Selasa, 10 Januari 2017

PENGARUH PRESTASI BELAJAR TERHADAP PENGAMBILAN-KEPUTUSAN-KARIER (dimuat pada jurnal Cakrawala 2009)


PENGARUH PRESTASI BELAJAR TERHADAP

PENGAMBILAN-KEPUTUSAN-KARIER 
 (dimuat pada jurnal Cakrawala 2009)

Oleh

LUHUR WICAKSONO

Abstrak  :  Tahapan penting yang harus dilalui oleh siswa SMA adalah pengambilan – keputusan – karier (PKK), berupa keharusan untuk menentukan/memilih jurusan/program studi. Ketepatan/optimalisasi pengambilan keputusan sangat ditentukan oleh beberapa aspek, dimana keberadaan aspek tersebut penting dan berpengaruh yang tidak kecil. Salah satu aspek yang terkait atau ikut mempengaruhi pengambilan-keputusan- karier antara lain adalah prestasi belajar. Bukti hasil temuan menunjukkan bahwa prestasi belajar yang tinggi pada siswa berkait dengan tingginya kematangan karier siswa, yang bermuara pada kemampuan siswa dalam melakukan pengambilan-keputusan-karier.

Kata Kunci : Prestasi-Belajar, Pengambilan-Keputusan-Karier

Pendahuluan
Bagi siswa SMA, pengambilan-keputusan-karier yang termasuk penting adalah keputusan untuk memilih program studi, sedangkan pada saat itu banyak siswa yang belum mempunyai kematangan untuk itu. Hansen (1977) mengemukakan bahwa belum matangnya keputusan pilihan program studi di antara siswa dapat disebabkan oleh faktor-faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor eksternal antara lain keluarga dan sekolah. Ginzberg (dalam Brown, 1987) mengemukakan bahwa dalam pengambilan-keputusan-karier (PKK) orang tua hendaklah tidak bersikap netral, namun mereka hendaklah mengajak anak-anaknya berdiskusi dalam penentuan pilihan karier mereka. Sedangkan pihak sekolah
1

2

bukanlah hanya membantu siswa untuk memerinci pekerjaan mereka, namun yang lebih baik adalah dengan memberikan penjelasan-penjelasan yang diperlukan untuk memperoleh kompetensi dasar berupa persiapan mereka untuk bekerja secara profesional. Sedangkan faktor-faktor internal (Pietrofesa, 1978: 320) adalah kecerdasan, kepercayaan pada diri sendiri, konsep mengenai diri sendiri, pengetahuan mengenai diri sendiri, nilai-nilai yang dianut, dll. Super  mengutarakan bahwa proses perkembangan karier pada dasarnya adalah implementasi dan pengembangan dari konsep-diri (self-concept);. ini adalah proses penyatuan dan kompromi dalam konsep-diri yang merupakan hasil interaksi dari: bakat, perubahan fisik, kesempatan mengalami berbagai peran, dan evaluasi yang seluas-luasnya (Super dalam Brown, 1987 : 195). Pemahaman atau pengenalan-diri menitikberatkan pada  penghargaan dan  penilaian-diri  yang tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah yang mengakibatkan pilihan yang tidak tepat atau aspirasi yang tidak realistis.
Keberhasilan siswa dalam membuat keputusan karier ternyata dipengaruhi oleh banyak faktor. Krumboltz untuk itu secara lebih sistematis membuat 4 (empat) kategori, kemudian ditambah lagi dengan 3 (tiga) kategori yang berpengaruh secara relevan terhadap pengambilan-keputusan-karier (PKK) (Krumboltz dan Mitchel dalam Brown, 1987), (lihat gambar 1). Gejala-gejala yang sementara ini muncul di SMA ternyata mendukung pendapat Krumboltz tersebut. Gejala tersebut salahsatunya berupa prestasi sebagai hasil dari  belajar (gejala lain misalnya;  efikasi-diri sebagai generalisasi observasi-diri, pemrosesan informasi dari model sebagai pengalaman belajar, pengumpulan informasi dan penentuan sumber
3

informasi yang paling dipercayai, akurat serta relevan sebagai ketrampilan pendekatan tugas dan pembuatan keputusan karier), berpengaruh terhadap pengambilan-keputusan-karier (PKK).
Pengalaman belajar dimaksudkan sebagai pengalaman belajar akademis yang bersifat keilmuan dan dengan menggunakan analisis intelektual, sehingga tergolong ranah afektif. Gagne sebagaimana mengatakan bahwa manusia dengan segala kemampuannya sangat ditentukan oleh kegiatan belajarnya (Gagne 1977 : 1-2). Dengan demikian kemampuan dalam pengambilan-keputusan-karier (PKK) individu-pun dipengaruhi oleh belajar, dalam hal ini adalah prestasi belajarnya. Penelitian tentang hal ini telah dilakukan, dan membuktikan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara prestasi belajar siswa SMA dengan pengambilan keputusan karier (Kusbandiami 1990 ; Abimanyu , 1990)


Pengambilan -Keputusan-Karier (PKK)
Pengambilan-keputusan-karier (PKK) merupakan suatu proses untuk menentukan pilihan dari berbagai alternatif yang berkaitan dengan pekerjaan. Pengambilan-keputusan-karier  (PKK) merupakan suatu ketrampilan atau kemampuan yang diartikan sebagai aktivitas mental dan fisik yang sistematis dan terkoordinasi yang pembentukannya melalui latihan atau kegiatan (Page., Thomas., & Marshal., 1978). Ketrampilan-ketrampilan pengambilan-keputusan-karier dapat dipelajari secara sistematis (George dan Cristiani., 1990 : 224), karena kematangan karier adalah daerah yang siap dijangkau proses belajar
4

yang kompleks mulai dari awal masa kanak-kanak dan terus menerus sepanjang hidup (Herr dan Cramer dalam George dan Cristiani., 1990 : 225). Dengan demikian pengambilan-keputusan-karier merupakan suatu ketrampilan yang dapat dipelajari atau diajarkan kepada individu, atau dengan kata lain, melalui suatu pembelajaran, pengambilan-keputusan-karier dapat ditingkatkan kualitasnya sehingga membuahkan hasil yang semakin sempurna, baik dalam hal sikap maupun kompetensi.
Pengambilan-keputusan-karier (PKK) bagi siswa SMA mempunyai makna yang sangat besar, karena menentukan sekali bagaimana alur kariernya di masa yang akan datang. Pentingnya permasalahan tersebut semakin dirasakan khususnya ketika siswa berada pada akhir kelas I menjelang kenaikan kelas II di sekolah menengah umum, walaupun permasalahan karier itu sendiri sebenarnya merupakan suatu proses yang sudah ada sebelum siswa itu sendiri menginjak kelas I  SMA.
Permasalahan karier pada siswa kelas I SMA terjadi karena pada masa menjelang kenaikan kelas ini siswa mulai dihadapkan pada suatu situasi pilihan “spesialisasi” dimana diharapkan siswa membuat keputusan pilihan yang tepat yaitu kesesuaian antara bidang kajian yang akan ditekuni di kelas II dengan minat dan kemampuannya. Hal yang demikian sedikit-banyak tentu akan berpengaruh pada pengambilan-keputusan-karier di masa mendatang yakni melanjutkan belajar ke perguruan tinggi (dan memilih fakultas dan jurusan   rtentu) atau harus terjun ke masyarakat memasuki lapangan pekerjaan. Bagi siswa yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka akan dihadapkan pada masalah program
5

studi apa yang paling tepat untuk dimasuki dengan segala konsekuensinya, ke jenjang S 1  atau cukup ke jenjang Diploma. Siswa yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, masalah yang dihadapi adalah jenjang pekerjaan apa yang tersedia bagi lulusan SMA?  Apakah tersedia faktor pendukung bagi pilihan kerja yang telah diputuskan?  Lebih dari itu  -baik bagi yang melanjutkan ke perguruan tinggi atau yang memilih untuk memasuki dunia kerja, keyakinan atau rasa percaya-diri terhadap kemampuannya merupakan faktor yang tidak kalah penting di dalam menentukan pilihan karier.
Proses pengambilan-keputusan-karier (PKK) dapat diketahui melalui pemahaman teori-teori dan model-model pengambilan-keputusan-karier (PKK). Banyak teori dan model PKK yang dikemukakan oleh para ahli, salah satunya adalah model PKK yang dikemukakan oleh Krumboltz dengan teori belajar-sosial-nya. Dalam teorinya, Krumboltz menyatakan bahwa proses  pengambilan-keputusan-karier secara garis besar dipengaruhi oleh  empat kategori dan tiga faktor lain yang juga berpengaruh secara relevan terhadap pengambilan-keputusan-karier (PKK)  (Krumboltz dan Mitchel dalam Brown,  1987), (lihat gambar 1).
Krumboltz dalam teori kerjanya memang banyak terkait oleh apa yang dikemukakan Bandura. Itulah sebabnya apa yang dikemukakan oleh Bandura,  “digunakan juga”  oleh Krumbolt. Sebagai contoh seperti ciri-ciri fisik (antara lain ; penampilan yang atraktif, ras, jenis kelamin) yang dikemukakan oleh Bandura, digunakan oleh Krumboltz walau dengan istilah lain, yaitu sumbangan genetik. Tentu saja banyak terdapat faktor-faktor yang mempunyai hubungan dan berpengaruh terhadap pengambilan-keputusan-karier (PKK),
6

Untuk lebih memperjelas tentang beberapa faktor yang mempengaruhi PKK, dapat dilihat pada gambar 1, berikut :

1. Sumbangan genetik dan                                                                               2. Kejadian-kejadian dan                                                                                          
    kemampuan khusus.                                                                                        kondisi lingkungan                                 
- r a s                                                                                                             - kekuatan sosial
- jenis kelamin                                                                                               - kekuatan kultural
- penampilan dan                                                                                           - kekuatan politik
karakteristik fisik.                                                                                      - kekuatan ekonomi
- inteligensi                                                                                                   - kekuatan alamiah;
- kemampuan musik                                                                                         + bencana alam
- kemampuan artistik                                                                                        + lokasi sumber alam     

3.  Pengalaman belajar                                                                                    7. Ketrampilan pendekat-    
     - instrumental                                                                                                 an tugas dan pembuat- 
- assosiatif                                                                                                     an keputusan karier :
- yang berkaitan dng:                                                                                      - mengenali  situasi
   pengalaman indi                                                                                            keputusan yg penting
       vidu lain (Pemroses                                                                                      - mendefinisikan kptsn
   an informasi dari                                                                                          atau mengatur tugas
        model)                                                                                                          dan realitasnya
                                                                                                                           - menguji serta menilai
4. Ketrampilan pendekat-                                     P K K                                        secara akurat obser-                   
    an tugas                                                                                                            vasi diri generalisasi
    Hasil dari interaksi                                                                                           pandangan terhadap
     antara                                                                                                              dunia
      - pengalaman belajar                                                                                   -  generalisasi secara      
      - karakteristik genetik                                                                                     luas thd bermacam  
 - kemampuan khusus                                                                                     alternatif  
      - pengaruh lingkungan                                                                                 - mengumpulkan infor
masi yang dibutuhkan
5.  Generalisasi observa                                                                                       tentang alternatif  
     si diri (SOG)                                                                                                - menentukan sumber
     - efikasi tugas:                                                                                                informasi yg paling
     - minat                                                                                                           dipercayai, akurat,
     - nilai-nilai personal                                                                                       dan relevan.       
                                                                                                                        -  merencanakan dan
6.  Generalisasi pandangan                                                                                  melaksanakan urut-       
      terhadap dunia                                                                                               an TL pengambilan           
      - generalisasi terhadap                                                                                   keputusan                 
         bermacam-macam pe                                                                                
         kerjaan yang ada.

Gambar  1 :  Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan-keputusan-karier (PKK)
                    (diringkas dari Krumboltz dan Mitchell dalam Brown, 1987).
                   

7

Berdasarkan gambar 1 dapat dikemukakan bahwa, seseorang mengambil keputusan karier karena ia terlibat dalam berbagai perilaku yang mengarah ke suatu karier (Mitchell  &  Krumboltz,  1987). Beberapa perilaku pengambilan-keputusan-karier antara lain; bersekolah serta memasuki program latihan, melamar pekerjaan, peningkatan pekerjaan, berubah jabatan atau memasuki pekerjaan baru.  Dasar pelaksanaan perilaku tersebut menurut teori belajar adalah munculnya minat akibat dari generalisasi pengamatan diri yang berasal dari pengalaman belajar sebelumnya. Interaksi dari pengalaman belajar, sifat-sifat bawaan, kemampuan khusus dan pengaruh lingkungan menghasilkan ketrampilan pendekatan tugas yang sangat penting dalam pengambilan keputusan karier (Mitchell  &  Krumboltz,  1987).  Pengalaman belajar, termasuk pengalaman akademis yang diperoleh seseorang setelah menempuh jenjang pendidikan  (dalam hal ini SMA), dengan demikian sedikit banyak akan menjadi dasar pijakan atau acuan ketika seseorang (siswa/siswi) harus menentukan pilihan pada saat penjurusan.      

Belajar dan Prestasi Belajar
1    Hakikat Belajar
Belajar --secara garis besar-- dibagi menjadi dua jenis, yaitu belajar instrumental dan belajar assosiatif. Jenis belajar seperti ini terjadi juga dalam proses pembelajaran di sekolah, yang hasilnya terukur dalam tampilan prestasi belajar siswa.

8

Belajar instrumental ialah belajar yang terjadi melalui pengalaman orang waktu berada di dalam suatu lingkungan dan ia “mengerjakan” langsung (berbuat sesuatu atas, mereaksi terhadap) lingkungan itu, dan ia mendapatkan sesuatu sebagai hasil dari tindak perbuatan itu, yaitu hasil yang dapat diamatinya (Munandir, 1986 :98). Pengalaman siswa waktu berada dalam lingkungan sekolah juga merupakan belajar instrumental, dimana siswa mereaksi terhadap apa yang ada dalam lingkungan sekolah (antara lain terhadap pelajaran dan proses belajar mengajar), dan ia mendapatkan sesuatu sebagai hasil dari tindak perbuatannya itu, yaitu hasil yang dapat diamatinya (berupa nilai rapor sebagai simbol keberhasilan atau prestasinya dalam belajar). Karena merasa mampu terhadap beberapa pelajaran berdasarkan prestasi yang diketahui dari nilai-nilai ulangan yang dirasakan sebagai cerminan kemampuan dia, maka ia berani mengambil keputusan untuk memilih jurusan atau karier tertentu.
Perbuatan belajar assosiatif merupakan pengalaman dimana orang mengamati hubungan antara kejadian-kejadian sehingga dapat memperkirakan konsekuensi apa yang bakal terjadi. Menurut Munandir, belajar dengan mengamati model yang sebenarnya atau model fiksi termasuk jenis pengalaman belajar assosiatif (model yang diamati atau “dimodel”, dalam belajar assosiatif bisa berupa orang atau tokoh yang sebenarnya, bisa juga berupa rekaan, atau fiksi ) (Munandir, 1986 : 99). Sebagai contoh misalnya siswa tidak menyukai jurusan/prog studi IPS, bisa jadi merupakan bentuk assosiasi atas ketidak mampuannya terhadap pelajaran ekonomi. Walaupun sebelumnya ia sudah belajar, namun
9

bila gilirannya dia ditunjuk untuk menjawab pertanyaan, selalu saja tidak bisa menjawab. Apapun yang terjadi akhirnya ia lebih baik memilih jurusan IPA daripada IPS agar tidak “bertemu” pelajaran ekonomi, khususnya agar tidak bertemu guru ekonomi. Sebaliknya, Matematika bisa menjadi pelajaran yang disenangi siswa, karena guru mampu “mengekspresikan” pelajaran tersebut dalam suatu model (gambar dan/atau penjelasan) yang mudah dipahami serta menyenangkan. Siswa-siswa akhirnya memperoleh dampak banyak yang menjadi “pandai” dalam pelajaran matematika, akhirnya tidak-ragu-ragu dalam memilih jurusan IPA.
Dalam teori belajar sosial, unjuk perbuatan --yang merupakan perubahan tingkahlaku-- sebagai hasil dari belajar terjadi setelah melalui urutan atau langkah-langkah yang panjang, walaupun beberapa langkah yang ada ternyata tidak nampak “kasat mata” secara jelas. Hal yang tidak boleh diabaikan adalah bahwa adanya penguat (reinforcement) memang memperkuat tingkahlaku balas (respon), namun bukan syarat yang penting dalam proses belajar sosial. Menurut Bandura (1971 a,  1977 b)  dalam Bell-Gredler (1986 : 247) ada empat komponen proses yang berpengaruh terhadap belajar dan unjuk perbutannya, “they are attention, retention, motor production, and motivational processes”. Lebih lanjut agar suatu perbuatan atau tingkahlaku dapat terlaksana secara lebih baik, Bandura (1977 b : 193 [dalam Gredler, 1986 : 250]) menambahkan perlunya komponen lain yaitu efikasi-diri dan sistem regulasi diri.

10

Motivasi merupakan langkah lebih maju setelah berlangsungnya reproduksi motorik. Sehubungan dengan itu, Bandura mengatakan bahwa sumber utama motivasi dilandasi oleh kognisi (Bandura, 1977 dalam Gredler [1986 : 263]). Ada dua jenis motivasi yang dasarnya kognisi (motivator kognitif) atau bisa disebut juga dengan motivasi diri, yaitu motivasi yang kemudian berkembang menjadi bagian dari sistem regulasi-diri, dan representasi kognitif dari konsekuensi yang akan datang untuk tingkahlaku tertentu yang berkembang menjadi efikasi-diri. Antisipasi akan terjadinya penguatan untuk suatu tingkahlaku tertentu memotivasi pengamat untuk berunjuk perbuatan.
Berangkat dari pengertian dimana di dalamnya terungkap bahwa belajar merupakan proses psikis yang berlangsung dan merupakan interaksi aktif antara subyek yang belajar dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan pada diri individu dalam hal: pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap, yang bersifat relatif menetap atau lama (Sumadi Suryabrata, 1983: 5). Gagasan tersebut dapat memperjelas dugaan terjadinya proses belajar dalam pelaksanaan proses penentuan karier atau dapat dikatakan bahwa pengambilan-keputusan- karier dapat laksanakan melalui proses belajar. Lebih lanjut pemilihan jurusan sebagai pengambilan-keputusan-karier (PKK) dalam perencanaan karier oleh siswa diduga merupakan output pemahaman siswa melalui proses belajar terhadap berbagai mata pelajaran dan program bimbingan karier di sekolah. 


11

2. Prestasi Belajar
Prestasi belajar menurut Bloom merupakan hasil perubahan yang meliputi tiga domain, kognitif afektif, dan psikomotor (Schiefelbein dan Simon, 1981 : 21-30). Prestasi belajar diungkapkan dengan simbol rata-rata hasil evaluasi belajar siswa berupa rata-rata nilai rapor siswa  tiap akhir semester. Beranjak dari pemahaman tentang belajar, ternyata prestasi belajar  berpengaruh terhadap PKK sebagai bagian dari perencanaan karier siswa. Indikasi dari kamatangan karier siswa ditunjukkan dengan kemampuannya dalam perencanaan karier. Pemilihan program studi / jurusan di SMA bisa dikatakan sebagai “awal” perencanaan untuk penentuan karier di masa depan individu. Berdasarkan tugas perkembangannya, sikap dan kemampuan; pemilihan jurusan sebagai perencanaan merupakan fungsi dari kematangan karier. Pemilihan jurusan juga merupakan pengambilan-keputusan- karier (PKK) yang harus dijalani oleh siswa SMA (klas I, cawu II).

 Keterkaitan antara Prestasi Belajar dengan Pengambilan-Keputusan Karier (PKK)
Keberhasilan siswa dalam pengambilan-keputusan-karier (PKK) dipengaruhi oleh banyak hal, yang salah satunya adalah prestasi belajar. Krumboltz (sebagaimana dapat dilihat dalam gambar 1) menyatakan adanya 4 (empat) kategori, kemudian ditambah lagi dengan 3 (tiga) kategori yang berpengaruh terhadap pengambilan-keputusan-karier (PKK) (Krumboltz dan Mitchel dalam Brown, 1987). Gejala-gejala yang sementara ini muncul pada siswa SMA ternyata mendukung pendapat Krumboltz tersebut, antara lain berupa;
12

prestasi sebagai hasil belajar. Gejala lain berupa efikasi-diri sebagai generalisasi observasi diri, pemrosesan informasi dari model sebagai pengalaman belajar, pengumpulan infromasi dan penentuan sumber informasi yang paling dipercayai, akurat, serta relevan sebagai ketrampilan pendekatan tugas dan pembuatan keputusan karier.
Prestasi belajar dalam hal ini dimaksudkan sebagai pengalaman belajar akademis yang bersifat keilmuan dan dengan menggunakan analisis intelektual, sehingga ranah tertingginya tergolong ranah afektif. Prestasi belajar diungkapkan dengan simbol rata-rata hasil evaluasi belajar siswa berupa rata-rata nilai rapor siswa  tiap akhir semester. Bolton dan Neil (1977, 132-136) berpendapat bahwa kecakapan intelektual seseorang dipengaruhi oleh pengorganisasian bahan ajar yang dipelajarinya, motivasinya, obyek yang dipelajari, serta tujuannya. Gagne  mengatakan bahwa manusia dengan segala kemampuannya sangat ditentukan oleh kegiatan belajarnya (Gagne 1977 : 1-2). Dengan demikian kemampuan dalam pengambilan-keputusan-karier (PKK) individu-pun dipengaruhi oleh belajar, dalam hal ini adalah prestasi belajarnya. Penelitian tentang hal ini telah membuktikan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara prestasi belajar siswa SMA dengan pengambilan keputusan karier (Kusbandiami 1990 ; Abimanyu , 1990)

Temuan di Lapangan

Prestasi belajar siswa secara akademik ditunjukkan dengan nilai-nilai laporan akademik, dengan demikian ia adalah merupakan prestasi akademik. Prestasi akademik
13

ternyata berhubungan dengan kematangan karier (Super dan Overstreet dalam Osipow, 1983: 162;  Crook., Healy., O’Shea, 1984: 74-75;  Tseng dan Rhodes, 1973: 522-527;  Cover dalam Super, 1974: 33).  Dillard ( 1976 ), lebih lanjut -dari penelitiannya terhadap latar belakang sosial ekonomi dan kematangan karier dari pemuda-pemuda berkulit hitam- temuannya menyatakan bahwa siswa yang pandai akan cenderung lebih mampu dalam membuat keputusan dengan baik daripada siswa yang kurang pandai. Penelitian di Indonesia juga telah dilakukan oleh Kusbandiami (1990), juga oleh Abimanyu (1990), menyatakan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara prestasi belajar siswa SMA dengan pengambilan keputusan karier.
Luhur (2004), juga telah melakukan penelitian yang melibatkan 3 (tiga) variabel bebas, salah satunya adalah prestasi belajar (dua yang lain adalah  efikasi-diri dan informasi karier) mengenai keterkaitannya (hubungannya) dengan kematangan karier (KK), yang dilakukan pada siswa SMA Negeri di Malang. Pada penelitian tersebut terdapat temuan bahwa efikasi-diri (ED), prestasi belajar/rata-rata tingkatan nilai (RTN), dan informasi karier (IK) secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan, dengan koefisien korelasi sebesar 0,613. Dengan kata lain pengaruh efikasi-diri (ED), prestasi belajar/rata-rata tingkatan nilai (RTN), dan informasi karier (IK) secara bersama-sama cukup kuat terhadap kematangan karier (KK). Temuan lebih lanjut menyatakan bahwa 36,5 % variasi dari kematangan karier bisa dijelaskan dari variasi ketiga variabel bebas (yang salah satunya adalah prestasi belajar), sedangkan pengaruh lain sebesar 63,5 % berasal dari variabel yang

14

tidak dilibatkan dalam penelitian. Secara sendiri, prestasi belajar ternyata juga tetap berkorelasi terhadap pengambilan-keputusan-karier, walaupun korelasinya kecil (dengan r = 0,2225).

Saran-saran
Berdasarkan uraian yang sudah dikemukakan, maka diajukan saran-saran sebagai berikut :

1.      Untuk para pengelola sekolah (Kepala Sekolah dan Guru) disarankan agar melakukan upaya-upaya untuk dapat menaikkan prestasi belajar siswa melalui peningkatan mutu sekolah yang muaranya diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengambilan-keputusan-karier siswa.
2.      Agar Guru Pembimbing membuat program untuk mempertinggi prestasi belajar siswa antara lain melalui layanan penguasaan konten dengan materi-materi misalnya; bagaimana mengatur waktu belajar, bagaimana cara mempelajari buku, bagaimana mempersiaplkan diri untuk menghadapi ulangan/ujian semester, bagaimana menampilkan unjuk kerja yang baik dalam belajar, dan bagaimana individu hendaknya pantang menyerah atau harus gigih dalam menghadapi situasi sesulit apapun.
3.      Perlu lebih sering diadakan pemantapan kepada Guru BK mengenai proses bimbingan karier secara terus menerus dan sistimatis, melalui penataran-penataran atau pelatihan-pelatihan.
4.      Agar para siswa sedini mungkin diberikan suatu pemantapan mengenai Pengambilan-Keputusan-Karier dalam suatu program yang sistematis dan
15

terencana. Pemantapan ini mencakup antara lain pola persiapan dan struktur pengambilan-keputusan-karier, dalam hal ini adalah proses pemilihan jurusan dengan klasifikasi berbagai jurusan yang harus diinformasikan kepada siswa. Informasi ini hendaknya dilakukan secara terus menerus disesuaikan dengan karakteristik perkembangan, baik masa sekarang maupun masa yang akan datang khususnya yang berhubungan dengan sumber daya manusia yang sesuai dengan globalisasi dan tuntutan pasar bebas, juga dengan pola pembangunan   nasional yang dicanangkan di Indonesia.
5.      Berkenaan dengan pengembangan program bimbingan karier, disarankan kepada pengelola pendidikan untuk mengadakan kerjasama dengan berbagai pihak, yaitu dengan pihak swasta dan pemerintah setempat melalui suatu program terpadu. Hal ini diperlukan untuk kemudahan bagi siswa memperoleh informasi dari tangan pertama dalam rangka perencanaan kariernya .











DAFTAR RUJUKAN


Abimanyu, Soli., (1990). Hubungan antara Beberapa Faktor Sosial dan Prestasi, Jenis Kelamin, dan Lokus kendali dengan Kematangan Karier Siswa Sekolah Menengah Atas. Malang  Fakultas Pascasarjana IKIP Malang, Disertasi (tidak diterbitkan)

Brown,  D., &  Brooks,  L  (1984).  Career choice and development,  aplliying contempory theories to practice. San Francisco, California:  Jossey - Bass.

Dillard,  J.M.  (1976).  Sosioeconomic Background and the Career Maturity of Black Youths.  Vocational Guidance Quarterly,  25.  65-70.

Gagne, Robert M., (1977). The Conditions of Learning. New York: Holt, Rinehart and Winston.

George, Rickey L., dan Cristiani, Therese S., (1990). Counseling Theory and Practice (Third Edition). Boston : Allyn and Bacon.

Gredler, Bel. M.E.,  (1986). Learning and Instruction Theory into Practice. New York : Macmillan Publishing Company.  

Hansen,  J.C.,  Stevic, Richard R., Warner, Richard W. Jr., (1977). Counseling - Theory and Process. (Second Edition), Boston: Allyn and Bacon,Inc.  

Krumboltz, J.D., (1994). The Career Beliefs Inventory. Journal of Counseling Development, March/April, 72, 424-428.

Krumboltz, J.D., dan Baker, R.D., (1973). Behavioral counseling for vocational decision.  dalam  H. Barrow (eds). Career Guidance for a New Age. Boston, Massachusets : Houghton Mifflin, 235-284.

Kusbandiami., (1990). Hubungan Konsep Diri, Informasi Karier, dan Prestasi Belajar, dengan Perencanaan Karier. Tesis tidak diterbitkan. IKIP Malang.

Munandir.  (1986).  Program bimbingan karier di sekolah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.  Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi  Proyek Tenaga Akademik



16

17


Osipow,  Samuel  H.  (1983).  Theories of Career Development  (Third Edition).  Englewood Cliffs.  New Jersey:  Prentice-Hall, Inc.

Page,  G.T.., Thomas,  J.B.,  &  Marshall,  A.R.  (1978). International Dictionary of education.  New York :  Nichols Publishing Company.

Pietrofesa, John J., Hoffman, Alan., Splete, Howard  H.,Pinto, Diana  V., (1978).  Counseling: Theory, Research, and Prectice, Chicago: Rand McNally College Publishing Company.

Schiefelbein,  Ernesto dan Simmons, John, (1981). The Detterminants of School Achievement. Ottawa:  IDRC.

Suryabrata, Sumadi.,(1983). Proses Belajar di Perguruan Tinggi.  Yogyakarta:  Andi Offset

Super,  E  Donald. , (1957).  Career Development : Self Concept Theory, College Entrance Examination Board.  New York.

-----, (1974). Measuring Vocational Maturity for Counseling and Evaluation (Monograph). Washington,D.C. : The National Vocational Guidance Association, Devision af the American Personnel and Guidance Association.

-----, .  (1975).  The psychology of career.  New York:  Harper & Row.

Tseng,  M.S., dan  Rhodes,  C.I., (1973).  Correlates of  The Perception of Occupational Prestige.  Journal of Counseling Psychology,  20,  6,  522-527.






















Tidak ada komentar:

Posting Komentar