Selasa, 10 Januari 2017

KOMUNIKASI SEBAGAI BAGIAN PENTING DALAM LANGKAH-LANGKAH KONSELING



                 

KOMUNIKASI SEBAGAI BAGIAN PENTING

DALAM LANGKAH-LANGKAH KONSELING

Luhur Wicaksono
FKIP-UNTAN
www.luhurwicaksono@yahoo.com   No. Hp.085252585878

Abstrak : Komunikasi merupakan bagian penting pada pelaksanaan kegiatan Konseling. Dalam sejarahnya, komunikasi sudah ada sejak awal kehidupan manusia dan merupakan sarana untuk menyampaikan pesan kepaa orang lain, melalui bahasa sinyal, bicara, tulisan, gerakan, dan penyiaran. Berbagai paradigma menjadi landasan ilmiah bagaimana komunikasi dipahami sebagai suatu ilmu. Komunikasi baik dalam bentuk verbal maupun non verbal, menjadi bagian yang penting dalam langkah-langkah konseling, baik dalam membangun hubungan, peng-identifikasian problem, maupun dalam penutupan konseling.

Kata kunci : komunikasi, langkah-langkah konseling.

A.    PENDAHULUAN

Komunikasi yang dalam bahasa Inggris disebut dengan Communication sebenarnya berasal dari bahasa latin “Communicare”, dmana artinya adalah berbicara bersama, berunding, berdiskusi serta berkonsultasi satu sama lain. Communicare merupakan kata yang berkaitan erat dengan kata latin lainnya yaitu “communitas” yang berarti kesatuan dalam masyarakat, ikatan pertemanan, serta hubungan antara orang-orang satu dengan  yang lain.
Komunikasi merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia dalam menjalani kehidupannya untuk berinteraksi.Komunikasi merupakan hal yang pasti dilakukan dalam kehidupan, baik oleh manusia bahkan hewan.Manusia pada fase bayi-pun sudah melakukan komunikasi, seperti ketika menangis sebagaitanda bahwa ia sedang lapar atau tidak nyaman. Maka jelaslah bahwa komunikasi adalah hal penting yang harus dipelajari dan dipahami.
Bentuk dan ekspresi komunikasi ada berbagai ragam, dan bisa ditafsirkan pula  dengan banyak penafsiran. Ketika seseorang tersenyum maka itu dapat ditafsirkan sebagai suatu kebahagiaan.Saatseseorang cemberut maka dapat ditafsirkan bahwa ia sedang ngambek. Jika dalam sebuah dialog, seseorang diam (tidak bicara), itu bisa diartikan setuju, malu, segan, marah, takut, atau bahkan malas atau bodoh. Diam bisa diartikan setuju sebagaimana dilakukan nabi Muhammad saw. yaitu ketika melihat ada seorang sahabat yang menggosok giginya ketika berwudhu, ini menunjukkan bahwa beliau setuju dengan apa yang dilakukan sahabat tadi namun tidak dengan penegasan melalui ucapan. Seseorang yang sedang dalam keadaan diam dan sendirian, kemungkinan dia sedang berkomunikasi dengan dirinya sendiri.Secara implisit semua perilaku manusia dapat memiliki makna yg akhirnya bernilai komunikasi.


1
2

Perilaku manusia/individu dalam proses konseling tidak bisa dilepaskan dari makna komunikasi.Konselor dalam komunikasi bisa dikatakan sebagai komunikator (orang yang menyampaikan pesan), sedangkan konseli/klien (orang yang menerima pesan) bisadisebut dengan komunikan.Namun pada kondisi tertentu dalam proses konseling, bisa juga terjadi konseli menjadi komunikator dan konselor menjadi komunikan, terutama ketika konseli berusaha mengungkapkan apa yang dirasakannya.
B.     KOMUNIKASI DALAM LANGKAH-LANGKAH KONSELING
1.      Komunikasi
a)      Pengertian  Komunikasi
Komunikasi sebagai kata benda (noun),communnication, berarti : (1) Pertukaran simbol, pesan-pesan yang sama dan informasi, (2) Proses pertukaran antara individu melalui sistem simbol-simbol yang sama, (3) Seni untuk mengekspresikan gagasan, (4)Ilmu pengetahuan tentang pengiriman informasi.
Komunikasi juga dibahas oleh beberapa ahli dengan mengungkapkan beberapa pengertian.Wilbur Schram (dalam wicaksono, dkk, 2016) dalam “How Communication Work” mengatakan bahwa komunikasi berasal dari bahasa latin, yaitu communio atau common, yaitubilamana seseorang/individu mengadakan komunikasi itu berarti membagikan informasi agar si penerima maupun si pengirim sepaham atas suatu pesan tertentu. Sedangkan William Albig (dalam wicaksono, dkk, 2016) mengatakan bahwa komunikasi adalah proses pengoperan lambang-lambang yang berarti antara individu. Selanjutnya Bennard Berelson dan Gary A. Steinner (dalam wicaksono, dkk, 2016) mendefinisikan komunikasi sebagai tindakan atau proses transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya.
Dari beberapa pengertian di atas ada tiga nilai komunikasi:
1)   Proses membagikan/transmisi/pengoperan informasi
2)   Informasi berupa lambang, gambaran -> jadi stimulans.
3)   Lambang-lambang sebagai pesan, yang berisikan gagasan, emosi, ketrampilan, dan sebagainya.
4)   Perpaduan antara penerima dan pengirim pesan

b)     Sejarah Komunikasi
Komunikasi pada awal kehidupan di dunia, digunakan sebagai cara untuk mengungkapkan kebutuhan organisme.Sinyal-sinyal kimiawi pada organisme awal digunakan untuk reproduksi. Seiring dengan evolusi kehidupan, maka sinyal-sinyal kimiawi primitif yang digunakan dalam berkomunikasi juga ikut berevolusi dan membuka peluang terjadinya perilaku yang lebih rumit seperti tarian kawin pada ikan.
Komunikasi pada binatang, selain untuk kebutuhan seks, juga dilakukan sebagai cara untuk menunjukkan keunggulan, biasanya dengan sikap menyerang. Munurut sejarah evolusi sekitar 250 juta tahun yang lalu munculnya "otak reptil" menjadi penting karena otak memungkinkan reaksi-reaksi fisiologis terhadap kejadian di dunia luar yang kita kenal
3

sebagai emosi. Pada manusia modern, otak reptil ini masih terdapat pada sistem limbik otak manusia, dan hanya dilapisi oleh otak lain yang mempunyai "tingkat tinggi".
Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman melalui bentuk umum komunikasi manusia berupa bahasa sinyal, bicara, tulisan, gerakan, dan penyiaran.Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain.Komunikasi dapat berupa interaktif, transaktif, bertujuan, atau tak bertujuan. Keefektifan komunikasi tercapai apabila pesan yang disampaikan komunikator dapat ditafsirkan dengan artian yang sama oleh penerima pesan komunikan.
Komunikasi walaupun sudah dipelajari sejak lama dan termasuk “barang antik”, topik ini tetap menjadi penting khususnya pada abad 20 karena pertumbuhan komunikasi digambarkan sebagai “penemuan yang revolusioner”.Bukti-bukti tentang pertumbuhan komunikasi yang makin terlihat pada abad ini dalam bentuk meningkatnya teknologi komunikasi yang pesat seperti radio,televisi, telepon dan handphone (HP), satelit dan jaringan computer, seiring dengan industiralisasi bidang usaha yang besar dan informasi yang mengalami globalilasi.
Komunikasi dalam era ini telah menjadi suatu ilmu tersendiri yang menuntut adanya para pekerja yang profesional dengan landasan keilmuan yang mandiri.Tingkat akademik mungkin telah memiliki departemen atau fakultas sendiri, dimana komunikasi dibagi-bagi menjadi komunikasi masa, komunikasi bagi pembawa acara, humas dan lainnya, namun subyeknya akan tetap. Pekerjaan dalam komunikasi mencerminkan keberagaman komunikasi itu sendiri. Mencari teori komunikasi sebagai landasan keilmuan yang terbaik pun tidak akan berguna karena komunikasi adalah kegiatan yang lebih dari satu aktifitas. Masing-masing teori dipandang dari proses dan sudut pandang yang berbeda dimana secara terpisah para ahli mengacu dari sudut pandang mereka.

c)      Paradigma Komunikasi

Para ahli komunikasi membagi paradigma yang berbeda mengenai pemahaman landasan ilmiah komunikasi, sesuai dengan proses dan sudut pandang yang berbeda yang ingin mereka kemukakan. Perbedaan tersebut sebenarnya bukan menjadikan ilmu komunikasi terkotak-kotak, namun hal itu justru menguntungkan, karena masing-masing akan menjadi pelengkap serta memperluas wawasan dari komunikasi itu sendiri sebagai suatu bidang kelimuan. Efek dari hal itu adalah memperluas dan memperdalam bagi orang yang ingin belajar ilmu komunikasi. Dalam kaitannya dengan paradigma tersebut, para ahli membagi menjadi tiga, yaitu:

(1)   Paradigma Klasik
(a)    Filsafat sebagai akar ilmu komunikasi
Landasan ilmu komunikasi yang pertama menurut kesepakatan para ahli adalah filsafat. Filsafat melandasi ilmu komunikasi dalam domain ethos, pathos, dan logos dari teori Aristoteles dan Plato. Ethos merupakan komponen filsafat yang mengajarkan tentang pentingnya rambu-rambu normative dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang kemudian menjadi kunci utama bagi hubungan antara ilmu dan masyarakat. Pathos
4

merupakan komponen filsafat yang menyangkut aspek emosi atau rasa dalam diri manusia sebagai makhluk yang senantiasa mencintai keindahan, dan penghargaan. Dengan pathos  manusia berpeluang melakukan improvisasi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
Logos merupakan komponen filsafat yang membimbing para ilmuwan untuk mengambil suatu keputusan berdasarkan pemikiran yang bersifat nalar dan rasional. Ciri-ciri lagos adalah argument-argumen yang logis.
Komponen lain dari filsafat adalah komponen pikir, yang terdiri dari etika, logika, dan estetika, dimana komponen ini bersinergi dengan aspek kajian ontologi (ke-apa-an), epistemologi (kebagaimanaan), dan aksiologi (kegunaan atau kemanfaatan). Secara ontologis kebenaran hakiki dari komunikasi adalah perhubungan atau proses pemindahan dan pengoperan arti, nilai, pesan melalui media atau lambang-lambang apakah itu bahasa lisan, tulisan ataupun isyarat.
Komponen aksiologis, komunikasi adalah proses pemindahan pesan dari komunikator kepada komunikan. Komunikator (stimulus), memberikan rangsangan kepada komunikan. Sikap, ide, pemahaman, suatu pesan dapat dimengerti baik oleh komunikator maupun komunikan. Selanjutnya komponen epistemologis, bertujuan mengubah tingkah laku, dan mengubah pola pikir atau sikap orang lain, untuk dapat membangun kebersamaan, mencapai ide yang sama demi satu tujuan yang sama.

(b)   Psikologi sebagai akar ilmu komunikasi
Psikologi behaviorial merupakan aliran dalam disiplin ilmu psikologi yang banyak mempengaruhi lahirnya ilmu komunikasi. Terdapat enam pengertian komunikasi menurut para ahli behavioral dalam memahami komunikasi sebagai berikut:
(b.1) Komunikasi sebagai penyampaian perubahan energi dari suatu tempat ke tempat lain, seperti dalam sistem syaraf, atau penyampaian gelombang-gelombang suara,
(b.2) Komunikasi sebagai penyampaian atau penerimaan sinyal atau pesan oleh organisme,
(b.3) Komunikasi sebagai pesan yang disampaikan,
(b.4) Teori komunikasi sebagai sebuah proses yang dilakukan suatu sistem untuk mempengaruhi sistem yang lain melalui pengaturan sinyal-sinyal yang disampaikan,
(b.5) Komunikasi sebagai pengaruh satu wilayah seseorang pada wilayah orang lain, sehingga perubahan dalam satu wilayah seseorang tersebut menimbulkan perubahan yang berkaitan pada wilayah orang lain.
(c) Antropologi sebagai akar ilmu komunikasi
Antropologi dikenal sebagai suatu disiplin ilmu yang mempelajari manusia dan aspek kebudayaannya guna membangun suku bangsa yang ada. Dalam antropologi budaya, terdapat konsep yang relevan dengan komunikasi, yakni masalah simbol, bahasa, dan pemaknaan. Bahasa adalah kumpulan simbol paling penting dalam berbagai kultur.

(2)   Paradigma Kontemporer
(a)    Matematika sebagai akar ilmu komunikasi
Teori informasi dari Claude Shannon dan Warren Weaver, yang dimuat dalam buku The Mathematical Theory of Communication yang diterbitkan pada tahun 1949, merupakan awal dasri teori komunikasi. Warner J, Severin dan James W. Tankard Jr
5

kemudian mereduksi kembali dalam bukunya Communication Theories: Origins Methods Uses in The Mass Media. Teori informasi atau model matematis ini telah memberikan pengaruh yang kuat terhadap kemunculan teori-teori lain sesudahnya. Bahkan model Shannon and Weaver ini telah dijadikan sebagai dasar bagi berbagai bentuk komunikasi, yaitu komunikasi antarpribadi, komunikasi publik, dan komunikasi massa.

(b)   Fisika sebagai akar ilmu komunikasi
Para filsuf komunikasi menyepakati adanya dua aliran yang berkaitan dengan pandangan terhadap pemaknaan komunikasi. Aliran tersebut adalah aliran fisika dan aliran mental. Aliran fisika memandang pemaknaan sebagai unit (bagian) dari dunia fisika yang ada secara mandiri dari setiap aktivitas manusia. Sebagai contoh, pemaknaan dapat dipahami sebagai data, sikap, ataupun informasi. Aliran mental memandang pemaknaan hanya sebagai unit-unit dalam kesadaran utuh manusia, pemaknaan tersebut dipandang sebagai kesan, maksud, atau ide.

(c)    Biologi sebagai akar ilmu komunikasi
Manusia memiliki 46 kromosom dengan berjuta-juta gen yang susunannya melengkapi informasi. Kode genetik menentukan ciri-ciri, seperti warna kulit, rambut, mata, penyakit, dan keterlambatan mental, juga mempengaruhi skor IQ, dan lain sebagainya.

(3)   Paradigma Lasswell (Harold Dwight Lasswell)
Komunikasi dapat dipahami dengan menjawab pertanyaan: “Siapa berkata apa, dengan saluran yang mana, kepada siapa, dan dengan hasil/dampak apa ?” Berdasarkan hal tersebut, komunikasi mempunyai beberapa komponen, yaitu :
·       Siapa mengatakan ? (komunikator, pengirim atau sumber).
·       Apa ? (message: pesan, ide, gagasan).
·       Dengan saluran mana? (media channel dan sarana).
·       Kepada siapa ? (komunikan, penerima, alamat).
·       Dengan hasil/dampak apa? (effect -> hasil komunikasi).
Berdasarkan paradigma tersebut komunikator (siapa yang mengatakan) menjadi komponen yang pertama dengan pengaruh yang besar. Disebut komponen yang pertama karena pada setiap sistem komunikasi, dipastikan ada komunikator. Tidak akan terjadi komunikasi tanpa adanya komunikator. Komunikator mempunyai syarat-syarat tertentu agar komunikasi berjalan lancar. Salah satu syarat penting adalah status komunikator, baik sosial, ekonomi, ciri-ciri pribadi termasuk usia dan karakter, serta jam terbang (pengalaman). Komponen mesasage (apa pesan, ide, gagasan) akan mempunyai makna dalam komunikasi apabila bersinggungan dengan kehidupan komunikan. Pesan akan berarti apabila komunikator mempunyai posisi atau status yang lebih tinggi.
Media dan channel yang digunakan untuk menyampaikan pesan bisa berupa media elektronik dan non elektronik, ceramah atau tatap muka langsung. Pada jaman modern ini, informasi (pesan, ide, gagasan) bisa disampaikan dengan cepat melalui media
6

elektronik, bahkan melalui media elektronik ini manusia bisa ”bertatap muka” dalam berkomunikasi, walaupun jarak mereka berjauhan. Informasi dari sumber dari jarak yang jauh bisa diunggah saat itu juga melalui internet, ruang dan waktu tidak menjadi masalah dalam era globalisasi.   
Komunikan mempunyai persyaratan tertentu untuk terjalinnya komunikasi, antara lain: kedekatan emosi, ciri-ciri pribadi dan tingkat pendidikan. Komunikan merupakan penerima atau alamat kepada siapa pesan dari komunikator disampaikan. Oleh karena itu kedekatan emosi antara komunikator dan komunikan perlu dilakukan untuk membangun hubungan yaitu penciptaan keadaan yang kondusif, penghargaan timbal-balik, dan saling percaya, sehingga pesan bisa tersampaikan secara baik.
Hasil komunikasi atau dampak adalah perubahan tingkahlaku dari seseorang/ individu (komunikator, dan komunikan), baik dalam bentuk kognitif, afektif, maupun psikomotor. Dampak komunikasi dalam paradigma Lasswell dengan perubahan kearah yang lebih baik, dari yang tidak sesuai menjadi sesuai ini bila dikaitkan dengan konseling adalah merupakan tujuan akhir dari konseling.

d)     Karakteristik dan Fungsi Komunikasi
(1)    Karakteristik Komunikasi
Komunikasi merupakan upaya sebagai suatu proses atau serangkaian tindakan atau peristiwa yang terjadi secara berurutan, disengaja dan mempunyai tujuan (dilakukan dalam keadaan sadar). Partisipasi dan kerjasama dari para pelaku dituntut secara aktif agar kegiatan komunikasi dapat berlangsung dengan baik.
Aktifitas komunikasi akan berlangsung dengan baik, apabila pihak-pihak yang terlibat aktif berkomunikasi. Komunikasi yang demikian tersebut merupakan perwujudan dari karakteristik komunikasi, dengan beberapa sifatnya yaitu: simbolis, transaksional, dan menembus faktor ruang dan waktu. Komunikasi bersifat simbolis sebagai tindakan yang pada dasarnya dilakukan dengan menggunakan lambang-lambang, bersifat transaksional, dan menembus ruang dan waktu. Komunikasi bersifat transaksional yang pada dasarnya menuntut dua tindakan yaitu memberi dan menerima. Komunikasi menembus faktor ruang dan waktu, dimana komunikasi menembus faktor waktu dan ruang maksudnya bahwa para peserta atau pelaku yang terlibat dalam komunikasi tidak harus hadir pada waktu serta tempat yang sama.   
(2)   Fungsi Komunikasi
Komunikasi secara garis besar mempunyai dua fungsi, yaaitu fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi umum meliputi : (2.a) dapat menyampaikan pikiran atau perasaan,      (2.b) tidak terasing atau terisolasi dari lingkungan, (2.c) dapat mengajarkan atau memberitahukan sesuatu, (2.d) dapat mengetahui atau mempelajari dari peristiwa di lingkungan,  (2.e) dapat mengenal diri sendiri, (2.f) dapat memperoleh hiburan atau menghibur orang lain, (2.g) dapat mengurangi atau menghilangkan perasaan tegang, (2.h) dapat mengisi waktu luang, (2.i) dapat menambah pengetahuan dan merubah sikap serta perilaku kebiasaan, (2.j) dapat membujuk atau memaksa orang lain agar berpendapat bersikap atau berperilaku sebagaimana diharapkan.

7

Komunikasi dalam fungsinya secara khusus dapat dikemukakan sebagaimana diungkapkan Deddy Mulyana dalam bukunya Ilmu komunikasi suatu pengantar mengutip kerangka berpikir dari William I. Gorden mengenai fungsi-fungsi komunikasi yang dibagi menjadi empat bagian, yaitu : (a.1.a) fungsi komunikasi sosial, (a.1.b) fungsi komunikasi ekspresif, (a.1.c) fungsi komunikasi ritual, dan (a.1.d) fungsi komunikasi instrumental (Dedy Mulyana dalam wicaksono, dkk, 2016). Fungsi-fungsi suatu peristiwa komunikasi (communication event) tampaknya tidak sama sekali berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan fungsi-fungsi lainnya, meskipun terdapat suatu fungsi yang dominan. 

(a.1.a) Fungsi Komunikasi Sosial : komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, kelangsungan hidup untuk memperoleh kebahagiaan, dan terhindar dari tekanan.Pembentukan konsep diriadalah pandangan kita mengenai siapa diri kita, dan itu hanya bisa kita peroleh lewat informasi yang diberikan orang lain kepada kita. Pernyataan eksistensi diri; Orang berkomunikasi untuk menunjukkan dirinya eksis. Inilah yang disebut aktualisasi diri atau pernyataan eksistensi diri. Ketika berbicara, kita sebenarnya menyatakan bahwa kita ada. 
(a.1.b) Fungsi Komunikasi Ekspresif : Komunikasi ekspresif dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk menyampaikan perasaan-perasaan  (emosi kita) melalui pesan-pesan non verbal.  
(a.1.c) Fungsi Komunikasi Ritual Komunikasi ritual sering dilakukan secara kolektif. Suatu komunitas sering melakukan upacara-upacara berlainan sepanjang tahun dalam acara tersebut orang mengucapkan kata-kata dan menampilkan perilaku yang bersifat simbolik. 
(a.1.d) Fungsi Komunikasi Instrumental Komunikasi instrumental  mempunyai beberapa tujuan umum: menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan dan juga untuk menghibur (persuasif) Suatu peristiwa komunikasi sesungguhnya seringkali mempunyai fungsi-fungsi tumpang tindih, meskipun salah satu fungsinya sangat menonjol dan mendominasi.

d)     Komunikasi Verbal dan Non Verbal
(1)   Komunikasi Verbal
Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem kode verbal (Deddy Mulyana dalam wicaksono, dkk, 2005). Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitasi
Ketika kita berkomunikasi, kita menterjemahkan gagasan kita ke dalam bentuk lambang (verbal atau nonverbal). Proses ini lazim disebut penyandian (encoding). Bahasa adalah alat penyandian, tetapi alat yang tidak begitu baik, untuk itu diperlukan kecermatan dalam berbicara, bagaimana mencocokkan kata dengan keadaan sebenarnya, bagaimana menghilangkan kebiasaan berbahasa yang menyebabkan kerancuan dan kesalahpahaman.

8

(2)   Komunikasi non Verbal
Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang menggunakan pesan-pesan nonverbal.Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis.Secara teoritis komunikasi nonverbal dan komunikasi verbal dapat dipisahkan.Namun dalam kenyataannya, kedua jenis komunikasi ini saling jalin menjalin, saling melengkapi dalam komunikasi yang kita lakukan sehari-hari.

2.      Konseling
Konseling di definisikan oleh beberapa ahli dengan beberapa pengungkapan. Kaplan, et al., (2014) mengemukakan berdasarkan kesepakatan organisasi profesional konseling internasional bahwa konseling merupakan hubungan profesional yang memberdayakan individu yang beragam, keluarga, dan kelompok untuk mencapai kesehatan mental, kesehatan fisik, pendidikan, dan tujuan karir (Kaplan, et al., 2014). Proses pemecahan masalah dalam konseling dilakukan dengan pemberdayaan individu untuk melakukan pengubahan, sehingga ia menjadi lebih baik, dan lebih sesuai. Sejalan dengan itu Hidayah mengemukakan bahwa konseling merupakan upaya bantuan mengubah sesuatu yang diingini/diharapkan tidak terjadi menjadi terjadi, dan/atau sebaliknya (Hidayah, 1998). Selanjutnya Sharf (2012) mengemukakan bahwa konseling adalah interaksi antara konselor dengan satu atau lebih klien. Tujuannya adalah membantu klien/konseli memecahkan masalah yang mungkin memiliki aspek yang terkait dengan gangguan berfikir, penderitaan emosional atau masalah perilaku (Sharf, 2012). Sementara itu Burks, dan Stefflre (1979) mengemukakan bahwa konseling menunjukkan hubungan profesional antara seorang konselor terlatih dengan klien. Hubungan ini biasanya secara individual (person-to-person), meskipun kadang-kadang melibatkan lebih dari dua orang. Hal ini dirancang untuk membantu klien memahami dan memperjelas pandangan mengenai ruang hidup (life space) mereka, dan belajar untuk mencapai tujuan bermakna yang ditentukan oleh mereka sendiri, melakukan pilihan informasi yang sesuai melalui penyelesaian masalah yang bersifat emosional atau antarpribadi
Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut, dapat dikemukakan bahwa konseling merupakan hubungan timbal balik sebagai suatu ketrampilan yang bersifat profesional dalam upaya bantuan dari seorang konselor untuk menolong seseorang atau lebih, mengubah sesuai yang diinginkan/diharap tidak terjadi menjadi terjadi, dan/atau sebaliknya, dalam rangka meningkatkan pemahaman yang menyangkut sesuatu. Pemahaman diri dimaksudkan dalam rangka memperjelas pandangan konseli terhadap ruang hidup, serta untuk belajar meraih tujuan yang bermakna dengan pilihan informasi yang bersifat emosional atau antarpribadi (wicaksono, 2015).
Hakikat konseling dengan demikian merupakan kegiatan yang di dalamnya terdapat unsur-unsur:
a.    Hubungan timbal-balik (relationship).
b.   Ketrampilan profesional (professional skill).
c.    Upaya konselor memberi bantuan/menolong (helping) seseorang atau lebih.

9

d.   Adanya perubahan (change) dari konseli, sesuai yang diinginkan/diharapkan tidak     terjadi, dan/atau sebaliknya.
e.    Meningkatkan (increase) pemahaman.
(Wicaksono, 2015)

3.      Komunikasi dalam Langkah-langkah Konseling
Menurut Gibson dan Mitchell (2011), konseling mempunyai beberapa fase, yaitu; membangun hubungan, diikuti pengidentifikasian dan pengeksplorasian problem, lalu merencanakan solusi problem dan bantuan, kemudian diakhiri tindakan dan penutupan sesi konseling. Langkah-langkah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. 
a.    Membangun hubungan
b.   Pengidentifikasian dan pengeksplorasian problem
c.    Merencanakan solusi problem dan bantuan
d.   Penutupan sesi konseling

a.    Membangun Hubungan
Membangun hubungan merupakan upaya menciptakan keadaan yang kondusif, menciptakan penghargaan yang timbal-balik, saling percaya, dan keterbukaan. Gibson dan Mitchell (2011), mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor penting untuk membentuk hubungan konselor-konseli, yaitu; penghargaan dan penerimaan positif, empati akurat, dan keaslian.
Membangun hubungan baik merupakan pencerminan keterbukaan yang harus dimiliki seorang konselor. Keterbukaan akan tercipta apabila terjalin komunikasi yang baik dimaana dari awal konselor harus memikirkan bahwa arah kegiatannya lebih pada pemenuhan kebutuhan konseli (bukan konselor), untuk membantu konseli agar dapat bertanggungjawab atas masalahnya untuk mencari pemecahannya. Konselor hendaknya melakukan komunikasi dengan terlebih dahulu membuka diri dan bersikap menghargai, berfikir positif, empati, dan hangat.
Membangun hubungan menurut Wicaksono (2015) merupakan kegiatan yang diharapkan dapat menciptakan, sebagai berikut.
1)      Suasana hubungan yang menyenangkan dan positif.
2)     Kejelasan kepada konseli mengenai proses konseling dan tanggungjawab timbal-baliknya.
3)     Identifikasi dan verifikasi problem konseli mana yang ingin diselesaikan.
4)      Pembuatan rencana bersama konseli untuk memperoleh data asesmen yang dibutuhkan, agar kemudian menyukseskan proses konseling.

b. Pengidentifikasian dan Pengeksplorasian Problem
Pengidentifikasian dan pengeksplorasian problem bertujuan supaya konseli dan konselor memperoleh kesepakatan mengenai jenis, bentuk serta cakupan problem, untuk selanjutnya  membuat kesepakatan bagaimana mencari jalan keluar dari problem tersebut. Kegiatan ini memerlukan ketrampilan yang lebih tinggi dalam berkomunikasi agar bisa mengidentifikasi problem sejelas-jelasnya dalam rincian yang lebih kecil. Maksud kegiatan
10

ini agar konselor mempunyai pemahaman yang lebih mendalam mengenai jenis, bentuk serta cakupan problem untuk membuat konseli menjadi sadar dan terbuka terhadap masalahnya sebagai upaya konseling selanjutnya.
Capaian tujuan pengidentifikasian dan pengeksplorasian problem tersebut, lebih lanjut menurut Gibson dan Mitchell (2011) dilaksanakan dalam beberapa langkah, yaitu; mendefinisikan problem, mengeksplorasi problem, dan mengintegrasikan informasi.

1)     Mendefinisikan Problem
Pendefinisian problem menurut Wicaksono (2015) merupakan upaya konselor bekerjasama dengan konseli untuk mengadakan identifikasi terhadap jenis-jenis informasi, yakni; kapan problem itu muncul, faktor-faktor yang mendahului dan menyumbang terjadinya masalah (antecedent), komponen-komponen masalah apa yang menjadi pemikiran, seberapa berat/ringan masalah tersebut bagi konseli, serta perbuatan apa yang dilakukan ketika masalah tersebut muncul.
2)      Mengeksplorasi Problem
Eksplorasi problem merupakan tindaklanjut dari kegiatan yang harus dilakukan ketika jenis-jenis informasi sudah teridentifikasi. Bentuk kegiatannya merupakan kesepakatan antara konselor dan konseli. Komunikasi antara konselor dengan konseli dalam kegiatan ini diharapkan telah mencapai tingkatan yang lebih baik. Dengan komunikasi yang lebih baik konseli akan lebih mempercayai konselor, sehingga ia berani mengungkapkan semua yang dipikirkan dan dirasakannya.
3)      Mengintegrasikan Informasi
Langkah ini merupakan kegiatan untuk mengumpulkan semua informasi yang bisa diorganisasikan dan di integrasikan secara sistematis menjadi sebuah profil penuh makna mengenai konseli dan problemnya (Gibson dan Mitchell, 2011). Masalah konseli secara utuh bisa terlihat dalam kegiatan mengintegrasikan informasi ini, masalah-masalah tersebut menjadi pijakan untuk mulai menggali kemungkinan-kemungkinan yang diperlukan dalam upaya pengubahan, serta prakiraan hambatan-hambatan yang muncul (Wicaksono, 2015).

c. Merencanakan Solusi Problem dan Bantuan
Tahap ini merupakan tahap untuk membuat rencana bagi pemecahan masalah serta perbaikan tingkahlaku dalam hubungannya dengan masalah konseli. Pada proses konseling, tahap ini mempunyai urutan langkah-langkah sebagai berikut: (1) mendefinisikan problem, (2) mengidentifikasikan dan mendata semua solusi yang memungkinkan, (3) mengeksplorasi konsekuensi solusi yang diusulkan bersama, serta (4) memprioritaskan solusi yang paling tepat dan disepakati (Gibson dan Mitchell, 2011). Melalui komunikasi yang baik, konselor diharapkan mampu memberikan pertimbangan-pertimbangan yang arif sehingga tersusun rencana solusi problem sesuai yang diinginkan konseli.

1)   Mendefinisikan problem
Kegiatan ini dapat dikatakan sebagai pendefinisian ulang dalam rangka mempersamakan persepsi dan pemahaman antara konselor dan konseli terhadap

11

pemecahan masalah konseli. Konselor dalam hal ini berperan untuk mengkomunikasikan kembali permasalahan yang dialami konseli.

2)   Mengidentifikasi dan mendata semua solusi yang memungkinkan
Pemecahan masalah dengan segala kemungkinannya dicoba untuk diungkapkan, digali dan didata, dengan cara dicatat satu-persatu. Semua kemungkinan harus dicatat dan tidak boleh diabaikan, walaupun kemungkinan itu merupakan kemungkinan yang dianggap paling mustahil untuk diterapkan. Peran komunikasi menjadi lebih penting sehingga tercipta diskusi yang baik yang memungkinkan semua solusi bisa diidentifikasi dan didata tanpa satupun yang terlewatkan.
3)   Mengeksplorasi konsekuensi solusi yang diusulkan bersama.
Konseli dengan dukungan konselor yang sesekali memberikan sugesti, mengadakan identifikasi prosedur-prosedur untuk tiap-tiap kemungkinan pemecahan masalah. Tiap-tiap kemungkinan pemecahan masalah dengan komunikasi yang baik dikaji secara mendalam prosedur-prosedurnya untuk penerapannya.
4)   Memprioritaskan solusi yang paling tepat dan disepakati
Langkah ini merupakan lanjutan langkah sebelumnya, dengan melalui penguatan komunikasi dari konselor, konseli (dengan tetap didampingi konselor) membuat keputusan untuk menetapkan solusi terbaik (sebagaimana sudah dikaji pada langkah 3) sebagai prioritas yang siap dilaksanakan.

d. Penutupan Sesi Konseling
Tahap ini mempunyai kekuatan terhadap adanya tanggung jawab, baik dari konseli maupun konselor. Konseli bertanggungjawab untuk melaksanakan solusi yang sudah disepakati, dan terlibat aktif. Konselor melalui komunikasi yang tetap terjaga, memberi penguatan terhadap apa saja yang dilakukan konseli dalam pelaksanaan solusi, menentukan titik awal dan titik akhir konseling, bertindak sebagai fasilitator, sebagai sumber terutama untuk meluruskan apabila yang dilakukan konseli yang tidak sesuai rencana, menentukan kapan saatnya konseling harus ditutup (penentuan penutupan konseling juga menjadi hak konseli), disamping itu juga menjadi sumber dalam rangka tindak-lanjut (follow-ups). 

C.    PENUTUP
Komunikasi merupakan kegiatan yang penting dalam kegiatan konseling. Semua  langkah-langkah dalam konseling akan berjalan dengan baik apabila terjalin komunikasi yang baik antara konselor dan konseli. Sejak awal langkah konseling, yaitu membangun hubungan, komunikasi yang baik harus sudah mulai diciptakan, dan makin ditingkatkan hingga akhir konseling. Komunikasi yang baik, menjadi bagian penting untuk suksesnya kegiatan konseling.


12

DAFTAR  RUJUKAN

Agustina, Zubair. 2006. Materi Kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi Massa. http://meiliemma. wordpress.com/2006/09/27. diakses tanggal 2 Oktober 2010

Anonim. 2007. Komunikasi, arti, fungsi, dan bentuk. http://jurnal-sdm.blogspot.com/ 2007/12/, diakses tanggal 2 Oktober 2010

Anonim. 2009. Sejarah Komunikasi. http://tentang-teori.blogspot.com/2009/01/sejarah-komunikasi.html.diakses tanggal 2 Oktober 2010

Businesstopia. Tanpa tahun.  Lasswell’s Communication Model. https://www.businestopia.   net/communication/lasswell-communication-model, diakses 22 Oktober 2016

Christina, dkk. 2003. Komunikasi Kebidanan. Jakarta: EGC

Gibson, R. L., dan Mitchell, M. H. 2011. Bimbingan dan Konseling. Edisi ketujuh. Edisi Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hidayah, N. 1998. Alat Penilaian Kemampuan Konselor Mengelola Konseling Behavioral. Bimbingan dan Konseling Jurnal Teori dan Praktik, 1, 38-47.

Kaplan, D.M., Tarvydas, V.M., dan Gladding, S. T.  2014. A Vision for the Future of Counseling: The New Consensus Definition of Counseling. Journal of Counseling & Development,  92.

Meichenbaum, D.  1985.  Stress inoculation training. New York: Pergamon Press.

Prakosa, Adi.  2008. Komunikasi Verbal dan Non Verbal. http://adiprakosa.blogspot. com/2008/ 10, diakses 2 Oktober 2010.

Sharf, R.S. 2012. Theories of Psychotherapy and Counseling Concepts and Cases. 5 th Edition. Brooks Cole, Cengage Learning.

Supratiknya, A. 1995.Komunikasi Antar Pribadi. Tinjauan Psikologis. Yogyakarta: Kanisius
Tyastuti, dkk. 2008. Komunikasi & Konseling Dalam Praktik Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya.
Umar, Suwito. 1989. Komunikasi untuk Pembangunan. Jakarta: P2LPTK-Dirjen Dikti-Depdikbud.
13


Vardiyansah, 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia.

Wikipedia. 2010. Komunikasi, diakses tanggal 2 Oktober 2010

Wiryanto. 2006. Pengantar Ilmu Komunikasi. Cetakan Ketiga. Jakarta: PT Grasindo.

Wicaksono, Luhur., Indreswari, Heny., Susilowati. 2016. Dasar-dasar Komunikasi Antar Pribadi dalam Pembelajaran, dalam proses terbit.

Wicaksono, Luhur. 2015. Keefektifan Konseling Modifikasi Kognitif-Perilaku untuk Meningkatkan Efikasi-diri Akademik Siswa SMP. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Pascasarjana UM 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar