) kegigihan dalam menghadapi tugas-tugas yang
sulit. Efikasi diri juga membantu orang melawan kegagalan. Orang yang tidak
memiliki efikasi-diri biasanya akan terus menerus memikirkan kekurangan dirinya
dan percaya bahwa halangan yang mungkin timbul itu sesuatu yang menakutkan.
Kualitas performansi dan kegigihan individu dalam
menghadapi tugas-tugas sulit juga dipengaruhi oleh kepercayaan akan keampuhan diri (ED). Penelitian yang
menyelidiki perkembangan dan penerapan tingkah-laku menunjukkan bahwa rasa
ampuh-diri seperti yang dipersepsi individu merupakan faktor penting bagi
terjadinya perubahan tingkah-laku untuk jangka panjang (Bandura, 1982 : 131).
Individu yang tinggi efikasi-diri-nya
(ED) segera kembali menerapkan kontrol-diri setelah tahu bahwa ia kambuh -- dalam
menghadapi tugas-tugas sulit atau tugas-tugas yang pernah gagal
dikerjakannya--, sedangkan yang kurang efikasi dirinya akan kambuh terus,
sehingga dalam hal ini ia akan terus larut dalam perasaan malas, dan tugas yang
menjadi tanggungjawabnya-pun tidak akan pernah terselesaikan.
Efikasi-diri (ED) menurut Bandura
mengandung dua dimensi yaitu : efficacy
expectancy (ekspektansi-efikasi), yakni keyakinan individu bahwa dirinya
mampu menampilkan perilaku tertentu yang diperlukan untuk mencapai tujuan
tertentu; dan outcome expectancy
(ekspektansi keluaran), yakni keyakinan seseorang bahwa perilaku yang
ditampilkan itu dapat mengantarkan kepada tercapainya tujuan yang
diinginkan (Sanna, 1992: 774).
Dengan demikian efikasi-diri seseorang memiliki pengaruh penting
terhadap pola-pola berfikir, afektif, dan perilakunya.
11
Efikasi-diri mempengaruhi tingkah-laku karena menurut Bandura, efikasi-diri mempengaruhi pilihan, permulaan, upaya,
ketekunan, dan karena itu dapat meningkatkan prestasi penampilan (Bandura, 1977: 194). Apalagi ekspektasi
efikasi adalah faktor yang sangat
menentukan aktivitas pilihan orang-orang, berapa banyak usaha yang dilakukan
yang akan mereka curahkan, berapa lama mereka dapat menyokong upaya dalam
menghadapi situasi yang penuh tekanan (Bandura, 1977:194; Sanna, 1992:774).
Betz & Hacket (1981) adalah
orang yang pertama kali menegaskan tentang pentingnya ekspektasi-ekspektasi efikasi-diri dalam pengambilan-keputusan-karier ( Betz
& Hacket dalam Isaacson &
Brown, 1993 : 341). Taylor & Betz
(1983 [dalam Luzzo, 1993])
mengembangkan Skala Efikasi-Diri
Pengambilan- Keputusan-Karier (SED PKK) untuk mengukur
ekspektasi-ekspektasi efikasi-diri seseorang sebagai arahan untuk tugas-tugas Pengambilan-Keputusan-Karier (PKK) dan
tingkah-laku tingkah-laku (TL). Item-item
pada SED PKK ini didapatkan dengan menyeleksi konstruk kematangan karier Crites (1965, 1971 [dalam Luzzo, 1993]), dengan perhatian khusus
dalam model Crites dari komponen
affektif kematangan karier dan penilaian sikap-sikap masing-masing orang
terhadap proses PKK. Taylor & Betz (1983)
dalam investigasinya pada mahasiswa-mahasiswa S1 (College undergraduates)
menemukan hubungan ekspektasi antara efikasi-diri PKK mahasiswa dan keraguan
karier. Dilaporkan bahwa pada partisipan-partisipan yang secara umum
mengalami.keraguan, maka keyakinannya juga kurang di dalam kemampuannya
terhadap tugas-tugas secara komplit pada PKK. Dengan kata lain
mahasiswa-mahasiswa yang mengalami kebingungan (keraguan), secara relatif
rendah tingkat efikasi-diri PKK-nya.
Keterkaitan Efikasi-Diri
(ED) dengan Kematangan Karier (KK)
Ekspektasi Efikasi-Diri (ED) (Bandura, 1977a dalam
Luzzo, 1993) pada awalnya diarahkan sebagai anggapan kepercayaan diri seseorang
terhadap kemampuannya untuk dengan berhasil menguasai tugas-tugas khusus secara
tingkahlaku. Lebih lanjut Bandura (Lent dan Hackett, 1987) menyatakan bahwa
ekspektasi-efikasi secara perorangan adalah kekritisan pada permulaan dan
ketekunan penampilan tingkahlaku di dalam seluruh aspek pengembangan manusia.
12
Kemampuan menguasai tugas-tugas khusus dan penampilan
tingkahlaku tidak akan lepas dari kematangan karier. Sehubungan dengan itu Herr
dan Cramer (Herr dan Cramer, 1984) menyatakan bahwa kematangan karier itu
ditunjukkan oleh cara orang muda berurusan dengan pilihan pekerjaan. Pilihan
pekerjaan atau pengambilan-keputusan-karier disini terlihat sebagai fungsi dari
kematangan karier, dan tidak dapat diungkiri bahwa cara untuk berurusan dengan
pilihan pekerjaan itu tidak dapat dipisahkan dari keyakinan diri seseorang akan
kemampuannya untuk menjalani pilihan karier/pekerjaan yang diinginkan; yang
dalam hal ini adalah pilihan jurusan/program studi.
Siswa yang merasa yakin bahwa pilihan jurusan/program studi yang
diaa ambil akan membawa kesuksesan bagi dirinya, maka dia tidak akan ragu-ragu
untuk memilih jurusan tersebut. Dengan demikian ia telah mempunyai kematangan
vokasional. Sebagaimana dikemukakan oleh Herr dan Cramer (Herr dan Cramer,
1984) yang menyatakan bahwa kematangan karier sebagai kematangan vokasional.
Uraian yang dikemukakan terdahulu dapat dirangkai dalam
simpulan bahwa Efikasi-Diri (ED) berhubungan dengan
pengambilan-keputusan-karier sebagai fungsi dari kematangan karier. Krumboltz (Krumboltz dan Mitchell dalam Brown,
1987), telah menyatakan hal yang sejalan, bahwa efikasi tugas merupakan salah
satu (yang lainnya adalah minat dan nilai-nilai personal) dari Generalisasi
Observasi-Diri (SOG) yang mempengaruhi pengambilan-keputusan-karier.
Temuan di Lapangan
Teori efikasi-diri Bandura
(1977a, 1982, 1986 dalam Luzzo [1993])
ternyata telah diterapkan untuk pengambilan-keputusan-karier
(PKK). Diindikasikan melalui dukungan ahli-ahli psikologi (Cook, 1991; Lent &
Hackett, 1987) bahwa efikasi-diri patut memperoleh perhatian serius sebagai
variabel penting dalam tingkah-laku jabatan. Didalam suatu tinjauan secara
komprehensif mengenai riset efikasi-diri, Lent
& Hackett (1987) menganjurkan menambah dukungan empiris untuk
menerapkan teori efikasi-diri dalam ujud pengembangan karier secara kompleks.
13
Beberapa penelitian telah membuktikan adanya pengaruh
efikasi-diri (ED) terhadap pola-pola berfikir, afektif, dan perilaku; misalnya
saja pengaruh ED terhadap ketekunan akademik (academic persistance) (Lent dan Larkin, 1984), pengaruh ED
terhadap penampilan akademik (academic performance) (Multon
dan Brown,1993; dan Lent, 1986 ; Rangel, Church, Szendre, dan Reeves, 1990), serta pengaruh ED terhadap pertimbangan karier dan kemampuan
mengambil keputusan karier (Betz & Hacket, 1981; Lent dkk., 1986; Post-Kammer & Smith, 1985;
Luzzo, 1993). Temuan-temuan
penelitian itu semakin menguatkan dugaan bahwa efektifitas ED dapat
mempengaruhi pengambilan-keputusan-karier (PKK) siswa SMA.
Penelitian yang dilakukan luhur (2004) yang melibatkan 3 (tiga) variabel bebas, yang salah
satunya adalah efikasi-diri (ED) (dua
yang lain adalah prestasi belajar dan informasi karier) mengenai keterkaitannya
(hubungannya) dengan kematangan karier (KK),
yang dilakukan pada siswa SMA Negeri di Malang. Pada penelitian tersebut
terdapat temuan bahwa efikasi-diri (ED), prestasi belajar/rata-rata tingkatan
nilai (RTN), dan informasi karier (IK) secara bersama-sama mempunyai pengaruh
yang signifikan, dengan koefisien korelasi sebesar 0,613. Dengan kata lain
pengaruh efikasi-diri (ED), prestasi belajar/rata-rata tingkatan nilai (RTN),
dan informasi karier (IK) secara bersama-sama cukup kuat terhadap kematangan
karier (KK). Temuan lebih lanjut menyatakan bahwa 36,5 % variasi dari
kematangan karier bisa dijelaskan dari variasi ketiga variabel bebas (yang
salah satunya adalah efikasi-diri), sedangkan pengaruh lain sebesar 63,5 %
berasal dari variabel yang tidak dilibatkan dalam penelitian. Sercara sendiri,
efikasi diri (ED) berhubungan positif dan signifikan terhadap kematangan karier
(dengan r = 0,4045), dan mempunyai kontribusi efektif
Saran-saran
Berdasarkan
uraian yang sudah dikemukakan, maka diajukan saran-saran sebagai berikut :
1.
Untuk para pengelola sekolah (Kepala Sekolah dan Guru)
disarankan agar melakukan upaya-upaya untuk dapat menaikkan Efikasi-Diri siswa
melalui peningkatan mutu sekolah yang muaranya diharapkan dapat meningkatkan
kualitas pengambilan-keputusan-karier siswa.
14
2.
Agar Guru Pembimbing membuat program untuk mempertinggi
Efikasi-Diri siswa antara lain melalui pemberian penjelasan atau
pelatihan-pelatihan dengan materi-materi misalnya; bagaimana memilih suatu
kegiatan yang akan dijalani, bagaimana menampilkan unjuk kerja yang baik, dan
bagaimana individu hendaknya pantang menyerah atau harus gigih dalam menghadapi
situasi sesulit apapun.
3.
Perlu lebih sering diadakan pemantapan kepada Guru BK
mengenai proses bimbingan karier secara terus menerus dan sistimatis, melalui
penataran-penataran atau pelatihan-pelatihan.
4.
Agar para siswa sedini mungkin diberikan suatu
pemantapan mengenai Pengambilan-Keputusan-Karier dalam suatu program yang
sistematis dan terencana. Pemantapan ini mencakup antara lain pola persiapan
dan struktur pengambilan-keputusan-karier, dalam hal ini adalah proses
pemilihan jurusan dengan klasifikasi berbagai jurusan yang harus diinformasikan
kepada siswa. Informasi ini hendaknya dilakukan secara terus menerus
disesuaikan dengan karakteristik perkembangan, baik masa sekarang maupun masa
yang akan datang khususnya yang berhubungan dengan sumber daya manusia yang
sesuai dengan globalisasi dan tuntutan pasar bebas, juga dengan pola
pembangunan nasional yang dicanangkan
di Indonesia.
5.
Berkenaan dengan pengembangan program bimbingan karier,
disarankan kepada pengelola pendidikan untuk mengadakan kerjasama dengan berbagai
pihak, yaitu dengan pihak swasta dan pemerintah setempat melalui suatu program
terpadu. Hal ini diperlukan untuk kemudahan bagi siswa memperoleh informasi
dari tangan pertama dalam rangka perencanaan kariernya .
DAFTAR RUJUKAN
Bandura, A., (1974). Behavior theory and models of
man.American Psychologist, 29,
859-869.
Bandura, A. (1977a). Self-efficacy: Toward unifying
theory of behavioral change. Psychological
Review, 84 (2), 191-215.
-----,
(1982). Self-efficacy mechanism in human agency. American Psychologist, 37, 122-147.
Bandura, A., dan
Schunk, Dale, (1984). Enhancing
Self Efficacy and Achievement Through Rewards and Goals : Motivation and
Information Effects, (ed). The Journal of Educational Research, 76,
(1).
Betz, N.E.,
& Hackett, G
(1981). The relationship of
Career Related Self-efficacy Expectations to perceived Career Options in
College Men and Women. Journal of Counseling Psychology, 28,
399-410.
-----,
(1983). The relationship of mathematics self-efficacy expectations to
the selection of science-based college majors. Journal of Vocational Behavior, 23, 329-345.
-----,
(1987). Career choice and development. San Francisco, London: Jossey - Bass Publishers.
Brown, D.,
& Brooks, L
(1984). Career choice and development,
aplliying contempory theories to practice. San Francisco, California: Jossey - Bass.
Crites, J.O.
(1969). Vocational Psychology: The
Study of Vocational Behavior and Development. New
York: McGraw-Hill Book Company.
-----,
(1981). Career counseling: Models, methods and materials. New York: McGraw - Hill Book Company.
George, Rickey L., dan Cristiani, Therese S.,
(1990). Counseling Theory and Practice (Third
Edition). Boston
: Allyn and Bacon.
Gredler, Bel. M.E., (1986). Learning and Instruction Theory into Practice. New York : Macmillan Publishing Company.
Hackett, G., & Betz, N.E. (1981). A
self-efficacy approach to the career development of women. Journal of Vocational Behavior, 18, 326-339.
Herr, Edwin L., dan Cramer, S.H., (1984). Career Guidance and Counseling Through the
Life Span (Second Edition). Boston:
Little, Brown & Company.
15
16
Isaacson, Lee. E. dan Brown, Duane.,(1993). Career Information, Career Counseling, &
Career Development (Fifth Edition), Boston:
Allyn and Bacon
Krumboltz, J.D., (1994). The Career Beliefs
Inventory. Journal of Counseling
Development, March/April, 72, 424-428.
Krumboltz, J.D., dan Baker, R.D., (1973). Behavioral
counseling for vocational decision.
dalam H. Barrow (eds). Career Guidance for a New Age. Boston, Massachusets :
Houghton Mifflin, 235-284.
Lent, R.W., Brown, S.D., and Larkin, K.C. (1984). Relation of
Self-efficacy Expectation to Academic Achievement and Persistence. Journal of Counseling Psychology, 31,
(3), 356-362.
----- , (1986). Self-efficacy in the prediction of
academic performance and perceived career option. Journal of Counseling Psychology, 33, 265-269.
----- ,
(1987). Comparison of three theoretically derived variables in
predicting career and academic behavior : Self-efficacy, interest congruence,
and consequence thingking. Journal of
Counseling Psychology, 34, 293-298.
Lent, R.W., & Hackett, G. (1987). Career
self-efficacy : Empirical status and future direction [Monograph]. Journal of Vocational Behavior, 30, 347-382.
Luzzo, Darel, A.,(1993). Value of
Career-Decision-Making Self-efficacy in Predicting Career-Decision-Making
Attitudes and Skills. Journal of
Counseling Psychology, 40, (2),
194-199.
Multon, K.D., and
Brown, S.D., (1993). Relation of Self-Efficacy Belief to Academic
outcome: A Meta Analitic Investigation. Journal of Counseling Psychology, 37,
407-418.
Munandir. (1986).
Program bimbingan karier di sekolah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. DirJend Pendidikan Tinggi Proyek Tenaga Akademik
Post Kammer, P., and Smith, P.L., (1985).
Sex Differences in Career Self-Efficacy, Consideration, and Interest of
Eight and Ninth Graders. Journal of
Counseling Psychology, 32, 551-559.
Rangel,
Bores, E., Church, Timothy. A.,
Szendre, Dottie., Reeves, Carolyn
(1990). Self-Efficacy in Relation
to Occupational Consideration and Academic Performance in High School
Equivalency Students. Journal of Counseling Psychology, 39,
498-508.
Wicaksono, Luhur., (2004). Hubungan
antara Efikasi-Diri, Prestasi Belajar, dan Informasi Karier dengan Kematangan
Karier. Malang Fakultas Pascasarjana
IKIP Malang, Tesis
(tidak diterbitkan).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar