PENGARUH
PRESTASI BELAJAR TERHADAP
PENGAMBILAN-KEPUTUSAN-KARIER
(dimuat pada jurnal Cakrawala 2009)
Oleh
LUHUR
WICAKSONO
Abstrak
: Tahapan
penting yang harus dilalui oleh siswa SMA adalah pengambilan – keputusan –
karier (PKK), berupa keharusan untuk menentukan/memilih jurusan/program studi.
Ketepatan/optimalisasi pengambilan keputusan sangat ditentukan oleh beberapa
aspek, dimana keberadaan aspek tersebut penting dan berpengaruh yang tidak
kecil. Salah satu aspek yang terkait atau ikut mempengaruhi pengambilan-keputusan-
karier antara lain adalah prestasi belajar. Bukti hasil temuan menunjukkan
bahwa prestasi belajar yang tinggi pada siswa berkait dengan tingginya
kematangan karier siswa, yang bermuara pada kemampuan siswa dalam melakukan
pengambilan-keputusan-karier.
Kata Kunci : Prestasi-Belajar,
Pengambilan-Keputusan-Karier
Pendahuluan
Bagi siswa SMA,
pengambilan-keputusan-karier yang termasuk penting adalah keputusan untuk
memilih program studi, sedangkan pada saat itu banyak siswa yang belum
mempunyai kematangan untuk itu. Hansen (1977) mengemukakan bahwa belum matangnya
keputusan pilihan program studi di antara siswa dapat disebabkan oleh
faktor-faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor eksternal antara lain
keluarga dan sekolah. Ginzberg (dalam
Brown, 1987) mengemukakan bahwa dalam
pengambilan-keputusan-karier (PKK) orang tua hendaklah tidak bersikap netral,
namun mereka hendaklah mengajak anak-anaknya berdiskusi dalam penentuan pilihan
karier mereka. Sedangkan pihak sekolah
1
2
bukanlah hanya membantu siswa untuk memerinci
pekerjaan mereka, namun yang lebih baik adalah dengan memberikan
penjelasan-penjelasan yang diperlukan untuk memperoleh kompetensi dasar berupa
persiapan mereka untuk bekerja secara profesional. Sedangkan faktor-faktor
internal (Pietrofesa, 1978: 320)
adalah kecerdasan, kepercayaan pada diri sendiri, konsep mengenai diri sendiri,
pengetahuan mengenai diri sendiri, nilai-nilai yang dianut, dll. Super
mengutarakan bahwa proses perkembangan karier pada dasarnya adalah
implementasi dan pengembangan dari konsep-diri (self-concept);. ini adalah
proses penyatuan dan kompromi dalam konsep-diri yang merupakan hasil interaksi
dari: bakat, perubahan fisik, kesempatan mengalami berbagai peran, dan evaluasi
yang seluas-luasnya (Super dalam Brown, 1987 : 195). Pemahaman atau pengenalan-diri
menitikberatkan pada penghargaan dan penilaian-diri yang tidak terlalu tinggi atau terlalu
rendah yang mengakibatkan pilihan yang tidak tepat atau aspirasi yang tidak
realistis.
Keberhasilan siswa dalam
membuat keputusan karier ternyata dipengaruhi oleh banyak faktor. Krumboltz
untuk itu secara lebih sistematis membuat 4 (empat) kategori, kemudian ditambah
lagi dengan 3 (tiga) kategori yang berpengaruh secara relevan terhadap
pengambilan-keputusan-karier (PKK) (Krumboltz
dan Mitchel dalam Brown, 1987), (lihat gambar 1).
Gejala-gejala yang sementara ini muncul di SMA ternyata mendukung pendapat
Krumboltz tersebut. Gejala tersebut salahsatunya berupa prestasi sebagai hasil
dari belajar (gejala lain misalnya; efikasi-diri sebagai generalisasi
observasi-diri, pemrosesan informasi dari model sebagai pengalaman belajar,
pengumpulan informasi dan penentuan sumber
3
informasi yang paling dipercayai, akurat serta
relevan sebagai ketrampilan pendekatan tugas dan pembuatan keputusan karier),
berpengaruh terhadap pengambilan-keputusan-karier (PKK).
Pengalaman belajar dimaksudkan
sebagai pengalaman belajar akademis yang bersifat keilmuan dan dengan
menggunakan analisis intelektual, sehingga tergolong ranah afektif. Gagne sebagaimana mengatakan bahwa
manusia dengan segala kemampuannya sangat ditentukan oleh kegiatan belajarnya (Gagne 1977 : 1-2). Dengan demikian
kemampuan dalam pengambilan-keputusan-karier (PKK) individu-pun dipengaruhi
oleh belajar, dalam hal ini adalah prestasi belajarnya. Penelitian tentang hal
ini telah dilakukan, dan membuktikan bahwa terdapat hubungan positif dan
signifikan antara prestasi belajar siswa SMA dengan pengambilan keputusan
karier (Kusbandiami 1990 ; Abimanyu , 1990)
Pengambilan -Keputusan-Karier (PKK)
Pengambilan-keputusan-karier
(PKK) merupakan suatu proses untuk menentukan pilihan dari berbagai alternatif
yang berkaitan dengan pekerjaan. Pengambilan-keputusan-karier (PKK) merupakan suatu ketrampilan atau
kemampuan yang diartikan sebagai aktivitas mental dan fisik yang sistematis dan
terkoordinasi yang pembentukannya melalui latihan atau kegiatan (Page., Thomas., & Marshal., 1978).
Ketrampilan-ketrampilan pengambilan-keputusan-karier dapat dipelajari secara
sistematis (George dan Cristiani., 1990 : 224), karena
kematangan karier adalah daerah yang siap dijangkau proses belajar
4
yang kompleks mulai dari awal masa kanak-kanak dan
terus menerus sepanjang hidup (Herr
dan Cramer dalam George dan Cristiani.,
1990 : 225). Dengan demikian pengambilan-keputusan-karier merupakan suatu
ketrampilan yang dapat dipelajari atau diajarkan kepada individu, atau dengan
kata lain, melalui suatu pembelajaran, pengambilan-keputusan-karier dapat
ditingkatkan kualitasnya sehingga membuahkan hasil yang semakin sempurna, baik
dalam hal sikap maupun kompetensi.
Pengambilan-keputusan-karier
(PKK) bagi siswa SMA mempunyai makna yang sangat besar, karena menentukan
sekali bagaimana alur kariernya di masa yang akan datang. Pentingnya
permasalahan tersebut semakin dirasakan khususnya ketika siswa berada pada
akhir kelas I menjelang kenaikan kelas II di sekolah menengah umum, walaupun
permasalahan karier itu sendiri sebenarnya merupakan suatu proses yang sudah
ada sebelum siswa itu sendiri menginjak kelas I
SMA.
Permasalahan karier pada siswa
kelas I SMA terjadi karena pada masa menjelang kenaikan kelas ini siswa mulai
dihadapkan pada suatu situasi pilihan “spesialisasi” dimana diharapkan siswa
membuat keputusan pilihan yang tepat yaitu kesesuaian antara bidang kajian yang
akan ditekuni di kelas II dengan minat dan kemampuannya. Hal yang demikian sedikit-banyak
tentu akan berpengaruh pada pengambilan-keputusan-karier di masa mendatang
yakni melanjutkan belajar ke perguruan tinggi (dan memilih fakultas dan
jurusan rtentu) atau harus terjun ke
masyarakat memasuki lapangan pekerjaan. Bagi siswa yang ingin melanjutkan ke
perguruan tinggi, mereka akan dihadapkan pada masalah program
5
studi apa yang paling tepat untuk dimasuki dengan
segala konsekuensinya, ke jenjang S 1
atau cukup ke jenjang Diploma. Siswa yang tidak melanjutkan ke perguruan
tinggi, masalah yang dihadapi adalah jenjang pekerjaan apa yang tersedia bagi
lulusan SMA? Apakah tersedia faktor
pendukung bagi pilihan kerja yang telah diputuskan? Lebih dari itu -baik bagi yang melanjutkan ke perguruan tinggi
atau yang memilih untuk memasuki dunia kerja, keyakinan atau rasa percaya-diri
terhadap kemampuannya merupakan faktor yang tidak kalah penting di dalam
menentukan pilihan karier.
Proses
pengambilan-keputusan-karier (PKK) dapat diketahui melalui pemahaman
teori-teori dan model-model pengambilan-keputusan-karier (PKK). Banyak teori
dan model PKK yang dikemukakan oleh para ahli, salah satunya adalah model PKK
yang dikemukakan oleh Krumboltz dengan teori belajar-sosial-nya. Dalam
teorinya, Krumboltz menyatakan bahwa
proses pengambilan-keputusan-karier
secara garis besar dipengaruhi oleh
empat kategori dan tiga faktor lain yang juga berpengaruh secara relevan
terhadap pengambilan-keputusan-karier (PKK) (Krumboltz
dan Mitchel dalam Brown,
1987), (lihat gambar 1).
Krumboltz dalam teori kerjanya
memang banyak terkait oleh apa yang dikemukakan Bandura. Itulah sebabnya apa
yang dikemukakan oleh Bandura,
“digunakan juga” oleh Krumbolt.
Sebagai contoh seperti ciri-ciri fisik (antara lain ; penampilan yang atraktif,
ras, jenis kelamin) yang dikemukakan oleh Bandura, digunakan oleh Krumboltz
walau dengan istilah lain, yaitu sumbangan genetik. Tentu saja banyak terdapat
faktor-faktor yang mempunyai hubungan dan berpengaruh terhadap
pengambilan-keputusan-karier (PKK),
6
Untuk lebih memperjelas tentang beberapa faktor
yang mempengaruhi PKK, dapat dilihat pada gambar 1, berikut :


kemampuan khusus.
kondisi lingkungan
- jenis
kelamin
- kekuatan kultural
-
penampilan dan -
kekuatan politik
karakteristik
fisik.
- kekuatan ekonomi
-
inteligensi -
kekuatan alamiah;
-
kemampuan musik
+ bencana alam
-
kemampuan artistik +
lokasi sumber alam
- assosiatif
an keputusan karier :
- yang berkaitan dng:
- mengenali situasi
pengalaman indi
keputusan yg penting
vidu
lain (Pemroses
- mendefinisikan kptsn
an informasi dari
atau mengatur tugas

-
menguji serta menilai
Hasil dari interaksi
pandangan terhadap
antara dunia
- pengalaman belajar
- generalisasi secara
- karakteristik genetik
luas thd bermacam
- kemampuan khusus
alternatif
- pengaruh lingkungan
- mengumpulkan infor
masi yang dibutuhkan
5. Generalisasi observa
tentang alternatif
si diri (SOG)
- menentukan sumber
- efikasi tugas:
informasi yg paling
- minat
dipercayai, akurat,
- nilai-nilai
personal
dan
relevan.
- merencanakan dan
6. Generalisasi pandangan
melaksanakan
urut-
terhadap dunia
an TL pengambilan
- generalisasi terhadap keputusan
bermacam-macam pe
kerjaan yang ada.
Gambar 1 : Faktor-faktor yang mempengaruhi
pengambilan-keputusan-karier (PKK)
(diringkas dari
Krumboltz dan Mitchell dalam Brown, 1987).
7
Berdasarkan gambar 1 dapat
dikemukakan bahwa, seseorang mengambil keputusan karier karena ia terlibat dalam
berbagai perilaku yang mengarah ke suatu karier (Mitchell & Krumboltz, 1987). Beberapa perilaku
pengambilan-keputusan-karier antara lain; bersekolah serta memasuki program
latihan, melamar pekerjaan, peningkatan pekerjaan, berubah jabatan atau memasuki
pekerjaan baru. Dasar pelaksanaan
perilaku tersebut menurut teori belajar adalah munculnya minat akibat dari
generalisasi pengamatan diri yang berasal dari pengalaman belajar sebelumnya.
Interaksi dari pengalaman belajar, sifat-sifat bawaan, kemampuan khusus dan
pengaruh lingkungan menghasilkan ketrampilan pendekatan tugas yang sangat
penting dalam pengambilan keputusan karier (Mitchell &
Krumboltz, 1987). Pengalaman belajar, termasuk pengalaman
akademis yang diperoleh seseorang setelah menempuh jenjang pendidikan (dalam hal ini SMA), dengan demikian sedikit
banyak akan menjadi dasar pijakan atau acuan ketika seseorang (siswa/siswi)
harus menentukan pilihan pada saat penjurusan.
Belajar dan Prestasi Belajar
1 Hakikat
Belajar
Belajar --secara garis besar--
dibagi menjadi dua jenis, yaitu belajar instrumental
dan belajar assosiatif. Jenis belajar
seperti ini terjadi juga dalam proses pembelajaran di sekolah, yang hasilnya
terukur dalam tampilan prestasi belajar siswa.
8
Belajar instrumental
ialah belajar yang terjadi melalui pengalaman orang waktu berada di dalam suatu
lingkungan dan ia “mengerjakan” langsung (berbuat sesuatu atas, mereaksi
terhadap) lingkungan itu, dan ia mendapatkan sesuatu sebagai hasil dari tindak
perbuatan itu, yaitu hasil yang dapat diamatinya (Munandir, 1986 :98). Pengalaman siswa waktu berada dalam lingkungan
sekolah juga merupakan belajar instrumental, dimana siswa mereaksi terhadap apa
yang ada dalam lingkungan sekolah (antara lain terhadap pelajaran dan proses belajar
mengajar), dan ia mendapatkan sesuatu sebagai hasil dari tindak perbuatannya
itu, yaitu hasil yang dapat diamatinya (berupa nilai rapor sebagai simbol
keberhasilan atau prestasinya dalam belajar). Karena merasa mampu terhadap
beberapa pelajaran berdasarkan prestasi yang diketahui dari nilai-nilai ulangan
yang dirasakan sebagai cerminan kemampuan dia, maka ia berani mengambil
keputusan untuk memilih jurusan atau karier tertentu.
Perbuatan belajar assosiatif
merupakan pengalaman dimana orang mengamati hubungan antara kejadian-kejadian
sehingga dapat memperkirakan konsekuensi apa yang bakal terjadi. Menurut
Munandir, belajar dengan mengamati model yang sebenarnya atau model fiksi
termasuk jenis pengalaman belajar assosiatif (model yang diamati atau “dimodel”,
dalam belajar assosiatif bisa berupa orang atau tokoh yang sebenarnya, bisa
juga berupa rekaan, atau fiksi ) (Munandir,
1986 : 99). Sebagai contoh misalnya siswa tidak menyukai jurusan/prog studi
IPS, bisa jadi merupakan bentuk assosiasi atas ketidak mampuannya terhadap
pelajaran ekonomi. Walaupun sebelumnya ia sudah belajar, namun
9
bila gilirannya dia ditunjuk untuk menjawab
pertanyaan, selalu saja tidak bisa menjawab. Apapun yang terjadi akhirnya ia
lebih baik memilih jurusan IPA daripada IPS agar tidak “bertemu” pelajaran
ekonomi, khususnya agar tidak bertemu guru ekonomi. Sebaliknya, Matematika bisa
menjadi pelajaran yang disenangi siswa, karena guru mampu “mengekspresikan”
pelajaran tersebut dalam suatu model (gambar dan/atau penjelasan) yang mudah
dipahami serta menyenangkan. Siswa-siswa akhirnya memperoleh dampak banyak yang
menjadi “pandai” dalam pelajaran matematika, akhirnya tidak-ragu-ragu dalam
memilih jurusan IPA.
Dalam teori belajar sosial,
unjuk perbuatan --yang merupakan perubahan tingkahlaku-- sebagai hasil dari
belajar terjadi setelah melalui urutan atau langkah-langkah yang panjang,
walaupun beberapa langkah yang ada ternyata tidak nampak “kasat mata” secara
jelas. Hal yang tidak boleh diabaikan adalah bahwa adanya penguat (reinforcement)
memang memperkuat tingkahlaku balas (respon), namun bukan syarat yang penting
dalam proses belajar sosial. Menurut Bandura
(1971 a, 1977 b) dalam Bell-Gredler
(1986 : 247) ada empat komponen proses yang berpengaruh terhadap belajar dan
unjuk perbutannya, “they are attention, retention, motor production, and
motivational processes”. Lebih lanjut agar suatu perbuatan atau tingkahlaku
dapat terlaksana secara lebih baik, Bandura
(1977 b : 193 [dalam Gredler,
1986 : 250]) menambahkan perlunya komponen lain yaitu efikasi-diri dan sistem
regulasi diri.
10
Motivasi merupakan langkah
lebih maju setelah berlangsungnya reproduksi motorik. Sehubungan dengan itu, Bandura mengatakan bahwa sumber utama
motivasi dilandasi oleh kognisi (Bandura,
1977 dalam Gredler [1986 : 263]). Ada
dua jenis motivasi yang dasarnya kognisi (motivator kognitif) atau bisa disebut
juga dengan motivasi diri, yaitu motivasi yang kemudian berkembang menjadi
bagian dari sistem regulasi-diri, dan representasi kognitif dari konsekuensi
yang akan datang untuk tingkahlaku tertentu yang berkembang menjadi
efikasi-diri. Antisipasi akan terjadinya penguatan untuk suatu tingkahlaku
tertentu memotivasi pengamat untuk berunjuk perbuatan.
Berangkat dari
pengertian dimana di dalamnya terungkap bahwa belajar merupakan proses psikis
yang berlangsung dan merupakan interaksi aktif antara subyek yang belajar
dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan pada diri individu
dalam hal: pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap, yang bersifat
relatif menetap atau lama (Sumadi
Suryabrata, 1983: 5). Gagasan tersebut dapat memperjelas dugaan terjadinya
proses belajar dalam pelaksanaan proses penentuan karier atau dapat dikatakan
bahwa pengambilan-keputusan- karier dapat laksanakan melalui proses belajar.
Lebih lanjut pemilihan jurusan sebagai pengambilan-keputusan-karier (PKK) dalam
perencanaan karier oleh siswa diduga merupakan output pemahaman siswa melalui
proses belajar terhadap berbagai mata pelajaran dan program bimbingan karier di
sekolah.
11
2. Prestasi
Belajar
Prestasi belajar
menurut Bloom merupakan hasil
perubahan yang meliputi tiga domain, kognitif afektif, dan psikomotor (Schiefelbein dan Simon, 1981 : 21-30). Prestasi belajar diungkapkan dengan simbol rata-rata
hasil evaluasi belajar siswa berupa rata-rata nilai rapor siswa tiap akhir semester. Beranjak dari pemahaman
tentang belajar, ternyata prestasi belajar
berpengaruh terhadap PKK sebagai bagian dari perencanaan karier siswa.
Indikasi dari kamatangan karier siswa ditunjukkan dengan kemampuannya dalam
perencanaan karier. Pemilihan program studi / jurusan di SMA bisa dikatakan
sebagai “awal” perencanaan untuk penentuan karier di masa depan individu.
Berdasarkan tugas perkembangannya, sikap dan kemampuan; pemilihan jurusan sebagai
perencanaan merupakan fungsi dari kematangan karier. Pemilihan jurusan juga
merupakan pengambilan-keputusan- karier (PKK) yang harus dijalani oleh siswa SMA
(klas I, cawu II).
Keterkaitan
antara Prestasi Belajar dengan Pengambilan-Keputusan Karier (PKK)
Keberhasilan siswa dalam
pengambilan-keputusan-karier (PKK) dipengaruhi oleh banyak hal, yang salah
satunya adalah prestasi belajar. Krumboltz (sebagaimana dapat dilihat dalam
gambar 1) menyatakan adanya 4 (empat) kategori, kemudian ditambah lagi dengan 3
(tiga) kategori yang berpengaruh terhadap pengambilan-keputusan-karier (PKK) (Krumboltz dan Mitchel dalam Brown,
1987). Gejala-gejala yang sementara ini muncul pada siswa SMA ternyata
mendukung pendapat Krumboltz tersebut, antara lain berupa;
12
prestasi sebagai hasil belajar. Gejala lain berupa
efikasi-diri sebagai generalisasi observasi diri, pemrosesan informasi dari
model sebagai pengalaman belajar, pengumpulan infromasi dan penentuan sumber
informasi yang paling dipercayai, akurat, serta relevan sebagai ketrampilan
pendekatan tugas dan pembuatan keputusan karier.
Prestasi belajar dalam hal ini
dimaksudkan sebagai pengalaman belajar akademis yang bersifat keilmuan dan
dengan menggunakan analisis intelektual, sehingga ranah tertingginya tergolong
ranah afektif. Prestasi belajar diungkapkan
dengan simbol rata-rata hasil evaluasi belajar siswa berupa rata-rata nilai
rapor siswa tiap akhir semester. Bolton dan Neil (1977, 132-136) berpendapat bahwa kecakapan intelektual
seseorang dipengaruhi oleh pengorganisasian bahan ajar yang dipelajarinya,
motivasinya, obyek yang dipelajari, serta tujuannya. Gagne mengatakan bahwa
manusia dengan segala kemampuannya sangat ditentukan oleh kegiatan belajarnya (Gagne 1977 : 1-2). Dengan demikian
kemampuan dalam pengambilan-keputusan-karier (PKK) individu-pun dipengaruhi
oleh belajar, dalam hal ini adalah prestasi belajarnya. Penelitian tentang hal
ini telah membuktikan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara
prestasi belajar siswa SMA dengan pengambilan keputusan karier (Kusbandiami 1990 ; Abimanyu , 1990)
Temuan di Lapangan
Prestasi belajar
siswa secara akademik ditunjukkan dengan nilai-nilai laporan akademik, dengan
demikian ia adalah merupakan prestasi akademik. Prestasi akademik
13
ternyata berhubungan
dengan kematangan karier (Super dan Overstreet dalam Osipow, 1983: 162; Crook., Healy., O’Shea, 1984:
74-75; Tseng dan Rhodes, 1973:
522-527; Cover dalam Super, 1974: 33). Dillard ( 1976 ), lebih lanjut -dari
penelitiannya terhadap latar belakang sosial ekonomi dan kematangan karier dari
pemuda-pemuda berkulit hitam- temuannya menyatakan bahwa siswa yang pandai akan
cenderung lebih mampu dalam membuat keputusan dengan baik daripada siswa yang
kurang pandai. Penelitian di Indonesia juga telah dilakukan oleh Kusbandiami (1990), juga oleh Abimanyu (1990), menyatakan bahwa terdapat
hubungan positif dan signifikan antara prestasi belajar siswa SMA dengan
pengambilan keputusan karier.
Luhur (2004), juga
telah melakukan penelitian yang melibatkan 3 (tiga) variabel bebas, salah
satunya adalah prestasi belajar (dua
yang lain adalah efikasi-diri dan
informasi karier) mengenai keterkaitannya (hubungannya) dengan kematangan karier (KK), yang dilakukan
pada siswa SMA Negeri di Malang. Pada penelitian tersebut terdapat temuan bahwa
efikasi-diri (ED), prestasi belajar/rata-rata tingkatan nilai (RTN), dan
informasi karier (IK) secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan,
dengan koefisien korelasi sebesar 0,613. Dengan kata lain pengaruh efikasi-diri
(ED), prestasi belajar/rata-rata tingkatan nilai (RTN), dan informasi karier
(IK) secara bersama-sama cukup kuat terhadap kematangan karier (KK). Temuan
lebih lanjut menyatakan bahwa 36,5 % variasi dari kematangan karier bisa
dijelaskan dari variasi ketiga variabel bebas (yang salah satunya adalah prestasi
belajar), sedangkan pengaruh lain sebesar 63,5 % berasal dari variabel yang
14
tidak dilibatkan dalam penelitian. Secara sendiri,
prestasi belajar ternyata juga tetap berkorelasi terhadap pengambilan-keputusan-karier,
walaupun korelasinya kecil (dengan r = 0,2225).
Saran-saran
Berdasarkan uraian yang sudah dikemukakan,
maka diajukan saran-saran sebagai berikut :
1. Untuk para pengelola sekolah (Kepala
Sekolah dan Guru) disarankan agar melakukan upaya-upaya untuk dapat menaikkan prestasi
belajar siswa melalui peningkatan mutu sekolah yang muaranya diharapkan dapat
meningkatkan kualitas pengambilan-keputusan-karier siswa.
2. Agar Guru Pembimbing membuat program untuk
mempertinggi prestasi belajar siswa antara lain melalui layanan penguasaan
konten dengan materi-materi misalnya; bagaimana mengatur waktu belajar,
bagaimana cara mempelajari buku, bagaimana mempersiaplkan diri untuk menghadapi
ulangan/ujian semester, bagaimana menampilkan unjuk kerja yang baik dalam
belajar, dan bagaimana individu hendaknya pantang menyerah atau harus gigih
dalam menghadapi situasi sesulit apapun.
3.
Perlu lebih sering diadakan pemantapan kepada Guru BK
mengenai proses bimbingan karier secara terus menerus dan sistimatis, melalui
penataran-penataran atau pelatihan-pelatihan.
4.
Agar para siswa sedini mungkin diberikan suatu
pemantapan mengenai Pengambilan-Keputusan-Karier dalam suatu program yang
sistematis dan
15
terencana.
Pemantapan ini mencakup antara lain pola persiapan dan struktur
pengambilan-keputusan-karier, dalam hal ini adalah proses pemilihan jurusan
dengan klasifikasi berbagai jurusan yang harus diinformasikan kepada siswa.
Informasi ini hendaknya dilakukan secara terus menerus disesuaikan dengan
karakteristik perkembangan, baik masa sekarang maupun masa yang akan datang
khususnya yang berhubungan dengan sumber daya manusia yang sesuai dengan
globalisasi dan tuntutan pasar bebas, juga dengan pola pembangunan nasional yang dicanangkan di Indonesia.
5.
Berkenaan dengan pengembangan program bimbingan karier,
disarankan kepada pengelola pendidikan untuk mengadakan kerjasama dengan
berbagai pihak, yaitu dengan pihak swasta dan pemerintah setempat melalui suatu
program terpadu. Hal ini diperlukan untuk kemudahan bagi siswa memperoleh
informasi dari tangan pertama dalam rangka perencanaan kariernya .
DAFTAR RUJUKAN
Abimanyu, Soli., (1990). Hubungan
antara Beberapa Faktor Sosial dan Prestasi, Jenis Kelamin, dan Lokus kendali
dengan Kematangan Karier Siswa Sekolah Menengah Atas. Malang Fakultas Pascasarjana IKIP Malang, Disertasi (tidak diterbitkan)
Brown, D., & Brooks,
L (1984). Career
choice and development, aplliying
contempory theories to practice. San
Francisco, California: Jossey - Bass.
Dillard, J.M. (1976).
Sosioeconomic Background and the
Career Maturity of Black Youths.
Vocational Guidance Quarterly,
25. 65-70.
Gagne, Robert M., (1977). The
Conditions of Learning. New York:
Holt, Rinehart and
Winston.
George, Rickey L., dan Cristiani, Therese S., (1990). Counseling Theory and Practice (Third
Edition). Boston
: Allyn and Bacon.
Gredler, Bel. M.E., (1986). Learning and Instruction Theory into
Practice. New York
: Macmillan Publishing Company.
Hansen, J.C., Stevic, Richard R., Warner, Richard W. Jr.,
(1977). Counseling - Theory and Process.
(Second Edition), Boston:
Allyn and Bacon,Inc.
Krumboltz, J.D., (1994). The Career Beliefs Inventory. Journal of Counseling Development,
March/April, 72, 424-428.
Krumboltz, J.D., dan
Baker, R.D., (1973). Behavioral counseling for vocational decision. dalam
H. Barrow (eds). Career Guidance
for a New Age. Boston,
Massachusets : Houghton Mifflin, 235-284.
Kusbandiami., (1990). Hubungan
Konsep Diri, Informasi Karier, dan Prestasi Belajar, dengan Perencanaan Karier.
Tesis tidak diterbitkan. IKIP Malang.
Munandir. (1986).
Program bimbingan karier di sekolah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Proyek Tenaga Akademik
16
17
Osipow, Samuel H.
(1983). Theories of Career Development (Third Edition). Englewood
Cliffs. New Jersey:
Prentice-Hall, Inc.
Page, G.T.., Thomas, J.B.,
& Marshall,
A.R. (1978). International Dictionary of education. New
York : Nichols
Publishing Company.
Pietrofesa, John J., Hoffman, Alan., Splete, Howard H.,Pinto, Diana V., (1978).
Counseling: Theory, Research, and
Prectice, Chicago:
Rand McNally College Publishing Company.
Schiefelbein, Ernesto dan
Simmons, John, (1981). The Detterminants
of School Achievement. Ottawa: IDRC.
Suryabrata,
Sumadi.,(1983). Proses Belajar di
Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Andi
Offset
Super, E Donald. , (1957). Career Development : Self
Concept Theory, College Entrance Examination Board. New
York.
-----, (1974). Measuring
Vocational Maturity for Counseling and Evaluation (Monograph). Washington,D.C.
: The National Vocational Guidance Association, Devision af the American
Personnel and Guidance Association.
-----, . (1975). The
psychology of career. New York: Harper & Row.
Tseng, M.S., dan Rhodes, C.I., (1973).
Correlates of The Perception of
Occupational Prestige. Journal of Counseling Psychology, 20,
6, 522-527.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar