BIMBINGAN DAN KONSELING
MENJAWAB TANTANGAN ABAD XXI
O l e h : Luhur Wicaksono
Jurnal Visi Ilmu Pendidikan (J-VIP). Vol 1, No 1
Edisi Januari 2009
Abstract.
Abad 21 merupakan abad dimana Globalisasi bergulir. Abad ini mempunyai banyak
kekuatan yang memunculkan adanya perubahan. Perubahan akan menuju pada
kebaikan, namun disisi lain memunculkan problem yang menjadi tantangan bagi individu.
Paradoks yang muncul dalam era globalisasi ini mempunyai pengaruh dalam seluruh
sisi kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Paradoks ini yang perlu dikaji
dalam Bimbingan dan Konseling untuk mencari solusinya, dengan begitu eksistensi
bimbingan konseling akan semakin diakui serta tetap survive dalam pandangan
kedepan.
Kata Kunci: Bimbingan dan Konseling,
Tantangan abad XXI
A.
PENDAHULUAN
Abad XXI merupakan suatu abad
dimana globalilasi didengungkan, oleh karena itu orang kebanyakan selalu
mengatakan sebagai era globalilasi. Abad XXI atau era globalisasi yang telah
kita masuki ini ditandai dengan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi,
semakin canggihnya sistem komunikasi dan arus informasi, persaingan yang
semakin ketat dalam standar pemenuhan pasar internasional; tidak hanya berupa
produk, tetapi juga gagasan dan pikiran, tuntutan kerja yang semakin profesional.
Kehidupan global telah meningkatkan ekspektasi manusia akan status dan
mutu kehidupan yang lebih baik, menempatkan penguasaan pengetahuan dan
ketrampilan serta kemampuan berkomunikasi sebagai piranti utama untuk
mewujudkan ekspektasi itu (Sunaryo Kartadinata, 1997). Ruang dan waktu seolah
tidak menjadi masalah, dengan sistem informasi dan komunikasi yang canggih
seolah
1
2
tidak ada lagi
dinding pembatas, semua kejadian dan keadaan di tempat yang sangat jauh pada
saat itu juga bisa dilihat dan di dengar. Akulturasi budaya langsung atau tidak
langsung akan terjadi dengan sangat cepat, dengan dampak positif maupun negative
akibat pergeseran atau persinggungan dua budaya atau lebih, ditambah lagi
kesiapan manusianya untuk menghadapinya. Kultur kehidupan mau tak mau akan
terus bergeser yang menjadikan manusia seolah olah menjadi budak pekerjaan
sesuai dengan profesinya, karena waktu-waktunya lebih banyak dicurahkan untuk
kepentingan pekerjaan dan pencapaian hasil kegiatan atau kerja yang
sebaik-baiknya. Tuntutan pencapaian hasil kegiatan yang sebaik-baiknya, bisa
jadi akan manusia untuk terus berfikir meningkatkan mutu kemampuan, dan selalu
merasa tidak puas terhadap apa yang telah dicapainya.
Paradoks dalam kehidupan manusia akan terjadi dan menjadi problem yang
selalu mengikuti sepanjang hidupnya. Muncul segi positif dari paradoks itu,
bahwa sepanjang hidup manusia akan dituntut untuk selalu belajar. Peter Jarvis
selaras dengan itu mengemukakan bahwa proses belajar manusia berlangsung dalam
kondisi paradoks, suatu kondisi yang tumbuh dari kulminasi kontradiksi
kehidupan dalam masyarakat (Sunaryo Kartadinata, 1997). Paradoks kehidupan
kehidupan masyarakat abad 21 inilah yang perlu di pelajari dalam kajian
Bimbingan Konseling sebagai suatu tantangan
untuk dicarikan solusinya, agar Bimbingan dan Konseling tetap survive
dan diakui eksistensinya3
B.
TANTANGAN ABAD XXI
Abad XXI sebagai era globalisasi merupakan era perubahan, atau era yang
mau tak mau menuntut adanya perubahan. Perubahan kadang muncul sebagai suatu
paradoks dalam kehidupan masyarakat abad
21. Paradoks yang terjadi, diduga muncul karena adanya kekuatan. Banyak
kekuatan yang mempengaruhi perubahan
3
pada abad 21 ini
menjadi tantangan bagi kita untuk dikaji. J.T
Lobby loekmono (1997) mengungkapkan bahwa panelis para “Menteri
Pendidikan SEAMEO” merangkum adanya 21 kekuatan yang mempengaruhi Asia sampai tahun 2035, yaitu :
1)
Peledakan ilmu pengetahuan 2) Industrialisasi
3)
Internasionalisasi 4) Pembangunan Ekonomi
5)
Ekspansi ekonomi pasar
6)
Pencarian stabilitas politik, partisipasi, dan
penghargaan HAM
7)
Penurunan dan perusakan lingkungan dan sumber-sumber
8)
Pertumbuhan penduduk
9)
Meningkatnya nasionalisme, perlindungan budaya dan
pengembangan bahasa
10) Intensifikasi
jaringan politik dan ekonomi antar kawasan/region
11) Pentingnya
pertumbuhan dari agama
12) Bertambahnya
pengaruh dari Jepang
13) Bertambahnya
partisipasi wanita dalam pembangunan
14) Kemiskinan
dan Pengangguran
15) Keterbukaan
dalam pembuatan kebijakan, perencanaan dan mamajemen
16) Latihan
jangka pendek untuk tenaga kerja trampil yang mendukung industrialisasi di
kawasan/ region
17) Penekanan
kembali nilai-nilai tradisional keluarga
18) Mobilitas
makin tinggi dari pekerja/karyawan
19) Bertambah
besarnya peranan Negara Cina dan orang Cina perantauan
20) Meningkatnya
peranan dari pelayanan industri dan pendidikan kejuruan atau vokasional dan
21) Telekomunikasi
dan transportasi.
4
Kondisi Indonesia
sebagai bagian dari masyarakat dunia dalam globalisasi secara garis besar
kurang lebih akan sama. Dari 21 (duapuluh satu) pengaruh tersebut secara
spesifik yang sedang di alami di Indonesia sebagai suatu kekuatan
dan juga problem adalah sebagai berikut
1)
Pembangunan, terutama bidang ekonomi dan industri serta
pemerataannya,
2)
ilmu pengetahuan,
3)
penurunan dan perusakan lingkungan dan sumber-sumber
daya alam,
4)
pencarian stabilitas politik (termasuk kebijakan
politik / pemerintah), partisipasi, dan penghargaan HAM,
5)
meningkatnya nasionalisme, prlindungn budaya dan
pngmbngan bahasa,
6)
pertumbuhan penduduk, 7) telekomunikasi dan
transportasi,
8)
intensifikasi jaringan politik dan ekonomi antar
kawasan/region.
Kekuatan-kekuatan tersebut telah membawa pengaruh kepada pola hidup,
tatanan, dan seluruh sendi kehidupan. Kekuatan-kekuatan yang sebenarnya
mengandung paradoks antara dampak positif dan dampak negative. Dampak positif
dari kekuatan tersebut antara lain bisa berupa peningkatan taraf hidup manusia,
penguasaan keilmuan untuk memperoleh kemudahan dan kemaslahatan (kebaikan) dll,
dampak negatifnya bisa berupa kesalahan dalam pemanfaatan ekonomi, perusakan
dengan pemanfaatan teknologi, individualistik, persaingan secara tidak fair,
dll. Pengaruh dari kekuatan tersebut yang begitu drastis dan dirasa datang
dengan tiba-tiba, langsung ataupun tidak langsung dapat memberikan kejutan dan
kebingungan. Tingkat “keterkejutan dan kebingungan” tersebut tergantung pada
kesiapan dan kekuatan diri masing-masing individu, yang dalam lingkup
pendidikan, mempunyai pengaruh juga kepada siswa.
5
1. Dampak bagi Siswa
Pembangunan, terutama di bidang ekonomi dan industri telah berjalan di Indonesia.
Walaupun (di banding dengan negara lain di dunia) Indonesia masih di golongkan dalam
kategori negara under development, sedikit-banyak hasil pembangunan telah dirasakan
oleh masyarakat. Ujud dari pembangunan ekonomi secara phisik antara lain dapat
dilihat dengan munculnya pusat-pusat perbelanjaan sebagai salah satu sentra
ekonomi, bermunculannya sentra-sentra industri sebagai salah satu indikator
geliat industri. Peningkatan taraf hidup (walaupun di Indonesia masih sangat tidak merata),
yang berkait dengan kemajuan bidang ekonomi dan industri diduga bisa memberi
dampak bagi para siswa/pelajar baik dampak positif maupun dampak negatif. Dampak
negatif dimungkinkan bisa terjadi apabila para orangtua hanya memanjakan siswa
(anaknya) hanya melulu dari sisi materi dengan mengkesampingkan sisi psikologis
yang antara lain pemberian perhatian dan dasar agama yang kuat. Beberapa kasus kenakalan
seperti; narkoba, miras, pergaulan bebas, geng motor, dan lain-lain yang sudah
mulai merebak dikalangan siswa ternyata melibatkan mereka dari “kalangan mampu”
namun kurang perhatian dari orang tua.
Kemajuan teknologi telekomunikasi, informasi dan transportasi
memungkinkan informasi mengenai keilmuan dan teknologi dengan mudah dapat di
akses dalam waktu yang singkat. Disamping itu mudahnya transportasi
mengakibatkan mobilitas manusia menjadi sangat cepat, yang berujung pada
akulturasi dan pergeseran nilai budaya. Hal yang tidak pernah terpikirkan oleh
para orang tua maupun guru -jika berkilas-balik 20 tahun ke belakang-, serasa
tidak percaya ketika melihat anak-anak dengan trampil bermain game, mengakses
internet, dan lain-lain. Sebuah perilaku para siswa sekarang yang tidak sama lagi dengan siswa 20
tahun yang lalu; bahkan yang lebih mengejutkan lagi ketika diberitakan dalam
televisi dan surat
kabar, bahwa beberapa siswa kita telah pandai membuat
6
“film biru”
alias film porno melalui Hp serta adanya komunitas geng motor dengan perilaku
yang destruktif; naudubillahi mindzalik. Beberapa kasus kenakalan yang sempat
ditayangkan (sebagaimana dapat dilihat di beberapa media) menunjukkan bahwa
moral siswa kita telah mengalami pergeseran.
Penurunan dan perusakan lingkungan dan sumber-sumber daya alam, pada
beberapa daerah di Indonesia misalnya; Riau, Kalimantan Barat tidak pernah
lepas dari bencana kabut asap yang setiap tahun (terutama musim kemarau) selalu
berulang dan tidak pernah terselesaikan. Bencana ini mempunyai dampak yang
tidak kecil pada sisi kehidupan. Dalam pelaksanaan pendidikan, pengaruhnya
terasa merugikan, karena siswa tidak bisa mengikuti pelajaran (di liburkan),
dengan demikian jam belajar mereka di sekolah- pun menjadi berkurang. Bencana
lain akibat penurunan dan perusakan lingkungan dan sumber daya alam adalah
banjir. Banjir yang selalu melanda beberapa daerah di Indonesia bahkan Jakarta sebagai Ibukota Negara tak luput dari
bencana ini. Bencana banjir berakibat rusaknya beberapa fasilitas pendidikan
dan bahkan siswa juga terpaksa libur.
Dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, pendidikan di Indonesia ternyata masih jauh
tertinggal terutama di bandingkan dengan Negara-negara maju. Mutu pendidikan di
Indonesia
ternyata masih sangat rendah, hal ini ditunjukkan oleh beberapa indikator:
peserta didik tidak dapat mengaplikasikan pengetahuannya untuk menyelesaikan
masalah sehari-hari, peserta didik tidak dapat melanjutkan studinya ke jenjang
yang lebih tinggi, atau peserta didik kesulitan mencari/ memasuki lapangan
kerja (Sutrisno, 1995). Di sisi lain kurikulum yang berisikan terlalu banyak
pelajaran serta sarat materi, tuntutan ketuntasan nilai, tes belajar tiap sub
kompetensi dasar membuat mereka seolah “tidak bisa bernafas” untuk bisa saling
berkompetisi dengan teman-temannya, belum lagi ditambah performance dari
beberapa guru mereka yang konvensional, kaku, bahkan terkesan garang,
mmperlngkap “penderitaan” para siswa.
7
Interaksi siswa di lingkungan sekolah, lingkungan keluarga dan lingkungan
masyarakat dengan berbagai kesenjangannya dimungkinkan berpotensi juga untuk
menuai dampak negative. Interaksi sesama siswa dengan kesenjangan ekonomi yang
berbeda memunculkan kelompok-kelompok kecil yang “seolah olah berjarak”, dan
ini bisa mengganggu proses belajar-mengajar. Pola pikir yang jauh berbeda
antara orang tua dan anak, juga pola asuh yang kurang tepat. Tekanan ekonomi
pada orang tua atau pada masyarakat lingkungan tempat tinggal, sedikit banyak
akan berakibat pada rasa percaya diri siswa.
2. Kondisi BK sekarang
Untuk melihat kondisi BK sekarang, disini akan di soroti beberapa segi,
yaitu; segi, yaitu dari segi manajemen, segi SDM (kualitas dan kuantitas), dan
fasilitas pendukung.
a. Segi manajemen
Secara organisasi, pelaksanaan Bimbingan Konseling bukan pekerjaan guru
Bimbingan dan konseling (Guru BK) dan / atau konselor atau walikelas semata,
melainkan merupakan pekerjaan bersama (team work); yang idealnya paling tidak
terdiri atas konselor, dokter umum, psikiater, psikolog, ahli pengembang
instrumentasi BK (tester), walikelas, guru bidang studi, serta staf
administrasi.
Dari segi kelengkapan team work, hampir dapat dikatakan sulit untuk
menemukan sekolah dengan team work yang lengkap (memadai). Lebih di perparah
lagi pada daerah-daerah tertentu, sekolah tidak mempunyai sarjana BK. Dalam
keadaan seperti ini, akan sulit diharapkan BK mampu berkiprah sesuai harapan.
Dengan merujuk pada fungsi organisasi Bimbingan Konseling Perguruan Tinggi
(BKPT), fungsi organisasi BK di sekolah kurang lebih sama dengan fungsi
organisasi BKPT. Menurut Gibson (1981) dan Rosyidan (2001), fungsi-fungsi
organisasi BKPT meliputi (1) perencanaan program, (2) pelaksanaan (persiapan,
8
pengorganisasian,
tindakan, pengawasan atau monitoring),
(3) evaluasi proses dan hasil, serta umpan balik (Mahmud, 2004).
Dalam perencanaan program, berdasarkan pengamatan sementara pada beberapa
sekolah di Kalimantan Barat; pada sekolah sekolah yang mendaftarkan diri untuk
di akreditasi, secara tertulis memang sudah terpampang program tahunan di
dinding ruang BK, namun itu masih sebatas program “yang di dapat dari buku”
atau membeli secara instant di toko-toko, tanpa di modifikasi sesuai tuntutan
siswa. Dengan kata lain, program yang ada, dibuat tanpa adanya perencanaan yang
matang.. Dari tahapan awal tersebut dapat di duga bahwa fungsi organisasi BK
kita secara “regular” saja masih menunjukkan kelemahan. Jadi belum memungkinkan
untuk dituntut “manuver-manuver” sebagai ancangan dalam menghadapi problem
siswa mendatang.
b. Segi SDM.
Tinjauan dari Sumber Daya Manusia (SDM), dapat dilihat dari dua hal,
yaitu; secara kuantitas dan secara kualitas.
Secara kuantitas, masih banyak sekolah sekolah di Indonesia yang tidak mempunyai team
work yang memadai. Pada daerah-daerah tertentu, banyak sekolah yang tidak punya
guru BK yang bersertifikat sarjana BK. Pada sekolah yang tidak mempunyai
sarjana BK, pelaksanaan BK dirangkap oleh Kepala Sekolah atau Waka bid
Kesiswaan (yang kadang-kadang tidak memahami BK), atau di tunjuk guru
biasa (yang tidak banyak jam
mengajarnya) untuk menangani BK. Masih ada kesan bahwa BK adalah sebagai
“tempat buangan” bagi guru-guru yang kekurangan jam mengajar. Sungguh ironis,
bagaimana orang-orang yang tidak sesuai, di tempatkan untuk menangani bidang
yang justru menuntut adanya kompetensi. Akankah orang-orang seperti ini mampu
menunjukkan kinerja optimal dalam layanan BK untuk problem-problem yang makin
rumit dalam era globalisasi ini. Padahal dalam SK Mendikbud
9
No. 25/ O / 1995
tentang Petunjuk Teknis Ketentuan Pelaksanaan Fungsional Guru dan Angka
Kreditnya pada ayat 5 mengenai Tugas Guru Pembimbing, disebutkan bahwa setiap
guru pembimbing di beri tugas bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya
terhadap 150 siswa (Rahman, 2003). Secara kuantitas masih banyak daerah dengan
sekolah-sekolah yang tidak bisa memenuhi rasio guru BK dan siswa sesuai
ketentuan.
Secara kualitas, masih banyak sarjana-sarjana BK kita yang masih lemah
dalam menjabarkan secara riel dan mengoperasionalisasikan secara konsekuen
program tahunan BK menjadi program bulanan, bahkan mingguan. Dengan begitu pada
kenyataannya di lapangan seolah-olah guru BK tidak mempunyai pekerjaan dan
hanya luntang lantung saja, yang berujung pada kebijakan kepala sekolah
memberikan tugas tambahan sebagai guru bidang studi, atau guru piket yang
mengisi jam-jam kosong.
Sekolah-sekolah yang sudah mempunyai guru BK (antara sekolah satu dengan
sekolah lain), guru-guru BK-nya mempunyai fleksibilitas berbeda-beda dalam
menghadapi siswa. Bahkan dalam satu sekolah, apabila terdapat lebih dari satu
guru BK, fleksibilitas mereka terhadap siswa tidak akan sama. Fleksibilitas
guru BK diharapkan justru ditentukan oleh senioritas atau masa kerjanya. Namun
yang terjadi malah sebaliknya; guru-guru BK yang senior mempunyai fleksibilitas
yang lebih rendah. Peneliian Wimbarti dan Kumara (1993) pada guru BK tingkat
SMP di Yogyakarta menunjukkan bahwa guru-guru yang mempunyai masa kerja lama
lebih kaku dalam menerima perubahan yang terjadi dalam diri siswanya disbanding
guru yang lebih muda dan belum banyak pengalaman menjadi guru (Wimbarti, 1997).
Keadaan-keadaan tersebut di diduga merupakan sedikit dari permasalahan yang
membawa citra guru BK masih dianggap sebagai guru “papan kedua”. Hal itu bukan
karena di rekayasa, tetapi oleh performance yang ditunjukkan dalam kinerjanya.
10
c. Fasilitas
Pendukung
Ruangan
BK sekolah di beberapa daerah masih banyak terkesan “ala kadarnya”, yang
penting ada, sehingga untuk kegiatan-kegiatan bimbingan kadang harus berbaur
dengan kegiatan lain. Dan untuk ruang yang ala kadarnya ini, jangan di
harap adanya
ruang khusus untuk mengadakan konseling. Kelengkapan administrasi era buku-buku
dan blanko-blanko masih jauh dari harapan. Fasilitas pendukung untuk BK yang
memadai mungkin masih belum terpenuhi, barangkali ini berkait dengan kemampuan
pendanaan. Tidak terlepas juga hal ini tergantung pada pemahaman kepala sekolah
mengenai BK, sehingga berpengaruh pada penentuan kebijakannya.
C. ARAH PENGEMBANGAN BK ABAD XXI
Kecenderungan yang ada dalam kekuatan abad globalisasi, dampaknya bagi
siswa, dan kondisi BK sekarang akan menggeser paradigma pendidikan dari
paradigma konvensional kepada pendidikan yang semakin terbuka. Semakin
meluasnya kebutuhan akan layanan pendidikan dalam dunia global harus direspon
oleh pendidikan, dalam hal ini khususnya BK. Untuk itu pengembangan BK paling
sedikit secara garis besar dapat di ancangkan dalam tiga bagian, yaitu;
manajemen, SDM, dan Fasilitas pendukung.
1. Segi Manajemen
Struktur organisasi dan pembagian tugas dari masing-masing personalia
harus diperkuat dan dipertegas, sehingga tidak saling lempar tanggungjawab.
Kepala Sekolah sebagai penanggungjawab utama seluruh program sekolah diharuskan
memahami mengenai ke-BK-an (kalau perlu pemahaman tentang BK dijadikan
prasyarat dalam penentuan Jabatan Kasek), sehingga arah kebijakannya menuju
tepat dalam ke-BK-an. Keterlibatan Ka sek secara langsung dalam pelaksanaan BK
sangat diharapkan terutama dalam fungsi monitoring, sehingga segera tahu
perkembangan BK dari waktu ke waktu tanpa harus menunggu laporan tertulis. Komite
Sekolah dan
11
Pemerintah
diharapkan lebih besar peranannya dalam melengkapi personalia dalam team work
BK. Guru BK hendaknya mampu menjalankan peranannya secara optimal sesuai dengan
wewenang dan tanggungjawabnyja dalam unit BK sehingga tidak ada lagi guru BK
yang nganggur atau di serahi tugas lain di luar konteksnya.
2. Segi SDM
Pembahasan mengenai SDM tidak akan lepas dari segi kualitas dan segi
kuantitas.
Dalam ancangan pemerintah RI sekarang ini (sesuai dengan peraturan
Menteri Pendidikan RI No. 18 tahun 2007 tentang sertifikasi bagi guru dalam
jabatan) maka guru (dalam hal ini termasuk guru BK) yang di anggap berkualitas adalah
guru yang memenuhi persyaratan antara lain; kualifikasi akademik, pendidikan
dan pelatihan, pengalaman, karya pengembangan profesi, aktif dalam forum
ilmiah, pengalaman organisasi baik dalam bidang pendidikan maupun sosial
(Dirjen Dikti, Depdiknas, 2007).
Kualifikasi akademik untuk menyongsong BK masa depan hendaknya perlu di
perhatikan dengan menarik ke belakang, yaitu dalam penyiapan tenaga guru BK:
- Rekrutmen calon mahasiswa BK hendaknya di pilih mereka yang mempunyai prestasi akademik tinggi (dengan bukti nilai Ijazah dan nilai Ujian Nasional). Bahkan bila memungkinkan diadakan penelusuran bakat di mulai dari tingkat SMP yang terus “diikuti dan di persiapkan” sampai waktunya dia memasuki bangku kuliah. Hal ini berdasarkan pengalaman yang dapat kita petik dari Negara-negara maju dalam dunia pendidikan , misalnya di Jerman mulai memilih peserta didik yang berpotensi mampu menjadi mahasiswa sejak kelas 5 SD dan mengapa di Inggris tidak semua lulusan SMP dapat di terima di Grammar School sebagai persiapan untuk memasuki universitas, dan mengapa Amerika Serikat hanya anak High School yang memenuhi syarat
12
untuk
mengambil dan lulus dalam mata pelajaran Calculus, Trigonometri, Geometri,
Fisika dan Bahasa Asing yang dapat diterima di menjadi Mahasiswa Universitas (Soedijarto,
2006). Dengan penelusuran bakat dan pembinaan dari awal, disamping di peroleh
mahasiswa yang pandai diharapkan nantinya muncul calon-calon guru BK generasi-generasi
baru dengan karakteristik sesuai dengan harapan. Untuk itu hasil penelitian
Arbuckle tentang karakteristik konselor yang efektif bisa di adopsi untuk di
buat inventory dalam rangka seleksi mahasiswa BK. Adapun karakteristik konselor
yang efektif menurut penelitian Arbuckle (Shertzer dan Stone: 133)
adalah;
mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi, pembawaan yang wajar, memperlihatkan
minat yang tinggi dalam pelayanan sosial, persuasif, pandai, aktif dalam
kegiatan ilmiah, toleransi, dan hangat.
- Merumuskan-ulang peran dan fungsi sarjana BK sebagai calon guru pembimbing.
Kegiatan yang dilakukan oleh guru pembimbing pada saat ini
adalah mempersiapkan siswa untuk dapat menghadapi masalah hari ini dan besok.
Ini
harus
di perdalam lagi lebih jauh, yaitu dengan membuat mereka siap untuk hidup atau
berkreasi dlm pandangan kedepan, dunia yg berubah dengan cepat.
- Pengembangan suasana akademik dari awal perkuliahan, yang antara lain; keterbukaan, berani menerima kritik, dan pengalaman (termasuk etos belajar, melihat dan mengikuti perubahan baru mengenai dunia), pemahaman global, perspektif jangka panjanng, realistis serta optimis.
- Pensiapan guru pembimbing yang mempunyai pandangan ke depan (futuris), dapat dilakukan dengan;
13
1)
penciptaan suasana perkuliahan sehingga mahasiswa BK
termotivasi untuk belajar mencapai apa yang mungkin dapat diaplikasikan dari kejadian-kejadian
yang ada pada masyarakat.
2)
Memberikan latihan untuk ketrampilan yang di butuhkan (di
bawah pengawasan).
3)
Belajar untuk memperoleh dan menerima dengan lapang
dada evaluasi periodik serta umpan balik
(Loekmono, 1997).
4) Mengkaji ulang kurikulum untuk lebih disesuaikan
dengan dinamika globalisasi dan prediksi problem-problem klien yang akan
terjadi (muncul) paling tidak satu dekade ke depan (dilakukan oleh LPTK
pencetak calon guru BK).
3. Fasilitas Pendukung
Fasilitas pendukung pada prinsipnya adalah segala sesuatu yang dapat
memperlancar kegiatan Bimbingan di sekolah. Fasilitas ini meliputi :
a.
Ruangan dan manajemen ruangan yang memadai sehingga
mendukung team BK dapat bekerja dengan baik dan klien yang dating merasa
nyaman.
b.
Perlengkapan-perlengkapan Bimbingan (baik administrasi,
instrumen- tasi, dan lain sebagainya).
c.
Penyediaan dana yang memadai sebagai sarana
memperlancar aktivitas (misalnya ketika harus melakukkan home visite klien,
membawa klien untuk referal ke tenaga ahli di luar sekolah dlsb).
14
D.
PENUTUP.
Guru Bimbingan dan Konseling (BK) beserta team worknya dapat menjadi team
utama untuk memperlancar pelaksanaan pendidikan di sekolah dalam mengantisipasi
perubahan yang terjadi pada abad 21 (era globalisasi). Untuk dapat berperan
secara optimal dalam menjawab tantangan abad 21, serta meninggalkan kesan-kesan
lama yang sangat tidak menguntungkan (image negative) baik yang diberikan oleh
pimpinan (Kepala Sekolah), maupun staf-staf sekolah terhadap personel BK, maka
mereka yang betugas di jajaran ini harus mempunyai kualifikasi tertentu. Landasan
utama agar personil BK dapat berhasil memberikan pelayanannya adalah adalah
dengan menentukan arah pengembangannya yang meliputi manajemen, SDM, serta
dukungan fasilitas. Arah pengembangan ini tidak lepas dari dukungan banyak
pihak, antara lain Kepala sekolah sebagai pembuat dan penentu kebijakan di
sekolah, juga LPTK sebagai pencetak calon-guru-guru BK. Dengan arah
pengembangan yang terencana, diharapkan akan muncul generasi baru Guru-guru BK
yang handal
dalam menjawab tantangan abad 21, dimana semuanya itu bermuara pada pembuktian
bahwa personil BK dapat membantu siswa untuk menjadi sosok M yang berkualitas
di masa yang akan datang.
DAFTAR RUJUKAN
Dirjen Dikti, Depdiknas., (2007), Panduan
Penyusunan Portofolio Sertifikasi Guru dalam Jabatan tahun 2007. Jakarta: Dirjen Dikti,
Depdiknas.
Kartadinata, Sunaryo.,(1997), Pendidikan
untuk Pengembangan SDM bermutu. Makalah Konvensi bersama Divisi-divisi IPBI
(IPKON, IGPI, ISKIN, IIBKIN). Purwokerto. 11 – 14 Desember 1997.
Loekmono, J.T Lobby., (1997), Arah Pengembangan Profesional Bimbingan dan
Konseling Abad XXI. Makalah Konvensi bersama Divisi-divisi IPBI (IPKON,
IGPI, ISKIN, IIBKIN). Purwokerto. 11 – 14 Desember 1997.
Mahmud, Alimuddin., (2004), Manajemen
Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi. Makalah Konvensi Nasional II
Divisi-divisi ABKIN (IPKON, IGPI, ISKIN, IDPI, IIBKIN). Malang. -14 Agustus 2004.
Rahman, Hibana S., (2003), Bimbingan
dan Konseling Pola 17. Yogyakarta: UCY
Press.
Shertzer, Bruce., and Stone,
Shelley C, (1981), “The School Counselor.” Fundamentals
of Guidance. Fourth Edition. Boston:
Houghton Mifflin Company
Soedijarto., (2006), Penyelenggaraan
Sistem Pendidikan Nasional untuk Mencerdaskan kehidupan Bangsa dan Memajukan
Kebudayaan Nasional serta Implikasinya terhadap peranan Sarjana Pendidikan dan
Ilmu Pendidikan. Makalah dalam Seminar dan Lokakarya Revitalisasi Ilmu
Pendidikan& Pengembangan Sistem Penjaminan Mutu Akademik. Jakarta: 28 – 30 Desember 2006.
Sutrisno, L., (1995), Remediasi Kesulitan Belajar: Salah Satu
pendamping usaha memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia, Suara Almamater No. 1 Tahun
XII, 1., Untan, Pontianak.
Wimbarti, Supra., (1997), Sensitivitas
Bimbingan dan Konseling dalam Pengembangan SDM bermutu. Makalah Konvensi
bersama Divisi-divisi IPBI (IPKON, IGPI, ISKIN, IIBKIN). Purwokerto. 11 –
14 Desember 1997.
15

Tidak ada komentar:
Posting Komentar