KOMUNIKASI SEBAGAI BAGIAN PENTING
DALAM LANGKAH-LANGKAH KONSELING
Luhur Wicaksono
FKIP-UNTAN
www.luhurwicaksono@yahoo.com No. Hp.085252585878
Abstrak : Komunikasi merupakan bagian
penting pada pelaksanaan kegiatan Konseling. Dalam sejarahnya, komunikasi sudah
ada sejak awal kehidupan manusia dan merupakan sarana untuk menyampaikan pesan
kepaa orang lain, melalui bahasa sinyal, bicara, tulisan, gerakan, dan
penyiaran. Berbagai paradigma menjadi landasan ilmiah bagaimana komunikasi
dipahami sebagai suatu ilmu. Komunikasi baik dalam bentuk verbal maupun non
verbal, menjadi bagian yang penting dalam langkah-langkah konseling, baik dalam
membangun hubungan, peng-identifikasian problem, maupun dalam penutupan
konseling.
Kata kunci : komunikasi,
langkah-langkah konseling.
A. PENDAHULUAN
Komunikasi
yang dalam bahasa Inggris disebut dengan Communication sebenarnya berasal dari
bahasa latin “Communicare”, dmana artinya adalah berbicara bersama, berunding,
berdiskusi serta berkonsultasi satu sama lain. Communicare merupakan kata yang berkaitan
erat dengan kata latin lainnya yaitu “communitas” yang berarti kesatuan dalam
masyarakat, ikatan pertemanan, serta hubungan antara orang-orang satu dengan yang lain.
Komunikasi
merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia dalam menjalani kehidupannya untuk
berinteraksi.Komunikasi merupakan hal yang pasti dilakukan dalam kehidupan,
baik oleh manusia bahkan hewan.Manusia pada fase bayi-pun sudah melakukan
komunikasi, seperti ketika menangis sebagaitanda bahwa ia sedang lapar atau
tidak nyaman. Maka jelaslah bahwa komunikasi adalah hal penting yang harus
dipelajari dan dipahami.
Bentuk dan
ekspresi komunikasi ada berbagai ragam, dan bisa ditafsirkan pula dengan banyak penafsiran. Ketika seseorang
tersenyum maka itu dapat ditafsirkan sebagai suatu kebahagiaan.Saatseseorang cemberut
maka dapat ditafsirkan bahwa ia sedang ngambek. Jika dalam sebuah dialog,
seseorang diam (tidak bicara), itu bisa diartikan setuju, malu, segan, marah, takut,
atau bahkan malas atau bodoh. Diam bisa diartikan setuju sebagaimana dilakukan
nabi Muhammad saw. yaitu ketika melihat ada seorang sahabat yang menggosok
giginya ketika berwudhu, ini menunjukkan bahwa beliau setuju dengan apa yang
dilakukan sahabat tadi namun tidak dengan penegasan melalui ucapan. Seseorang
yang sedang dalam keadaan diam dan sendirian, kemungkinan dia sedang
berkomunikasi dengan dirinya sendiri.Secara implisit semua perilaku manusia dapat memiliki makna yg akhirnya bernilai komunikasi.
1
2
Perilaku
manusia/individu dalam proses konseling tidak bisa dilepaskan dari makna
komunikasi.Konselor dalam komunikasi bisa dikatakan sebagai komunikator (orang
yang menyampaikan pesan), sedangkan konseli/klien (orang yang menerima pesan)
bisadisebut dengan komunikan.Namun pada kondisi tertentu dalam proses
konseling, bisa juga terjadi konseli menjadi komunikator dan konselor menjadi
komunikan, terutama ketika konseli berusaha mengungkapkan apa yang
dirasakannya.
B.
KOMUNIKASI DALAM LANGKAH-LANGKAH KONSELING
1.
Komunikasi
a)
Pengertian Komunikasi
Komunikasi
sebagai kata benda (noun),communnication, berarti : (1) Pertukaran simbol, pesan-pesan
yang sama dan informasi, (2) Proses
pertukaran antara individu melalui
sistem simbol-simbol yang sama, (3) Seni
untuk mengekspresikan gagasan, (4)Ilmu pengetahuan tentang pengiriman informasi.
Komunikasi
juga dibahas oleh beberapa ahli dengan mengungkapkan beberapa pengertian.Wilbur
Schram (dalam wicaksono, dkk, 2016) dalam “How Communication Work”
mengatakan bahwa komunikasi berasal dari bahasa latin, yaitu communio atau
common, yaitubilamana seseorang/individu mengadakan komunikasi itu
berarti membagikan informasi agar si penerima maupun si pengirim sepaham atas
suatu pesan tertentu. Sedangkan William Albig (dalam wicaksono, dkk,
2016) mengatakan bahwa komunikasi adalah proses pengoperan
lambang-lambang yang berarti antara individu. Selanjutnya Bennard
Berelson dan Gary A. Steinner (dalam wicaksono, dkk, 2016) mendefinisikan
komunikasi sebagai tindakan atau proses transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan
dan sebagainya.
Dari beberapa
pengertian di atas ada tiga nilai komunikasi:
1)
Proses membagikan/transmisi/pengoperan
informasi
2) Informasi berupa lambang, gambaran ->
jadi stimulans.
3) Lambang-lambang sebagai pesan, yang
berisikan gagasan, emosi, ketrampilan, dan sebagainya.
4) Perpaduan antara penerima dan pengirim
pesan
b)
Sejarah Komunikasi
Komunikasi pada
awal kehidupan di dunia, digunakan sebagai cara untuk mengungkapkan kebutuhan
organisme.Sinyal-sinyal kimiawi pada organisme awal digunakan untuk reproduksi.
Seiring dengan evolusi kehidupan, maka sinyal-sinyal kimiawi primitif yang
digunakan dalam berkomunikasi juga ikut berevolusi dan membuka peluang
terjadinya perilaku yang lebih rumit seperti tarian kawin pada ikan.
Komunikasi pada
binatang, selain untuk kebutuhan seks, juga dilakukan sebagai cara untuk
menunjukkan keunggulan, biasanya dengan sikap menyerang. Munurut sejarah
evolusi sekitar 250 juta tahun yang lalu munculnya "otak reptil"
menjadi penting karena otak memungkinkan reaksi-reaksi fisiologis terhadap
kejadian di dunia luar yang kita kenal
3
sebagai emosi. Pada manusia
modern, otak reptil ini masih terdapat pada sistem limbik otak manusia, dan
hanya dilapisi oleh otak lain yang mempunyai "tingkat tinggi".
Manusia
berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman melalui bentuk umum
komunikasi manusia berupa bahasa sinyal, bicara, tulisan, gerakan, dan
penyiaran.Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok
orang dapat dipahami oleh pihak lain.Komunikasi dapat berupa interaktif,
transaktif, bertujuan, atau tak bertujuan. Keefektifan komunikasi tercapai
apabila pesan yang disampaikan komunikator dapat ditafsirkan dengan artian yang
sama oleh penerima pesan komunikan.
Komunikasi
walaupun sudah dipelajari sejak lama dan termasuk “barang antik”, topik ini
tetap menjadi penting khususnya pada abad 20 karena pertumbuhan komunikasi
digambarkan sebagai “penemuan yang revolusioner”.Bukti-bukti tentang
pertumbuhan komunikasi yang makin terlihat pada abad ini dalam bentuk meningkatnya
teknologi komunikasi yang pesat seperti radio,televisi, telepon dan handphone
(HP), satelit dan jaringan computer, seiring dengan industiralisasi bidang
usaha yang besar dan informasi yang mengalami globalilasi.
Komunikasi
dalam era ini telah menjadi suatu ilmu tersendiri yang menuntut adanya para
pekerja yang profesional dengan landasan keilmuan yang mandiri.Tingkat akademik
mungkin telah memiliki departemen atau fakultas sendiri, dimana komunikasi
dibagi-bagi menjadi komunikasi masa, komunikasi bagi pembawa acara, humas dan
lainnya, namun subyeknya akan tetap. Pekerjaan dalam komunikasi mencerminkan
keberagaman komunikasi itu sendiri. Mencari teori komunikasi sebagai landasan
keilmuan yang terbaik pun tidak akan berguna karena komunikasi adalah kegiatan
yang lebih dari satu aktifitas. Masing-masing teori dipandang dari proses dan
sudut pandang yang berbeda dimana secara terpisah para ahli mengacu dari sudut
pandang mereka.
c) Paradigma Komunikasi
Para ahli
komunikasi membagi paradigma yang berbeda mengenai pemahaman landasan ilmiah
komunikasi, sesuai dengan proses dan sudut pandang yang berbeda yang ingin
mereka kemukakan. Perbedaan tersebut sebenarnya bukan menjadikan ilmu
komunikasi terkotak-kotak, namun hal itu justru menguntungkan, karena
masing-masing akan menjadi pelengkap serta memperluas wawasan dari komunikasi
itu sendiri sebagai suatu bidang kelimuan. Efek dari hal itu adalah memperluas
dan memperdalam bagi orang yang ingin belajar ilmu komunikasi. Dalam kaitannya
dengan paradigma tersebut, para ahli membagi menjadi tiga, yaitu:
(1) Paradigma Klasik
(a)
Filsafat sebagai akar ilmu komunikasi
Landasan ilmu
komunikasi yang pertama menurut kesepakatan para ahli adalah filsafat. Filsafat
melandasi ilmu komunikasi dalam domain ethos, pathos, dan logos dari teori
Aristoteles dan Plato. Ethos merupakan komponen filsafat
yang mengajarkan tentang pentingnya rambu-rambu normative dalam pengembangan
ilmu pengetahuan yang kemudian menjadi kunci utama bagi hubungan antara ilmu
dan masyarakat. Pathos
4
merupakan komponen filsafat yang
menyangkut aspek emosi atau rasa dalam diri manusia sebagai makhluk yang
senantiasa mencintai keindahan, dan penghargaan. Dengan pathos manusia berpeluang
melakukan improvisasi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
Logos merupakan komponen
filsafat yang membimbing para ilmuwan untuk mengambil suatu keputusan
berdasarkan pemikiran yang bersifat nalar dan rasional. Ciri-ciri lagos adalah argument-argumen yang
logis.
Komponen lain
dari filsafat adalah komponen pikir, yang terdiri dari etika, logika, dan
estetika, dimana komponen ini bersinergi dengan aspek kajian ontologi (ke-apa-an), epistemologi (kebagaimanaan), dan aksiologi (kegunaan atau kemanfaatan). Secara ontologis
kebenaran hakiki dari komunikasi adalah perhubungan atau proses pemindahan dan
pengoperan arti, nilai, pesan melalui media atau lambang-lambang apakah itu
bahasa lisan, tulisan ataupun isyarat.
Komponen aksiologis,
komunikasi adalah proses pemindahan pesan dari komunikator kepada komunikan. Komunikator
(stimulus), memberikan rangsangan kepada komunikan. Sikap, ide, pemahaman,
suatu pesan dapat dimengerti baik oleh komunikator maupun komunikan. Selanjutnya
komponen epistemologis, bertujuan mengubah tingkah laku, dan
mengubah pola pikir atau sikap orang lain, untuk dapat membangun kebersamaan,
mencapai ide yang sama demi satu tujuan yang sama.
(b)
Psikologi sebagai akar ilmu komunikasi
Psikologi
behaviorial merupakan aliran dalam disiplin ilmu psikologi yang banyak
mempengaruhi lahirnya ilmu komunikasi. Terdapat enam pengertian komunikasi
menurut para ahli behavioral dalam memahami komunikasi sebagai berikut:
(b.1) Komunikasi sebagai penyampaian perubahan energi dari suatu
tempat ke tempat lain, seperti dalam sistem syaraf, atau penyampaian
gelombang-gelombang suara,
(b.2) Komunikasi sebagai penyampaian atau penerimaan sinyal atau pesan
oleh organisme,
(b.3) Komunikasi sebagai pesan
yang disampaikan,
(b.4) Teori komunikasi sebagai sebuah proses yang dilakukan suatu sistem
untuk mempengaruhi sistem yang lain melalui pengaturan sinyal-sinyal yang
disampaikan,
(b.5) Komunikasi sebagai pengaruh satu wilayah seseorang pada wilayah orang
lain, sehingga perubahan dalam satu wilayah seseorang tersebut menimbulkan perubahan
yang berkaitan pada wilayah orang lain.
(c) Antropologi sebagai akar ilmu
komunikasi
Antropologi
dikenal sebagai suatu disiplin ilmu yang mempelajari manusia dan aspek
kebudayaannya guna membangun suku bangsa yang ada. Dalam antropologi budaya,
terdapat konsep yang relevan dengan komunikasi, yakni masalah simbol, bahasa,
dan pemaknaan. Bahasa adalah kumpulan simbol paling penting dalam berbagai
kultur.
(2) Paradigma Kontemporer
(a)
Matematika sebagai akar ilmu komunikasi
Teori
informasi dari Claude Shannon dan Warren Weaver, yang dimuat dalam buku The
Mathematical Theory of Communication yang diterbitkan pada tahun 1949, merupakan awal dasri teori
komunikasi. Warner J, Severin dan James W. Tankard Jr
5
kemudian mereduksi kembali dalam
bukunya Communication Theories: Origins Methods Uses in The Mass Media. Teori
informasi atau model matematis ini telah memberikan pengaruh yang kuat terhadap
kemunculan teori-teori lain sesudahnya. Bahkan model Shannon and Weaver ini
telah dijadikan sebagai dasar bagi berbagai bentuk komunikasi, yaitu komunikasi
antarpribadi, komunikasi publik, dan komunikasi massa.
(b)
Fisika sebagai akar ilmu komunikasi
Para filsuf
komunikasi menyepakati adanya dua aliran yang berkaitan dengan pandangan
terhadap pemaknaan komunikasi. Aliran tersebut adalah aliran fisika dan aliran
mental. Aliran fisika memandang pemaknaan sebagai unit (bagian) dari dunia
fisika yang ada secara mandiri dari setiap aktivitas manusia. Sebagai contoh,
pemaknaan dapat dipahami sebagai data, sikap, ataupun informasi. Aliran mental
memandang pemaknaan hanya sebagai unit-unit dalam kesadaran utuh manusia,
pemaknaan tersebut dipandang sebagai kesan, maksud, atau ide.
(c)
Biologi sebagai akar ilmu komunikasi
Manusia memiliki
46 kromosom dengan berjuta-juta gen yang susunannya melengkapi informasi. Kode
genetik menentukan ciri-ciri, seperti warna kulit, rambut, mata, penyakit, dan
keterlambatan mental, juga mempengaruhi skor IQ, dan lain sebagainya.
(3) Paradigma
Lasswell (Harold Dwight Lasswell)
Komunikasi dapat dipahami dengan menjawab
pertanyaan: “Siapa berkata apa, dengan saluran yang mana, kepada siapa, dan
dengan hasil/dampak apa ?” Berdasarkan hal tersebut, komunikasi mempunyai
beberapa komponen, yaitu :
· Siapa
mengatakan ? (komunikator, pengirim atau sumber).
·
Apa ?
(message: pesan, ide, gagasan).
·
Dengan
saluran mana? (media channel dan
sarana).
·
Kepada
siapa ? (komunikan, penerima, alamat).
·
Dengan
hasil/dampak apa? (effect -> hasil komunikasi).
Berdasarkan paradigma tersebut komunikator
(siapa yang mengatakan) menjadi komponen yang pertama dengan pengaruh yang
besar. Disebut komponen yang pertama karena pada setiap sistem komunikasi,
dipastikan ada komunikator. Tidak akan terjadi komunikasi tanpa adanya
komunikator. Komunikator mempunyai syarat-syarat tertentu agar komunikasi
berjalan lancar. Salah satu syarat penting adalah status komunikator, baik
sosial, ekonomi, ciri-ciri pribadi termasuk usia dan karakter, serta jam terbang (pengalaman). Komponen mesasage (apa pesan, ide, gagasan) akan
mempunyai makna dalam komunikasi apabila bersinggungan dengan kehidupan
komunikan. Pesan akan berarti apabila komunikator mempunyai posisi atau status
yang lebih tinggi.
Media dan channel yang digunakan untuk menyampaikan pesan bisa berupa media
elektronik dan non elektronik, ceramah atau tatap muka langsung. Pada jaman
modern ini, informasi (pesan, ide, gagasan) bisa disampaikan dengan cepat
melalui media
6
elektronik, bahkan melalui media elektronik ini manusia bisa ”bertatap
muka” dalam berkomunikasi, walaupun jarak mereka berjauhan. Informasi dari
sumber dari jarak yang jauh bisa diunggah saat itu juga melalui internet, ruang
dan waktu tidak menjadi masalah dalam era globalisasi.
Komunikan mempunyai persyaratan tertentu
untuk terjalinnya komunikasi, antara lain: kedekatan emosi, ciri-ciri pribadi
dan tingkat pendidikan. Komunikan merupakan penerima atau alamat kepada siapa
pesan dari komunikator disampaikan. Oleh karena itu kedekatan emosi antara
komunikator dan komunikan perlu dilakukan untuk membangun hubungan yaitu penciptaan keadaan yang kondusif,
penghargaan timbal-balik, dan saling percaya, sehingga pesan bisa tersampaikan secara baik.
Hasil komunikasi atau dampak adalah perubahan
tingkahlaku dari seseorang/ individu (komunikator, dan komunikan), baik dalam
bentuk kognitif, afektif, maupun psikomotor. Dampak komunikasi dalam paradigma Lasswell dengan perubahan kearah yang lebih baik,
dari yang tidak sesuai menjadi sesuai ini bila dikaitkan dengan konseling
adalah merupakan tujuan akhir dari konseling.
d)
Karakteristik dan Fungsi Komunikasi
(1) Karakteristik
Komunikasi
Komunikasi
merupakan upaya sebagai suatu proses atau serangkaian tindakan atau peristiwa
yang terjadi secara berurutan, disengaja dan mempunyai tujuan (dilakukan dalam
keadaan sadar). Partisipasi dan kerjasama dari para pelaku dituntut secara
aktif agar kegiatan komunikasi dapat berlangsung dengan baik.
Aktifitas
komunikasi akan berlangsung dengan baik, apabila pihak-pihak yang terlibat
aktif berkomunikasi. Komunikasi yang demikian tersebut merupakan
perwujudan dari karakteristik komunikasi, dengan beberapa sifatnya yaitu:
simbolis, transaksional, dan menembus faktor ruang dan waktu. Komunikasi
bersifat simbolis sebagai tindakan yang pada dasarnya dilakukan dengan
menggunakan lambang-lambang, bersifat transaksional, dan menembus ruang dan
waktu. Komunikasi bersifat transaksional yang pada dasarnya menuntut dua
tindakan yaitu memberi dan menerima. Komunikasi menembus faktor ruang dan waktu,
dimana komunikasi menembus faktor waktu dan ruang maksudnya bahwa para peserta
atau pelaku yang terlibat dalam komunikasi tidak harus hadir pada waktu serta
tempat yang sama.
(2) Fungsi Komunikasi
Komunikasi
secara garis besar mempunyai dua fungsi, yaaitu fungsi umum dan fungsi khusus.
Fungsi umum meliputi : (2.a) dapat menyampaikan pikiran atau perasaan, (2.b) tidak terasing atau terisolasi dari
lingkungan, (2.c) dapat mengajarkan atau memberitahukan sesuatu, (2.d) dapat
mengetahui atau mempelajari dari peristiwa di lingkungan, (2.e) dapat mengenal diri sendiri, (2.f) dapat
memperoleh hiburan atau menghibur orang lain, (2.g) dapat mengurangi atau
menghilangkan perasaan tegang, (2.h) dapat mengisi waktu luang, (2.i) dapat
menambah pengetahuan dan merubah sikap serta perilaku kebiasaan, (2.j) dapat
membujuk atau memaksa orang lain agar berpendapat bersikap atau berperilaku
sebagaimana diharapkan.
7
Komunikasi
dalam fungsinya secara khusus dapat dikemukakan sebagaimana diungkapkan Deddy
Mulyana dalam bukunya Ilmu komunikasi suatu pengantar mengutip kerangka
berpikir dari William I. Gorden mengenai fungsi-fungsi komunikasi yang dibagi
menjadi empat bagian, yaitu : (a.1.a) fungsi komunikasi sosial, (a.1.b) fungsi
komunikasi ekspresif, (a.1.c) fungsi komunikasi ritual, dan (a.1.d) fungsi
komunikasi instrumental (Dedy Mulyana dalam wicaksono, dkk, 2016).
Fungsi-fungsi suatu peristiwa komunikasi (communication event) tampaknya tidak
sama sekali berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan fungsi-fungsi lainnya,
meskipun terdapat suatu fungsi yang dominan.
(a.1.a)
Fungsi Komunikasi Sosial : komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri
kita, aktualisasi diri, kelangsungan hidup untuk memperoleh kebahagiaan, dan
terhindar dari tekanan.Pembentukan konsep diriadalah pandangan kita mengenai
siapa diri kita, dan itu hanya bisa kita peroleh lewat informasi yang diberikan
orang lain kepada kita. Pernyataan eksistensi diri; Orang berkomunikasi
untuk menunjukkan dirinya eksis. Inilah yang disebut aktualisasi diri atau
pernyataan eksistensi diri. Ketika berbicara, kita sebenarnya menyatakan bahwa
kita ada.
(a.1.b)
Fungsi Komunikasi Ekspresif : Komunikasi ekspresif dapat dilakukan sejauh
komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk menyampaikan
perasaan-perasaan (emosi kita) melalui pesan-pesan non verbal.
(a.1.c)
Fungsi Komunikasi Ritual Komunikasi ritual sering dilakukan secara kolektif.
Suatu komunitas sering melakukan upacara-upacara berlainan sepanjang tahun
dalam acara tersebut orang mengucapkan kata-kata dan menampilkan perilaku yang
bersifat simbolik.
(a.1.d)
Fungsi Komunikasi Instrumental Komunikasi instrumental mempunyai beberapa
tujuan umum: menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan
keyakinan dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan dan juga untuk
menghibur (persuasif) Suatu peristiwa komunikasi sesungguhnya seringkali
mempunyai fungsi-fungsi tumpang tindih, meskipun salah satu fungsinya sangat
menonjol dan mendominasi.
d)
Komunikasi Verbal dan Non Verbal
(1) Komunikasi Verbal
Simbol atau
pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem
kode verbal (Deddy Mulyana dalam wicaksono, dkk, 2005). Bahasa dapat
didefinisikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan
simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitasi
Ketika kita berkomunikasi, kita menterjemahkan
gagasan kita ke dalam bentuk lambang (verbal atau nonverbal). Proses ini lazim
disebut penyandian (encoding). Bahasa adalah alat penyandian, tetapi
alat yang tidak begitu baik, untuk itu diperlukan kecermatan dalam berbicara,
bagaimana mencocokkan kata dengan keadaan sebenarnya, bagaimana menghilangkan
kebiasaan berbahasa yang menyebabkan kerancuan dan kesalahpahaman.
8
(2)
Komunikasi non Verbal
Komunikasi
nonverbal adalah komunikasi yang menggunakan pesan-pesan nonverbal.Istilah
nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di
luar kata-kata terucap dan tertulis.Secara teoritis komunikasi nonverbal dan
komunikasi verbal dapat dipisahkan.Namun dalam kenyataannya, kedua jenis
komunikasi ini saling jalin menjalin, saling melengkapi dalam komunikasi yang
kita lakukan sehari-hari.
2. Konseling
Konseling di definisikan oleh beberapa ahli dengan beberapa pengungkapan. Kaplan, et al., (2014) mengemukakan
berdasarkan kesepakatan organisasi
profesional konseling internasional bahwa konseling merupakan hubungan
profesional yang memberdayakan individu yang beragam, keluarga, dan kelompok
untuk mencapai kesehatan mental, kesehatan fisik, pendidikan, dan tujuan karir (Kaplan, et al.,
2014). Proses
pemecahan masalah dalam konseling dilakukan dengan pemberdayaan individu untuk melakukan pengubahan, sehingga ia menjadi lebih baik, dan lebih sesuai. Sejalan dengan itu Hidayah mengemukakan bahwa konseling
merupakan upaya bantuan mengubah sesuatu yang diingini/diharapkan tidak terjadi
menjadi terjadi, dan/atau sebaliknya (Hidayah, 1998). Selanjutnya
Sharf (2012) mengemukakan bahwa konseling adalah
interaksi antara konselor dengan satu atau lebih klien. Tujuannya adalah
membantu klien/konseli memecahkan masalah yang mungkin memiliki aspek yang terkait
dengan gangguan berfikir, penderitaan emosional atau masalah perilaku (Sharf,
2012). Sementara itu Burks, dan Stefflre (1979) mengemukakan bahwa konseling menunjukkan hubungan profesional
antara seorang konselor terlatih dengan klien. Hubungan ini biasanya secara
individual (person-to-person),
meskipun kadang-kadang melibatkan lebih dari dua orang. Hal ini dirancang untuk
membantu klien memahami dan memperjelas pandangan mengenai ruang hidup (life space) mereka, dan belajar untuk
mencapai tujuan bermakna yang ditentukan oleh mereka sendiri, melakukan pilihan
informasi yang sesuai melalui penyelesaian masalah yang bersifat emosional atau
antarpribadi
Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut, dapat dikemukakan bahwa
konseling merupakan hubungan timbal balik sebagai suatu ketrampilan yang
bersifat profesional dalam upaya bantuan dari seorang konselor untuk menolong
seseorang atau lebih, mengubah sesuai yang diinginkan/diharap tidak terjadi
menjadi terjadi, dan/atau sebaliknya, dalam rangka meningkatkan pemahaman yang menyangkut
sesuatu. Pemahaman diri dimaksudkan dalam rangka memperjelas pandangan konseli
terhadap ruang hidup, serta untuk belajar meraih tujuan yang bermakna dengan
pilihan informasi yang bersifat emosional atau antarpribadi
(wicaksono, 2015).
Hakikat konseling dengan demikian merupakan kegiatan yang di dalamnya
terdapat unsur-unsur:
a.
Hubungan timbal-balik (relationship).
b.
Ketrampilan profesional
(professional skill).
c.
Upaya konselor memberi
bantuan/menolong (helping) seseorang atau lebih.
9
d.
Adanya perubahan (change)
dari konseli, sesuai yang diinginkan/diharapkan tidak terjadi,
dan/atau sebaliknya.
e. Meningkatkan (increase) pemahaman.
(Wicaksono, 2015)
3. Komunikasi dalam Langkah-langkah Konseling
Menurut Gibson dan Mitchell (2011), konseling mempunyai beberapa fase,
yaitu; membangun hubungan, diikuti pengidentifikasian dan pengeksplorasian
problem, lalu merencanakan solusi problem dan bantuan, kemudian diakhiri
tindakan dan penutupan sesi konseling. Langkah-langkah tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut.
a.
Membangun hubungan
b.
Pengidentifikasian dan
pengeksplorasian problem
c.
Merencanakan solusi
problem dan bantuan
d.
Penutupan sesi konseling
a. Membangun Hubungan
Membangun hubungan merupakan upaya menciptakan keadaan yang
kondusif, menciptakan
penghargaan yang timbal-balik,
saling percaya, dan
keterbukaan. Gibson dan Mitchell (2011), mengemukakan bahwa terdapat beberapa
faktor penting untuk membentuk hubungan konselor-konseli, yaitu; penghargaan
dan penerimaan positif, empati akurat, dan keaslian.
Membangun hubungan baik merupakan pencerminan keterbukaan yang harus dimiliki
seorang konselor. Keterbukaan akan tercipta apabila terjalin komunikasi
yang baik dimaana dari awal konselor
harus memikirkan bahwa arah
kegiatannya lebih pada
pemenuhan kebutuhan konseli (bukan konselor), untuk membantu konseli
agar dapat bertanggungjawab atas
masalahnya untuk mencari
pemecahannya. Konselor hendaknya melakukan komunikasi dengan terlebih
dahulu membuka diri dan bersikap menghargai, berfikir positif, empati, dan hangat.
Membangun hubungan menurut Wicaksono (2015) merupakan kegiatan yang diharapkan dapat
menciptakan, sebagai berikut.
1) Suasana hubungan yang menyenangkan dan
positif.
2) Kejelasan kepada konseli mengenai proses
konseling dan tanggungjawab timbal-baliknya.
3) Identifikasi dan verifikasi problem
konseli mana yang ingin diselesaikan.
4) Pembuatan rencana bersama konseli untuk
memperoleh data asesmen yang dibutuhkan, agar kemudian menyukseskan proses
konseling.
b. Pengidentifikasian dan Pengeksplorasian Problem
Pengidentifikasian dan pengeksplorasian
problem bertujuan supaya
konseli dan konselor memperoleh kesepakatan mengenai jenis, bentuk serta
cakupan problem, untuk selanjutnya membuat kesepakatan bagaimana mencari jalan
keluar dari problem tersebut. Kegiatan ini memerlukan ketrampilan yang
lebih tinggi dalam berkomunikasi agar bisa mengidentifikasi problem sejelas-jelasnya dalam rincian yang lebih kecil.
Maksud kegiatan
10
ini agar konselor mempunyai pemahaman yang lebih mendalam
mengenai jenis, bentuk serta cakupan problem untuk membuat konseli menjadi sadar dan terbuka terhadap
masalahnya sebagai upaya konseling selanjutnya.
Capaian tujuan pengidentifikasian dan
pengeksplorasian problem tersebut, lebih lanjut menurut Gibson dan Mitchell
(2011) dilaksanakan dalam beberapa langkah, yaitu; mendefinisikan problem,
mengeksplorasi problem, dan mengintegrasikan informasi.
1) Mendefinisikan Problem
Pendefinisian problem menurut Wicaksono
(2015) merupakan upaya konselor
bekerjasama dengan konseli untuk mengadakan identifikasi terhadap jenis-jenis
informasi, yakni; kapan problem itu muncul, faktor-faktor yang mendahului dan
menyumbang terjadinya masalah (antecedent),
komponen-komponen masalah apa yang menjadi pemikiran, seberapa berat/ringan
masalah tersebut bagi konseli, serta perbuatan apa yang dilakukan ketika
masalah tersebut muncul.
2) Mengeksplorasi Problem
Eksplorasi problem merupakan tindaklanjut dari
kegiatan yang harus dilakukan ketika jenis-jenis informasi sudah
teridentifikasi. Bentuk kegiatannya merupakan kesepakatan antara konselor dan
konseli. Komunikasi antara
konselor dengan konseli dalam
kegiatan ini diharapkan telah mencapai tingkatan yang lebih baik. Dengan
komunikasi yang lebih baik konseli akan lebih mempercayai konselor, sehingga ia
berani mengungkapkan semua yang dipikirkan dan dirasakannya.
3)
Mengintegrasikan Informasi
Langkah ini merupakan kegiatan untuk mengumpulkan
semua informasi yang bisa diorganisasikan dan di integrasikan secara sistematis
menjadi sebuah profil penuh makna mengenai konseli dan problemnya (Gibson dan
Mitchell, 2011). Masalah konseli secara utuh bisa terlihat dalam kegiatan
mengintegrasikan informasi ini, masalah-masalah tersebut menjadi pijakan untuk
mulai menggali kemungkinan-kemungkinan yang diperlukan dalam upaya pengubahan,
serta prakiraan hambatan-hambatan yang muncul (Wicaksono, 2015).
c. Merencanakan Solusi Problem dan Bantuan
Tahap ini merupakan tahap untuk membuat rencana
bagi pemecahan masalah serta perbaikan tingkahlaku dalam hubungannya dengan
masalah konseli. Pada proses konseling, tahap ini mempunyai urutan
langkah-langkah sebagai berikut: (1) mendefinisikan problem, (2)
mengidentifikasikan dan mendata semua solusi yang memungkinkan, (3)
mengeksplorasi konsekuensi solusi yang diusulkan bersama, serta (4)
memprioritaskan solusi yang paling tepat dan disepakati (Gibson dan Mitchell,
2011). Melalui komunikasi yang baik, konselor diharapkan mampu
memberikan pertimbangan-pertimbangan yang arif sehingga tersusun rencana solusi
problem sesuai yang diinginkan konseli.
1) Mendefinisikan problem
Kegiatan ini dapat dikatakan sebagai pendefinisian
ulang dalam rangka mempersamakan persepsi dan pemahaman antara konselor dan
konseli terhadap
11
pemecahan masalah konseli. Konselor dalam hal ini berperan untuk
mengkomunikasikan kembali permasalahan yang dialami konseli.
2) Mengidentifikasi dan mendata semua solusi yang memungkinkan
Pemecahan masalah dengan segala
kemungkinannya dicoba untuk
diungkapkan, digali dan didata, dengan cara dicatat satu-persatu. Semua
kemungkinan harus dicatat dan tidak boleh diabaikan, walaupun kemungkinan itu
merupakan kemungkinan yang dianggap paling mustahil untuk diterapkan.
Peran komunikasi menjadi lebih penting sehingga tercipta diskusi yang baik yang
memungkinkan semua solusi bisa diidentifikasi dan didata tanpa satupun yang
terlewatkan.
3) Mengeksplorasi konsekuensi solusi yang diusulkan bersama.
Konseli dengan dukungan konselor yang sesekali
memberikan sugesti, mengadakan identifikasi prosedur-prosedur untuk tiap-tiap
kemungkinan pemecahan masalah. Tiap-tiap kemungkinan pemecahan masalah
dengan komunikasi yang baik dikaji
secara mendalam prosedur-prosedurnya untuk penerapannya.
4)
Memprioritaskan solusi yang paling tepat
dan disepakati
Langkah ini merupakan lanjutan langkah sebelumnya,
dengan melalui penguatan komunikasi dari konselor, konseli (dengan
tetap didampingi konselor)
membuat keputusan untuk menetapkan solusi terbaik (sebagaimana sudah dikaji pada langkah 3)
sebagai prioritas yang siap dilaksanakan.
d. Penutupan Sesi Konseling
Tahap ini mempunyai kekuatan terhadap adanya tanggung jawab, baik dari konseli
maupun konselor. Konseli bertanggungjawab untuk melaksanakan solusi yang sudah
disepakati, dan terlibat aktif. Konselor melalui komunikasi yang tetap
terjaga, memberi penguatan terhadap
apa saja yang dilakukan konseli dalam pelaksanaan solusi, menentukan titik awal
dan titik akhir konseling, bertindak sebagai fasilitator, sebagai sumber
terutama untuk meluruskan apabila yang dilakukan konseli yang tidak sesuai rencana, menentukan kapan
saatnya konseling harus ditutup (penentuan penutupan konseling juga menjadi hak
konseli), disamping itu juga menjadi sumber dalam rangka tindak-lanjut (follow-ups).
C. PENUTUP
Komunikasi
merupakan kegiatan yang penting dalam kegiatan konseling. Semua langkah-langkah dalam konseling akan berjalan
dengan baik apabila terjalin komunikasi yang baik antara konselor dan konseli.
Sejak awal langkah konseling, yaitu membangun hubungan, komunikasi yang baik
harus sudah mulai diciptakan, dan makin ditingkatkan hingga akhir konseling.
Komunikasi yang baik, menjadi bagian penting untuk suksesnya kegiatan
konseling.
12
DAFTAR RUJUKAN
Agustina, Zubair. 2006. Materi Kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi Massa. http://meiliemma.
wordpress.com/2006/09/27. diakses tanggal 2
Oktober 2010
Anonim. 2007. Komunikasi, arti, fungsi, dan bentuk. http://jurnal-sdm.blogspot.com/ 2007/12/,
diakses tanggal 2 Oktober 2010
Anonim. 2009. Sejarah Komunikasi. http://tentang-teori.blogspot.com/2009/01/sejarah-komunikasi.html.diakses tanggal 2 Oktober 2010
Businesstopia. Tanpa tahun. Lasswell’s Communication Model. https://www.businestopia. net/communication/lasswell-communication-model, diakses 22 Oktober 2016
Christina, dkk.
2003. Komunikasi Kebidanan. Jakarta: EGC
Gibson,
R. L., dan Mitchell, M. H. 2011. Bimbingan
dan Konseling. Edisi ketujuh. Edisi Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hidayah,
N. 1998. Alat Penilaian Kemampuan
Konselor Mengelola Konseling Behavioral. Bimbingan dan Konseling Jurnal
Teori dan Praktik, 1, 38-47.
Kaplan, D.M., Tarvydas, V.M., dan Gladding, S. T. 2014. A Vision for the Future of
Counseling: The New Consensus Definition of Counseling.
Journal of Counseling & Development, 92.
Meichenbaum,
D. 1985.
Stress inoculation training.
New York: Pergamon Press.
Prakosa, Adi. 2008. Komunikasi
Verbal dan Non Verbal. http://adiprakosa.blogspot. com/2008/ 10, diakses 2 Oktober 2010.
Sharf, R.S. 2012. Theories
of Psychotherapy and Counseling Concepts and Cases. 5 th Edition. Brooks
Cole, Cengage Learning.
Supratiknya, A. 1995.Komunikasi
Antar Pribadi. Tinjauan Psikologis. Yogyakarta: Kanisius
Umar, Suwito.
1989. Komunikasi untuk Pembangunan.
Jakarta: P2LPTK-Dirjen Dikti-Depdikbud.
13
Vardiyansah, 2004. Pengantar Ilmu
Komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia.
Wikipedia. 2010. Komunikasi, diakses tanggal 2 Oktober 2010
Wiryanto. 2006. Pengantar
Ilmu Komunikasi. Cetakan Ketiga. Jakarta: PT Grasindo.
Wicaksono, Luhur., Indreswari, Heny.,
Susilowati. 2016. Dasar-dasar Komunikasi
Antar Pribadi dalam Pembelajaran, dalam proses terbit.
Wicaksono, Luhur. 2015. Keefektifan Konseling Modifikasi
Kognitif-Perilaku untuk Meningkatkan Efikasi-diri Akademik Siswa SMP.
Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Pascasarjana UM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar