Selasa, 10 Januari 2017

KEEFEKTIVAN PEMODELAN TERHADAP PENINGKATAN EFIKASI-DIRI AKADEMIK SISWA SMP (Kajian Teoritik Aplikasi Teori Bandura)





KEEFEKTIVAN PEMODELAN TERHADAP PENINGKATAN EFIKASI-DIRI AKADEMIK SISWA SMP
(Kajian Teoritik Aplikasi Teori Bandura)
dimuat pada JVIP Vol 6,No 3 Oktober 2014


Oleh:
Luhur Wicaksono3
FKIP-UNTAN

Abstract: Efikasi-diri akademik merupakan keyakinan-diri dan pengharapan terhadap hasil pada tugas-tugas khusus dalam bidang akademik. Individu yang mempunyai efikasi-diri akademik tinggi lebih memungkinkan untuk berpartisipasi dan berhasil dalam tugas-tugas akademik. Efikasi-diri akademik (khususnya  yang rendah) dapat ditingkatkan  melalui  bantuan konseling modifikasi-kognitif perilaku (MKP) dengan memanfaatkan teknik pemodelan. Teknik ini menurut Bandura merupakan bentuk induksi yang dapat meningkatkan efikasi-diri akademik.
Kata Kunci: Efikasi-diri akademik, pemodelan.

Abstract: Academic self-efficacy is efficacy-belief and outcome expectations about the results of the specific tasks in the academic field. Individual who have high academic self-efficacy are more likely to participate and succeed in academic tasks. Academic self-efficacy (particularly low) can be improved through the help of cognitif-behavioral modification (CBM) counseling by making use of modeling techniques. This technique is a form of induction according to Bandura can increase academic self-efficacy.

Key Word: academic self-efficacy, modeling

Efikasi-diri (ED) merupakan konsep multidimensional gagasan Bandura yang menyatakan tentang ke-yakinan keberhasilan terhadap tugas-tugas khusus. Dalam  dimensi  akademik,  tugas-tugas  khusus  tersebut  adalah  tugas-tugas dalam  bidang  akademik.    Dengan  demikian  efikasi-diri  akademik  (EDA)


3 Luhur Wicaksono adalah Dosen Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP Untan




merupakan keyakinan individu bahwa mereka dapat tampil dengan berhasil pada tugas-tugas akademik sesuai tingkatan yang dipilihnya (Ferla, Valcke, dan Cai, 2009)
Efikasi-diri (ED) merupakan salah satu dari kepribadian Individu, karena itu berkait dengan aspek pe-mahaman diri. Bimbingan dalam definisi
sebagai konstruk pendidikan ternyata berusaha juga melengkapi pengalaman
siswa untuk memahami dirinya (Shertzer and Stone, 1981). Bantuan yang di- berikan dimaksudkan untuk mengenal kelebihan dan kekurangannya.
Efikasi-diri akademik penting untuk di kaji, karena mempunyai pe-
ngaruh sangat besar terhadap kepercayaan-diri serta pengharapan hasil (Bandura, 1986; Bell, 1986; Elliot et al.,2000), yang akan mengarah pada perilaku (performance) dan ketekunan (persis-tence). Individu yang memiliki efikasi-diri akademik (EDA) rendah cenderung menghindar mencapai tugas tertentu yang dianggap sulit, karena tidak yakin dapat berhasil menyelesaikan tugas-tugas   akademik,   menggunakan   sedikit   waktu   untuk   mengatasi tantangan, tidak kreatif dan miskin ide dalam memecahkan persoalan, serta tidak ulet dan takut gagal. Sementara individu yang percaya me-ngenai kemampuannya, lebih mungkin untuk berpartisipasi terhadap tugas-tugas akademik. Individu yang tinggi efikasi-diri akademiknya merasa yakin dapat berhasil menyelesaikan tugas akademik.
Beberapa  hasil  penelitian  yang  menguatkan  pentingnya  efikasi-diri aka-demik untuk diteliti, antara lain peneliti-an Multon and Brown (1991)
yang menyatakan bahwa efikasi-diri membangun hasil konstruk dalam menjelaskan  dan  memprediksi  akademi  siswa.Keyakinan  ED  berpengaruh
pada prestasi akademik (Liew, McTigue, Barrois, Hughes, 2008; Schunk dan
Zimmerman, 2007). Penelitian Caprara et al (2011) menjelaskan bahwa ciri- ciri  kepribadian  (keterbukaan  dan  kesadaran)  dan  keyakinan  efikasi-diri
sebagai pre-diktor penting dari prestasi akademik siswa SMP. Dalam konteks
pendidikan   yang   lebih   rendah   juga   terungkap   oleh   penelitian   yang dikemukakan oleh Liew dan kawan-kawan pada sebuah studi longitudinal di
Amerika  terhadap  siswa  SD  menunjukkan  bahwa  efikasi-diri  aka-demik
(EDA) berpengaruh pada membaca dan matematika (Liew, Mc Tigue, Barrois, dan Hughes, 2008). Tentu saja untuk konteks siswa SMP akan meng- khawatirkan apabila tidak ditangani lebih serius.
Penelitian-penelitian  lain  dalam  bidang  BK  yang  menunjukkan bahwa    efikasi-diri    akademik    siswa    bisa    di-tingkatkan    dan    penting
mendapatkan   perhatian   antara   lain   dikemukakan   oleh   Ummah   (2010)
menggunakan   Konseling   Singkat   Berfokus   Solusi,   Permatasari   (2010)
menggunakan  Kemanjuran  konseling  dengan  teknik  self-instruction,  dan




Wachid (2012)  menggunakan  konseling kelompok dengan  teknik metafora berbentuk healing stories. Adicondro dan Purnamasari  (2011) meneliti tentang efikasi-diri pada 62 siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Yogyakarta menemukan   sesuatu   yang   mengejutkan,   karena   siswa   SMP   ternyata mempunyai efikasi-diri akademik (EDA) yang rendah.
Efikasi-diri (ED) yang rendah, dapat ditingkatkan melalui kegiatan konseling dengan memodifikasi perilaku kognitif dengan mengajarkan kepada konseli
cara mengidentifikasi kognitif yang rancu dan tidak berfungsi melalui proses evaluasi,  dengan  mengenali,  mengamati,  dan  memantau  mengenai  jalan
pikiran serta asumsi, terutama jalan pikiran otomatis-nya”. Menurut Beck, pendekatan kognitif dimaksudkan untuk mengajar klien untuk menguji pikiran otomatis  (yaitu,  ide  negatif  tentang  diri  mereka  sendiri,  dunia,  dan  masa
depan) kemudian menggantikan kognisi mereka yang   menyimpang dengan intepretasi    yang    realistis    dan    akurat    (Beck,    2011).    Potensi    siswa
pengembangannya  akan  lebih  baik dengan  menyoroti  aspek-aspek kognitif siswa daripada aspek negatifnya
Intervensi   untuk   mengubah   perilaku   kognitif   dalam   konseling
mempunyai banyak pendekatan, salah satunya adalah pendekatan konseling aliran kognitif behavior yang meliputi Rational Emotive Behavior Therapy (REBT)  oleh  Albert  Ellis,  Cognitive  Therapy  (CT)/Cognitive  Behavior Therapy (CBT) 0leh Aaron T. Beck, dan Cognitive-Behavior Modification (CBM) oleh Donald Meichenbaum. Walaupun Cognitive Therapy (CT)/Terapi Kognitif atau Terapi Perilaku Kognitif (TPK) dari Beck memiliki kesamaan tujuan dengan Ellis, yaitu menstruktur kembali aspek kognitif (cognitive restructuring) (Gunarsa,   2007: 230). Tetapi terapi Beck tidak memberikan label kepada klien mengenai keyakinan yang irasional, namun mengatakan bahwa saat ini klien sedang membuat kesimpulan yang tidak akurat. Lebih dari itu, TPK dari Beck menerapkan konseling yang bersifat kolaboratif. Sehingga sangat sesuai untuk diterapkan pada siswa SMP yang berada pada fase remaja.
Pendekatan  TPK  dipilih  di-banding  banyak  pendekatan  lain  dalam konseling karena pendekatan ini telah banyak dimanfaatkan untuk intervensi
berbagai gangguan emosi dan masalah akademik. Kemanjuran TPK ini juga
telah dibuktikan melalui keberhasilannya dalam menangani tidak hanya gangguan-gangguan   kejiwaaan,  tetapi  juga   ma-salah-masalah   psikologis,
bahkan kom-ponen-komponen problem medis dan psikologis (Beck, 2011: 4)
Intervensi TPK ini secara umum bertujuan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan emosi, perilaku dan kognisi, melalui orientasi tujuan,   prosedur   sistematis.   Menurut   Beck,   hal   yang   esensial   adalah




memfokuskan pe-nyelesaian masalah pada saat ini melalui modifikasi disfungsional (ketidakakurat-an dan/atau ketaktertolongan) pikir dan tingkahlaku (Beck dalam Beck, 2011: 2). Dengan demikian sasarannya adalah mengubah cara berfikir klien. Di sisi lain efikasi-diri akademik merupakan ke- yakinan  individu  mengenai  kemampuan-nya,  cara  berfikirnya  yang berpengaruh pada cara-cara bertingkahlaku untuk mencapai tujuan akademik. Jadi efikasi-diri akademik juga timbul dari penilaian kognitif mengenai kemampuan yang dimiliki individu.
Pendekatan  Terapi  Perilaku  Kognitif  (TPK)  (cognitive  behavior therapy/CBT) secara khusus meliputi strategi intervensi yang terdiri dari ber-
bagai  macam.  TPK  mencerminkan  sifat-nya  kompleks  dan  integratif  serta
mencakup   topik-topik   seperti   pembiasa-an,   pemodelan,   restrukturisasi kognitif,  persuasi  verbal,  pemecahan  masalah,  dan  pengembangan  strategi
coping,  penguasaan,  dan  rasa  kontrol  diri  (Benyamin,  Puleo,  Cummings,
Kendall, 2011; Betz, 1992: Corey, 1996: 328). Pemodelan (M) dimanfaatkan pada penelitian ini untuk meningkatkan efikasi-diri akademik (EDA). Pemodelan  adalah  proses  peng-amatan  terhadap  tingkahlaku  orang  yang dijadikan model. Pemodelan mengacu pada proses melalui pengamatan ter- hadap pola pikir, keyakinan serta peri-laku mereka setelah ditampilkan oleh satu atau lebih model (Schunk dalam Schunk dan Zimmerman, 2007). Model akan  memberikan  informasi  mengenai  hal-hal  yang  akan  meningkatkan efikasi-diri (ED) peserta didik. Model bisa ber-asal dari orang dewasa dan teman-teman dalam kehidupan siswa.
Pemodelan  dapat  memberikan  beberapa manfaat  bagi  para siswa, yaitu  untuk;  (1)  pembangkit  tingkahlaku,  (2)  meningkatkan  ketahanan diri
dalam menghadapi kesulitan, (3) menyampai-kan pola perilaku baru (Bell,
1986: 241-242), (4) memberikan standar yang bisa dipercaya sebagai pedoman bagi cita-cita si pengamat, atau memberikan tolok rujukan realistis sebagai perbandingan bagi si pengamat (Rosenthal & Zimmerman, 1978: 636), (5) meramal-kan konsekuensi yang mungkin terjadi (Bandura, 1977a), (6) termotivasi untuk bertingkahlaku tertentu dengan meng-harapkan konsekuensi yang akan di dapat.
Alasan penggunaan pemodelan dalam penelitian ini, didukung oleh beberapa hasil   penelitian   yang   telah   dilaku-kan.   Bandura   &   Mischel   (1965)
menggunakan model hidup dan model simbolik dalam rangka memodifikasi perilaku   penundaan   pemberian   reward.   Hasil   penelitian   lain   berupa
penggunaan pemodelan realita visual bahasa untuk pelajaran sejarah mengenai
Candi Erechteum Athena untuk siswa kelas 4 (Eggarxou et all, 2007). Baker at all (2009) yang meneliti penggunaan video pemodelan pada siswa dengan




gangguan emosional dan perilaku. Berikutnya adalah penelitian Pinker (1979) me-ngenai penggunaan model formal dalam pembelajaaran bahasa pada anak. Penelitian Muslikah (2012), yang mem-buktikan keefektifan teknik modeling simbolik   untuk   meningkatkan   motivasi   berprestasi   siswa.   Selanjutnya penelitian Adawiyah (2012) menggunakan teknik modeling untuk meningkatkan ke-mandirian belajar siswa SMP.
Pemodelan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan efikasi-diri akademik  (EDA)  siswa  ternyata  belum  banyak  memperoleh  perhatian.
Informasi  sementara  (berdasarkan  wawancara  in-formal  dengan  guru  BK
SMK dan SMP, bulan Agustus 2013 pada kegiatan Sertifikasi Guru) pada sekolah di hampir seluruh kabupaten/kota di Propinsi Kalimantan Barat juga pada wawancara informal di beberapa SMP di kota Tegal (Jawa Tengah) (July, 2012), secara umum menunjukkan belum telaksana. Kalaupun sudah, maka pelaksanaannya juga masih terpecah-pecah dan masih belum sistematis (pengamatan sementara sebagai asesor akreditasi sekolah).
Berdasarkan  uraian  yang  telah  dikemukakan  tersebut,  peningkatan efikasi-diri akademik (EDA) diharapkan menjadikan siswa bisa menjalankan
perilaku tertentu yang begitu penting artinya, agar ia dapat memilih kegiatan yang akan dijalaninya sebagai siswa.

A.  Hakekat Self-efficacy (SE)/ Efikasi-diri (ED)
1.     Pengertian Self-efficacy (SE)/ Efikasi-diri (ED)
Bandura mengatakan bahwa efikasi diri merupakan keyakinan individu mengenai  kemampuannya  dalam     mengatur  serta  menjalankan  program
tindakan  yang  diperlukan  untuk  mengelola  situasi  yang  ada  (prospective
situations) (Bandura, 1977a, hal 2). Nilsen (2009) mengatakan bahwa self- efficacy is the belief that one has the ability to perform”. Sullivan dan Mahalik
(2000:54)   mendefinisikan   efikasi-diri   sebagai   considered   a   cognitive
structure created by cumu-lative learning experiences that leads to the belief or expextation that one can successfully perfrm a specific task or activity.
Elliot, Kratochwill, Cook, dan Traver (2000:352) mengungkapkan efikasi-diri
sebagai individual beliefs in their abilities to exert control over their lives; feeling of competency”.   Selanjut-nya Schunk (1983: 848) mengemukakan efikasi-diri sebagai concerned with judgement about how well one can organize and execute course of action required in situation that may contain ambiguous, unpredictable, and stressful elements”. Berdasarkan beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa efikasi diri adalah: (1) penilaian terhadap tingkat keyakinan dan pengharapan diri (berupa struktur kognitif) mengenai  kesuksesan  untuk  melakukan  kegiatan  sehari-hari;  (2)  pemberi




arahan serta me-ngontrol perilaku kehidupan; (3) aspek perilaku dengan rentangan luas, dari penyelesaian tugas-tugas khusus hingga kegiatan penyelesaian masalah-masalah yang bersifat umum, membuat bingung, tidak pasti, serta sangat menegangkan.
2.  Konsep Efikasi-diri
Kerangka teori besar yang mendasari Self-efficacy (SE) adalah teori
Kognisi   Sosial   (Social  Cognitive   Theory/   SCT).  Teori   Kognisi   Sosial merupakan penamaan baru dari Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory)
Albert  Bandura  yang  melihat  manusia  sebagai  suatu  struktur  reciprocal
determinism (lihat gambar 2.1).
B





P                                E

Bandura (1977, 1986) sebagai-mana gambar 2.1 mengemukakan bahwa terdapat hubungan timbal-balik (Rcipro-cal Determinism) dari faktor- faktor penentu yaitu; (a) faktor pribadi /personal factors (P) dalam bentuk kognisi dan peristiwa-peristiwa biologis (biological events), (b) perilaku manusia/human behavior (B), dan (c) pengaruh faktor lingkungan/environ mental factors (E)  dalam interaksi segi-tiga (reciprocality triadic).

3. Konstruk Efikasi-diri
Efikasi-diri mempunyai dua konstruk (Bandura, 1986: 391-393; Bell,
1986: 250-251; Elliot et al., 2000: 352), yaitu;
1. Kepercayaan-diri (efficacy-belief) berhubungan dengan keyakinan bahwa individu   memiliki   kemampuan   untuk   melakukan   tindakan   yang   di-
harapkan dalam mencapai suatu prestasi.
2. Pengharapan- hasil (outcome expec-tations) adalah perkiraan atau esti-masi diri  bahwa  tingkah  laku  yang  dilakukan  diri  itu  akan  mencapai  hasil tertentu.
Kepercayaan-diri individu ma-sing-masing berlainan, yang dasarnya adalah perbedaan lingkup yang disebut dengan dimensi. Bandura (1977: 84
85) mengajukan tiga dimensi efikasi-diri, yakni: 1) Magnitude, yang berkaitan dengan   tingkat kesulitan tugas, sejauh-mana individu merasa mampu dalam
melakukan berbagai tugas dengan sederhana, yang agak sulit, hingga yang sangat sulit;   tugas, sejauhmana individu merasa mampu dalam melakukan
ber-bagai tugas dengan   tingkat kesulitan tugas, mulai dari yang sederhana,




yang agak sulit, hingga yang sangat sulit; 2) Generality, sejauhmana individu yakin akan kemampuannya dalam berbagai situasi tugas, mulai dari dalam melaku-kan  suatu  aktivitas  atau  situasi tertentu,  hingga  dalam serangkaian tugas atau situasi yang bervariasi; 3) Strength, kuatnya keyakinan seseorang mengenai kemampuan yang dimiliki.   Bandura (1986:391) lebih lanjut mengatakan bahwa dimensi-dimensi tersebut ter-cermin dalam perceived self- efficacy yaitu tingkat kepercayaan-diri serta pengharapan individu untuk berhasil sebagaimana dia mempersepsi dirinya.
Pengharapan-hasil terdiri atas tiga bentuk, yaitu; (1) pengharapan hasil positif (positif expectation) yang ber-tindak sebagai pendorong (incentive), (2)
pengharapan negatif   (negative expec-tation) yang bertindak sebagai peng-
hambat  (disincentive),  dan  dampak  (effect)  negatif  atau  positif  dari  ling- kungan sosial (Bandura, 1997:22).
Pernyataan perilaku siswa dapat dilihat pada: (1) unjuk kerja (perfor-
mance), serta (2) keuletan (persistence). Dengan pernyataan perilaku tersebut dapat di deskripsikan konstruk efikasi-diri akademik Dengan merujuk pada deskripsi  yang telah  dikemukakan  tersebut,  maka  dapat  di susun konstruk efikasi-diri akademik

4.  Sumber Ekspektasi Efikasi-diri
Perubahan tingkah laku, dalam sistem Bandura kuncinya adalah per-
ubahan ekspektasi (efikasi diri). Efikasi diri atau keyakinan kebiasaan diri itu dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan atau diturunkan, melalui salah satu atau
kombinasi  empat  sumber,  yakni  pengalaman  yang  berhubungan  dengan
kesuksesan atau  kegagalan menguasai sesuatu prestasi (performance accom- plishment), pengalaman karena mengamati perilaku orang lain (vicarious learning), dorongan atau motivasi yang meyakinkan dari orang lain (verbal per-suation) dan tingkat ketegangan emosi dalam menghadapi situasi yang penuh  dengan  tantangan  dan  hambatan  (Emo-tinal  arousal/Physiological States ).
b). Pengalaman Vikarius
Diperoleh  melalui  model  sosial.  Efikasi  akan  meningkat  ketika meng-amati pengalaman perilaku orang lain (vicarious experience) yang berhasil, sebaliknya efikasi akan menurun jika mengamati orang (model) yang
ke-mampuannya kira-kira sama dengan dirinya ternyata gagal. Kegagalan model  yang setara  dengan  dirinya,  bisa jadi  membuat  individu  tidak mau
mengerja-kan apa yang pernah gagal dikerjakan model yang diamatinya itu dalam jangka waktu yang lama. Kalau figur yang diamati berbeda dengan diri
si-pengamat, pengaruh perilaku orang lain (vicarious) tidak besar.




Dalam menyelenggarakan peng-alaman vikarius (PV), secara operasional diungkapkan dalam strategi pengubahan sumber ekspektasi, diinduksi melalui 2 (dua) cara, yaitu; (1)  live modeling, dan (2)  symbolic modeling
Pemodelan (modeling) me-nyediakan standar sosial untuk menilai kemampuan  diri.  Model-model  yang  pandai  serta  mempunyai  efikasi-diri tinggi, akan mendorong kompetensi individu mencapai cita-cita mereka. Individu   akan   belajar   dari   model-modelnya   mengenai   cara   berfikir, berekspresi, mengobservasi strategi serta ketrampilan-ketrampilan yang akan bermuara pada meningkatnya efikasi-diri.
c). Persuasi Sosial
Efikasi diri juga dapat di-peroleh, diperkuat atau dilemahkan me-
lalui persuasi sosial. Dampak dari sum-ber ini terbatas, tetapi pada kondisi yang tepat persuasi dari orang lain dapat mempengaruhi efikasi diri. Kondisi itu adalah rasa percaya kepada pemberi per-suasi, dan sifat realistik dari apa yang dipersuasikan.

d).  Keadaan Emosi
Keadaan emosi yang mengikuti suatu kegiatan akan mempengaruhi efikasi di
bidang kegiatan itu. Emosi yang kuat, takut, cemas, stress, dapat me-ngurangi efikasi diri. Namun bisa terjadi, peningkatan emosi (yang tidak berlebihan) dapat meningkatkan efikasi diri. Perubahan tingkah laku akan terjadi kalau sumber ekspektasi efikasinya berubah.

B.  Hakikat Pemodelan
1.   Pengertian Pemodelan (M)
Pemodelan (Modeling) merupa-kan tingkahlaku yang di demonstrasikan (dipertunjukkan) yang merupakan stimu-lus untuk belajar (
Bell,   1986:      270).   Dictionary   of   Cuonseling   Techniques   and   Terms
memandang sebagai teknik menggunakan model sebagai sarana untuk memfasilitasi perubahan (Harper, 1981: 26). Modeling mengacu pada proses melalui pengamatan terhadap pola pikir, keyakinan serta perilaku mereka setelah ditampilkan oleh satu atau lebih model (Schunk 1987 dalam Schunk dan Zimmerman, 2007). Dapat disimpulkan bahwa pemodelan merupakan proses pengamatan terhadap tingkahlaku orang yang dijadikan model, untuk sebagai suatu stimulus untuk belajar.
Proses pengamatan dalam pe-modelan akan melibatkan Konseli dan Model. Konseli pada kegiatan ini me-lakukan proses peniruan terhadap model untuk menghasilkan  perubahan tingkah laku hampir menyerupai tingkah laku




model tersebut. Adapun yang dimaksud dengan model adalah individu yang di-jadikan rujukan atau contoh serta mem punyai pengaruh untuk bisa mengubah tingkahlaku dari individu (pemer-hati).Model akan memberikan informasi mengenai hal-hal yang akan meningkat-kan efikasi-diri, dalam hal ini adalah efikasi-diri akademik ( EDA) peserta didik.
Pemodelan sebagai suatu teknik intervensi untuk mengubah perilaku siswa,   layak   dimanfaatkan.   Salah   satu   bukti   adalah   penelitian   yang
dikemukakan oleh Meyers dan Craighead (dalam Benyamin, Puleo, Settipani, Brodman,  Edmund,  Cummings, Kendall, 2011) mengidentifikasikan bahwa
kekuatan  yang  dapat  mengintervensi  perilaku  anak-anak  yaitu  dengan melalui (a) pemodelan, (b) pelatihan pembelajar-an-diri, dan (c) pemecahan masalah.
Dalam upaya  peningkatan  EDA  melalui  layanan  konseling  terapi perilaku  kognitif  (TPK)  dengan  teknik  pemodelan  ini,  dilakukan  melalui
intervensi pe-modelan lambang (ML)/Symbolic Mode-ling. Intervensi pengubahan perilaku kognitif dilakukan melalui sajian model yang dalam hal ini  dengan  memanfaat-kan  video  dan  dikombinasi-kan  dengan  wawancara
serta jurnal efikasi-diri. Pemodelan lambang (ML) ini untuk selanjutnya dalam pembahasan ini di-sebut dengan pemodelan.
Pemodelan pada TPK di-kembangkan berdasarkan pertimbangan unsur-unsur esensial modeling simbolik (MS) yang dikemukakan oleh Cormier dan Cormier (1985), yaitu: (1) ada ke-samaan sifa-sifat pemakai dengan model
yang  ditampilkan,  (2)  tingkahlaku  model  di  spesifikasi,  (3)  menggunakan media tertulis atau rekaman (audio, video, film, atau slide), (4) ada skrip akan
disajikan (instruksi, modeling, latihan, balikan, dan ringkasan), dan (5) testing
lapangan dari model yang telah dikembangkan.
Pemodelan simbolik (MS) juga bisa digunakan untuk menghilangkan sikap emosional  yang  merupakan  cara  in-duksi  symbolic  desensitization  dalam rangka pembangkitan emosi (Emotinal arousal/Physiological States) sebagai sumber untuk meningkatkan EDA.

2. Vicarious Learning (VL)
Vicarious  Learning  (VL), pada  awalnya  diciptakan oleh  Bandura
(1962) untuk merujuk pada pembelajaran bentuk perilaku dengan menonton video dari perilaku itu (misalnya, agresi).
Vicarious Learning (VL) di-gunakan untuk merujuk kepada keadaan
yang terjadi ketika peserta didik melihat dan/ atau mendengar sebuah situasi pem-belajaran  (yaitu,  pelajar  dan/atau  Guru  atau  Instruktur  yang  diamati dalam   si-tuasi   instruksional)   dimana   mereka   bukan   petutur   dan   tidak




berinteraksi  dengan  pembelajar  yang  diamati  atau  instruksi  pelajar  yang diamati itu (Gholson & Craig, 2006; Mayes, T   et al, 2001; Rosenthal & Zimmerman, 1978).
Situasi belajarnya meskipun sering disajikan sebagai rekaman video dari interaksi manusia atau situasi belajar yang diciptakan dalam bentuk kartun
(Bandura, 1986), namun bisa men-jangkau definisi live vicarious learning,
misalnya, siswa menonton siswa lain berinteraksi dengan guru di depan kelas.
Vicarious Learning (VL) di induksi melalui dua cara, yaitu melalui; (1) live modeling, dan (2) symbolic modeling (Bandura, 1977b: 80). Live Modeling atau Model Hidup (MH) me-liputi anggota keluarga, teman, rekan se-kerja, dan orang-orang lain yang ada hubungannya dengan individu secara langsung  (Bell, 1986: 242).
Symbolic Modeling atau Model Simbolik (MS), merupakan perwujudan tingkahlaku dalam gambar (Bell, 1986: 242). Pada masa usia SD sampai SMP, anak masih mempunyai ketertarikan yang besar untuk visualisasi gambar,  misalnya  dengan tampilan  video  se-demikian rupa  untuk menarik minat siswa.
Video Permodelan
Bandura dalam pandangannya menekankan adanya suatu cara belajar
melalui  mengamati  sebuah  model.  Ketika  individu  melihat  orang  secara berhasil melakukan sesuatu, maka ke-berhasilan ini merupakan informasi yang jelas kepada individu tersebut tentang cara terbaik untuk melakukan dan mem- perkuat  rasa  kemampuan.  Pengamatan  terhadap  suatu  model  yang  sesuai dengan konteks akan dapat bermuara pada peningkatan efikasi-diri (Bandura,
1977b). Salah satu bentuk pemodelan adalah tampilan secara lambang dengan melalui  video  pemodelan.  Video  permodelan  mengacu  pada  "perubahan perilaku yang dihasil-kan dari pengamatan berulang pada rekaman video yang menunjukkan hanya perilaku yang diinginkan. Dalam pe-modelan, seorang individu  belajar  peri-laku  produktif  dengan  mengamati  ke-terlibatan  orang yang serupa dalam perilaku positif dari rekaman awal kaset Penekanan video pemodelan terletak pada perilaku sukses yang focus-nya pada kekurangan dan masalah-masalah individu. Dengan memungkinkan indivi-du untuk menonton keterlibatan dirinya sendiri dalam peran model pada perilaku produktif dan fungsional, individu me-rasa diberdayakan untuk kompetensi mereka sendiri. Selama intervensi video per-modelan, individu mengamati tingkat superior kinerja   yang   menunjukkan   pe-nguasaan   masa   depan   perilaku.   Video pemodelan  ini  dibangun  dengan  meng-identifikasi  film  gambar  perilaku yang diinginkan melalui suatu pengeditan untuk menunjukkan hanya contoh sam-pel  dari  kemampuan  orang  tersebut.  Video  permodelan  tentu  saja




berbeda dari intervensi umpan balik yang me-libatkan review kinerja masa lalu, yang sering berfokus pada kerugian dan kesalahan.

C. Pendekatan Cognitif Behavior Therapy (CBT)/Terapi Perilaku
Kognitif (TPK).
1. Konsep Dasar Terapi Perilaku Kog-nitif (TPK)
Terapi perilaku kognitif (TPK) atau Cognitive Behavior Therapy
(CBT) adalah sebuah pen-dekatan konseling yang bertujuan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan emosi, perilaku dan kognisi, me- lalui orientasi tujuan, prosedur sis-tematis.
Isi Kogntif dari TPK berusaha Menciptakan perasaan   (Feeling/F)
baru melalui intervensi yang membantah/ meragukan (Disputing intervention)
ter-hadap keyakinan (Belief/B).  Beck mendasarkan teorinya pada rasionalitas yang  menyatakan  bahwa  cara  orang  merasakan  (B)  dan  berperilaku  (C) ditentukan  oleh  cara  mereka  menyusun  pengalaman  (A).  Sasaran  dari pendekat-an ini adalah menolong klien mengenali, mengamati dan memantau jalan pikiran (terutama jalan pikiran otomatisnya”) yang menyimpang serta menggantikan dengan kesimpulan yang realistis dan akurat (Beck, 2011). Terapi perilaku kognitif (TPK) atau Cognitive Behavior Therapy (CBT) merupakan  sebuah  pendekatan  konseling  yang  bertujuan  untuk  me- mecahkan masalah  yang berkaitan dengan emosi, perilaku dan kognisi,
me-lalui orientasi tujuan, prosedur sis-tematis.
2. Tahapan-tahapan Pemodelan dalam TPK
Beck mengemukakan proses konseling CBT yang memerlukan waktu terbatas,
yaitu 6 sampai 14 kali pertemu-an (sesi). Dalam kaitan ini waktu yang dirancang adalah 12 kali pertemuan, termasuk per-siapan non konseling. Berdasarkan hal tersebut, disusunlah for-mulasi langkah-langkah konseling TPK melalui pe-modelan sebagai berikut:
a.    Assesmen  dan  Masalah  Utama;  pendekatan  dan  ke-sepakatan  untuk mem-bangun  kekuatan  terapeutik.  Selanjutnya  menentukan  di-agnosa
permasalahan (dengan data penguat awal ada-lah informasi dari konselor
sekolah dan pre tes EDA).
b.    Mencari  akar  permasalah-an  yang  bersumber  dari  kesimpulan- kesimpulan yang tidak akurat dengan melaku-kan identifikasi. Dan
melakukan    evaluasi    untuk    me-nemukan    keyakinan    utama disfungsional  yang  me-nyebabkan  efikasi-diri  akademik  (EDA)
rendah.
c.    Menyusun rencana inter-vensi (kolaborasi konselor dan konseli)
dengan mem-berikan konsekuensi positif-negatif kepada konseli.




d.    Rekonseptualisasi, yaitu me-nata kembali atau me-rancang ulang dalam bentuk  kesimpulan  yang  akurat,  dan  dimunculkan  dalam ting-kahlaku yang dijalankan oleh Model.
e.    Intervensi Tingkahlaku me-lalui pemodelan dalam rangka memodifikasi keyakinan-keyakinan  konseli.  Dalam  kegiatan  ini  terdapat     proses
kognitif, yaitu atensi dan retensi.
f.     Pengakhiran Terapi; me-liputi penilaian keefektifan proses bantuan, dan meng-akhiri proses bantuan, baik sementara maupun tetap

D.  Keterkaitan antara TPK dan Efikasi-diri Akademik (EDA)
Pendekatan TPK sering dipilih dalam bidang bidang konseling untuk
mengatasi masalah akademik, termasuk efikasi-diri akademik. Secara teoritik ada  tiga  cara  pendekatan,  yaitu;  Cognitive  Behavior  Therapy  (CBT)  yang
digagas oleh Beck (1976), Rational Emotif Behavior Therapy (REBT) yang
digagas oleh Ellis (1987), serta Cognitive Be-havior Modification  (CBM) dari Meichenbaum. Pendekatan tersebut sama –sama berasumsi bahwa terjadinya masalah akademik seperti efikasi-diri akademik disebabkan oleh cara berfikir yang mal-adaptif. Namun CBT memiliki perbedaan, yaitu bahwa pendekatan ini tidak memberikan kesimpulan bahwa klien yang “bermasalah adalah individu yang irrasional yang akan membuat klien lebih terpukul, tetapi klien hanya memiliki kesimpulan yang tidak akurat”. Oleh karena itu pemberian layanannya lebih menekankan kepada mempertanyakan akurat dan tidaknya kesimpulan-kesimpulan yang dibuat klien sehingga menjadi sadar serta bisa menangani masalahnya secara lebih efektif. Untuk pelaksanaannya dilakukan melalui permodelan.
Konseling yang berorientasi kognitif perilaku dipilih, dengan alasan karena  telah  banyak  digunakan  untuk  mengintervensi  berbagai  gangguan-
gangguan  kejiwaan,  masalah-masalah  psikologis  (  Beck,  2011).  Masalah
Psikologis bisa berupa gangguan kecemasan umum dan gangguan perilaku. Sedangkan  efikasi-diri  akademik     rendah  adalah  merupakan  salah  satu
gangguan   perilaku   (perilaku   kognitif).   Sedangkan   salah   satu   problem
akademik adalah bagaimana meningkatkan efikasi-diri akademik siswa yang rendah. Problem ini secara umum pemecahannya bisa  melalui intervensi yang melibatkan proses kognitif perilaku dalam rangka perubahan perilaku dan kognitif. Di bagian lain efikasi-diri akademik menurut kerangka teori social learning mempunyai konsep yang merupakan perpaduan antara kognitif dan behavior (Bandura, 1976; Bandura, 1986; Guire, 2000). Dalam pandangan Bandura, efikasi-diri timbul sebagai penilaian kognitif terhadap kemampuan yang  dimiliki  individu.  Sementara,  konseling  kognitif-perilaku  mempunyai




tujuan utama meningkatkan kesadaran individu mengenai keyakinan irrasionalnya menjadi keyakinan yang lebih akurat, adaptif serta berbasis realitas.
Terapi perilaku kognitif (TPK) dalam penerapannya ke dalam konseling kognitif-perilaku  di  sisi  lain  memberikan  intervensi  yang  secara  umum
bertujuan untuk memecahkan masalah yang ber-kaitan dengan emosi, perilaku
dan kognisi, melalui orientasi tujuan serta prosedur sistematis. Menurut Beck
(Beck dalam Corey, 1996: 337), hal yang esensial adalah memfokuskan pada isi kognitif dari reaksi individual... sasarannya adalah mengubah cara berfikir klien. Penilaian kognitif yang rendah mengenai kemampuan yang dimiliki individu (diri sendiri), merupakan bentuk dari efikasi-diri akademik (EDA) yang rendah. Lebih lanjut, untuk mengubah EDA rendah menjadi tinggi, diberikan-lah perlakuan dengan eksperimen melalui terapi perilaku-kognitif (TPK).
Berdasarkan penjelasan yang sudah dikemukakan tersebut, dapat digambarkan keterkaitan antara TPK dengan efikasi-diri akademik (EDA) sebagaimana gambar 2.3:


Sumber efikasi-diri
(a). Performance

Efikasi-diri akademik

Eksperimen
Terapi

Efikasi-diri akademik tinggi
accomplishment

rendah

Perilaku

(acuan pada
(b). Vicarious learning
(c). Emotional arousal,

(acuan pada
konten)

Kognitif

konten)
(d). Verbal persuation











EDA Efikasi-diri akademik merupakan keyakinan individu me-ngenai kemampuannya dan cara berfikirnya, yang berpengaruh pada cara- cara ber-tingkahlaku untuk mencapai tujuan akademik.




penilaian kognitif mengenai kemampuan yang dimiliki individu.


TPK
Secara   umum   intervensi   ini
bertujuan untuk memecahkan masalah       yang       ber-kaitan
dengan emosi, perilaku dan kognisi, melalui orientasi tujuan serta prosedur sistematis. Menurut Beck (Beck dalam Corey, 1996: 337), hal yang esensial adalah mem-fokuskan pada isi kognitif dari reaksi individual terhadap peristiwa atau alur yang pikiran. sasarannya adalah mengubah cara berfikir klien.























Kesimpulan
Efikasidiri  akademik  merupakan  keyakinan-diri  dan  pengharapan  terhadap hasil pada tugas-tugas khusus dalam bidang akademik.
 

Gambar 2.3: Keterkaitan antara Terapi Perilaku Kognitif (TPK) dan Efikasi Diri Akademik (EDA)




Individu yang mempunyai efikasi-diri akademik tinggi lebih memungkinkan untuk berpartisipasi dan berhasil dalam tugas-tugas akademik.
Efikasi-diri  akademik (khususnya  yang rendah)  dapat  ditingkatkan  melalui bantuan konseling modifikasi-kognitif perilaku (MKP) dengan memanfaatkan
teknik  pemodelan  yang  merupakan  salah  satu  bentuk  induksi  yang  dapat meningkatkan efikasi-diri akademik.

DAFTAR PUSTAKA
Adawiyah, R. 2012. Pengembangan Model Konseling Behaviour dengan Teknik Modeling untuk Meningkatkan Kemaandirian Belajar Siswa SMPN 4 Wanasari Brebes. Http://jour nal.unnes.ac.id/sju/index .php/jbk
Adicondro, Nobelina dan Purnamasari, Alfi. 2011. Efikasi-diri, Dukungan Sosial Keluarga, dan Self Regulated Learning pada Siswa Kelas VIII. Humanit as, Januari Vol. VIII No.1.
Ary, Donald., Jacobs, L.C., Razavieh, Asghar. 1982.   Pengantar Penelitian dalam Pendidikan (Judul asli: Introduction to Research in Education), penterjemah Arief Furchan. Surabay: Usaha Nasional.
Baker, Sonia D., Lang, Russell., O'Reilly, Mark. 2009. Review of Video Modeling with Students with Emotional and Behavioral Disorders. Educa-tion & Treatment of Children, 32 (3).
Bandura, A. 1962. Social learning through imitation. In M. R. Jones (Ed.), Nebraska sympo-sium of motivation (pp. 211-269). Lincoln: University of Nebraska Press.
Bandura, A 1977a. Self-efficacy toward unifying theory behaviour change.
Psychological Review, 84, 191-215
Bandura, A, 1977b. Social Learning Theory. Englewood Cliffs.  New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Bandura,  A.    1986.  Social  Foundation  of  Thought  and  Action:  A  Social
Cognitive Theory. New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffts
Bandura, A. 1994. Self-efficacy. In V. S. Ramachaudran (Ed.), Ency-clopedia of human behavior (Vol. 4, 71-81). New York: Academic Press. (Reprinted in H. Friedman [Ed.], Ency-clopedia of mental health. San Diego: Academic Press, 1998).
Bandura, A., dan Mitschel. 1965. Modification of Self-Imposed Delay of Reward Through Exposure to Live and Symbolic Model. Journal of Personality and Social Psychology. Stanford University.




Bandura, A., dan   Schunk, Dale. 1984. Enhancing Self Efficacy and Achievement Through Rewards and Goals : Motivation and Information Effects,  (ed). The Journal of Educational Research,  76,  (1).
Beck, Judith S. 2011. Cognitive Behavior Therapy Basic and Beyond. Second
Edition. New York – London: The Guilford Press.
Benyamin, Courtney L., Puleo, Connor M., Settipani, Cara A., Brodman, Douglas M., Edmund, Juli M., Cummings, Colleen M., Kendall, Philip M., (2011). History of Cognitive-Behavioral Therapy (CBT) in Youth. Journal List  NIH Public Access, 20(2): 179-189.
Berlant, Anthony R., Weiss, Maureen R. (1997). Goal Orientation and the Modeling Process: An Individual's Focus on Form and Outcome. Research Quarterly for Exercise and Sport, 68 (4)
Betz. N.E. 1992. Counseling uses of career self-efficacy theory. The Career
Development Quarterly, 41, 22-26.
Boesdorfer, Sarah., Lorsbach, Anthony., Morey, Marilyn., (2011).  Using a Vicarious Learning Event to Create a Conceptual Change in Preservice Teachers Under-standings  of  the  Seasons.  Electronic  Journal  of Science Education Vol. 15, No. 1.
Bray,  M.A.,  &  Kehle,  T.J.  1996.  Self-modeling  as  an  intervention  for stuttering. School Psychology Review, 25, 358369.
Caprara, Gian Vittorio., Vecchione, Michele., Alessandri, Guido., Gerbin, Maria., Barbaranelli, Claudio.,  (2011). The contri-bution of personality traits and self-efficacy beliefs to academic achievement: A longitudinal Study. British Journal of Educa-tional Psychology. 81 , 78-96.
Chan, Joanne C. Y.   dan Lam, Shui-fong, 2008. Effects of competition on students' self-efficacy in vicarious learning. British Journal of Educational Psychology. 78 (1)
Cherry, Kendra. 2005. What is Cognitive Behavior Therapy?. Kendra- cherry.about.comguide
Clare, Susan K., Jenson, William R., Kehle, Thomas J and Bray, Melissa A.
2000.  Self-Modeling as a Treatment for Increasing On-Task Behavior.
Psychology in the Schools, 37 (6): 517-522.
Clark, E., & Kehle, T. J.  1992. Eva-luation of the parameters of self-modeling interventions. School Psychology Review, 21, 246–255.
Cormier, W.H. and Cormier, L.S. 1985. Interviewing Strategies for Helper Fundamental   Skill   an   Cognitive   Behavioral   Inter-ventions.   Third Edition. Pasific Grove, California: Brooks Publishing Company.




Corey, G. 1996. Theory and Prractice of Counseling and Psychotherapy. Fifth edition. Pasific Grove, Albany: Brooks/Cole Publish-ing Company.
Cox, Richard., dan Pang, Jiangxiong. (...).VL-PATSy Facilitating vi-carious learning via intelligent resource provision.  Depart-ment of Informatics, University of Sussex, Brighton, UK.
Creswell, J.W. 2012. Educational Research. Fourth Edition. USA: Pearson. Dimyati,   Mohammad.   1997.   Penelitian   Kualitatif.   Malang:   Program
Pascasarjana   IKIP   Malang   bekerjasama   dengan   Ikatan   Profesi
Teknologi Pendidikan Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar