KEEFEKTIVAN PEMODELAN TERHADAP
PENINGKATAN EFIKASI-DIRI
AKADEMIK
SISWA SMP
(Kajian Teoritik Aplikasi
Teori Bandura)
dimuat pada JVIP Vol 6,No 3 Oktober 2014
Oleh:
Luhur Wicaksono3
FKIP-UNTAN
www.luhurwicaksono@yahoo.com No.
Hp.085252585878
Abstract: Efikasi-diri
akademik merupakan keyakinan-diri dan pengharapan terhadap hasil pada
tugas-tugas khusus dalam
bidang akademik. Individu yang mempunyai efikasi-diri
akademik tinggi lebih memungkinkan untuk berpartisipasi dan berhasil dalam tugas-tugas akademik. Efikasi-diri akademik
(khususnya yang rendah) dapat ditingkatkan melalui bantuan
konseling
modifikasi-kognitif perilaku (MKP) dengan memanfaatkan teknik pemodelan.
Teknik ini menurut Bandura merupakan bentuk
induksi yang dapat meningkatkan efikasi-diri
akademik.
Kata Kunci: Efikasi-diri akademik,
pemodelan.
Abstract: Academic self-efficacy is efficacy-belief and outcome
expectations about the results of the specific
tasks in the academic field. Individual who
have high academic
self-efficacy are more likely
to
participate and succeed in academic tasks. Academic self-efficacy (particularly low) can be improved through
the help of cognitif-behavioral modification
(CBM) counseling by making use of modeling techniques.
This
technique is a form of induction according to Bandura can increase
academic self-efficacy.
Key Word: academic self-efficacy,
modeling
3 Luhur Wicaksono adalah Dosen Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP Untan
merupakan keyakinan individu bahwa mereka dapat
tampil dengan berhasil
pada tugas-tugas akademik sesuai tingkatan yang dipilihnya (Ferla, Valcke,
dan Cai, 2009)
Efikasi-diri (ED) merupakan salah satu dari kepribadian Individu, karena itu berkait dengan aspek pe-mahaman diri. Bimbingan dalam definisi
sebagai konstruk pendidikan ternyata berusaha juga melengkapi pengalaman
siswa untuk memahami dirinya (Shertzer and Stone,
1981). Bantuan yang
di- berikan dimaksudkan untuk mengenal kelebihan dan
kekurangannya.
Efikasi-diri akademik penting untuk di kaji, karena mempunyai pe-
ngaruh sangat besar terhadap kepercayaan-diri serta pengharapan hasil (Bandura, 1986; Bell, 1986; Elliot et al.,2000), yang
akan mengarah pada perilaku (performance) dan ketekunan (persis-tence). Individu yang memiliki efikasi-diri akademik (EDA) rendah cenderung menghindar mencapai tugas tertentu yang
dianggap sulit, karena tidak
yakin dapat berhasil menyelesaikan tugas-tugas akademik, menggunakan sedikit waktu untuk
mengatasi tantangan, tidak
kreatif dan miskin ide dalam memecahkan persoalan, serta
tidak ulet dan takut gagal. Sementara individu yang percaya me-ngenai kemampuannya, lebih mungkin untuk berpartisipasi terhadap tugas-tugas akademik. Individu yang
tinggi efikasi-diri akademiknya merasa
yakin dapat berhasil menyelesaikan tugas akademik.
Beberapa hasil
penelitian yang
menguatkan
pentingnya
efikasi-diri aka-demik untuk diteliti, antara lain peneliti-an Multon and Brown (1991)
yang menyatakan bahwa efikasi-diri membangun hasil konstruk
dalam menjelaskan
dan memprediksi
akademi
siswa.Keyakinan
ED berpengaruh
pada prestasi akademik (Liew, McTigue, Barrois, Hughes, 2008; Schunk dan
Zimmerman, 2007). Penelitian Caprara et al (2011) menjelaskan bahwa
ciri- ciri kepribadian
(keterbukaan dan kesadaran) dan keyakinan
efikasi-diri
sebagai pre-diktor penting dari prestasi akademik siswa SMP. Dalam konteks
pendidikan yang lebih rendah juga terungkap oleh penelitian yang dikemukakan oleh Liew dan kawan-kawan pada sebuah studi longitudinal di
Amerika terhadap
siswa SD menunjukkan bahwa efikasi-diri
aka-demik
(EDA) berpengaruh pada
membaca dan matematika (Liew, Mc Tigue, Barrois,
dan Hughes, 2008). Tentu saja untuk
konteks siswa SMP akan meng- khawatirkan
apabila tidak ditangani lebih serius.
Penelitian-penelitian
lain dalam
bidang
BK yang
menunjukkan bahwa
efikasi-diri akademik siswa
bisa di-tingkatkan
dan
penting
mendapatkan perhatian antara lain dikemukakan oleh Ummah (2010)
menggunakan Konseling Singkat Berfokus Solusi, Permatasari (2010)
menggunakan Kemanjuran
konseling dengan
teknik self-instruction,
dan
Wachid (2012) menggunakan konseling kelompok dengan teknik metafora berbentuk healing stories. Adicondro dan Purnamasari
(2011) meneliti tentang
efikasi-diri pada 62 siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Yogyakarta menemukan sesuatu yang mengejutkan, karena siswa SMP ternyata
mempunyai efikasi-diri akademik (EDA) yang rendah.
Efikasi-diri (ED) yang
rendah, dapat ditingkatkan melalui kegiatan konseling dengan memodifikasi perilaku kognitif dengan mengajarkan kepada konseli
cara mengidentifikasi kognitif yang
rancu
dan tidak berfungsi melalui proses
evaluasi,
dengan mengenali,
mengamati,
dan
memantau mengenai jalan
pikiran serta asumsi,
terutama “jalan pikiran otomatis-nya”. Menurut Beck, pendekatan kognitif dimaksudkan untuk
mengajar klien untuk
menguji pikiran otomatis
(yaitu, ide
negatif tentang
diri
mereka sendiri, dunia, dan masa
depan) kemudian menggantikan kognisi mereka yang menyimpang dengan intepretasi
yang realistis dan
akurat
(Beck, 2011). Potensi siswa
pengembangannya akan
lebih baik dengan
menyoroti aspek-aspek kognitif siswa daripada
aspek negatifnya
Intervensi untuk mengubah perilaku kognitif dalam konseling
mempunyai banyak
pendekatan, salah
satunya adalah pendekatan konseling
aliran kognitif behavior yang
meliputi Rational Emotive
Behavior Therapy (REBT) oleh Albert
Ellis, Cognitive
Therapy (CT)/Cognitive
Behavior Therapy (CBT) 0leh Aaron T. Beck, dan Cognitive-Behavior Modification (CBM) oleh
Donald Meichenbaum. Walaupun Cognitive Therapy (CT)/Terapi Kognitif atau Terapi Perilaku Kognitif (TPK) dari Beck memiliki kesamaan
tujuan dengan Ellis, yaitu menstruktur kembali aspek kognitif (cognitive restructuring) (Gunarsa, 2007: 230). Tetapi terapi Beck tidak memberikan
label kepada klien mengenai keyakinan yang
irasional,
namun mengatakan bahwa
saat ini klien sedang membuat kesimpulan yang tidak akurat. Lebih dari itu, TPK dari Beck
menerapkan konseling yang
bersifat kolaboratif. Sehingga sangat sesuai untuk diterapkan pada siswa
SMP yang berada pada fase remaja.
Pendekatan
TPK
dipilih di-banding
banyak pendekatan lain
dalam konseling karena pendekatan ini telah banyak dimanfaatkan untuk intervensi
berbagai gangguan emosi dan masalah akademik. Kemanjuran TPK ini juga
telah dibuktikan melalui keberhasilannya dalam menangani tidak
hanya gangguan-gangguan
kejiwaaan, tetapi juga ma-salah-masalah psikologis,
bahkan kom-ponen-komponen problem medis
dan psikologis (Beck,
2011: 4)
Intervensi TPK ini secara umum bertujuan untuk
memecahkan
masalah yang berkaitan dengan emosi, perilaku dan kognisi, melalui orientasi tujuan,
prosedur sistematis. Menurut Beck, hal
yang esensial adalah
memfokuskan pe-nyelesaian masalah pada saat
ini
melalui modifikasi
disfungsional (ketidakakurat-an dan/atau
ketaktertolongan) pikir dan tingkahlaku (Beck dalam
Beck, 2011: 2). Dengan demikian sasarannya adalah mengubah cara berfikir klien. Di sisi lain efikasi-diri akademik merupakan ke-
yakinan
individu mengenai kemampuan-nya, cara berfikirnya yang berpengaruh pada
cara-cara bertingkahlaku
untuk mencapai tujuan akademik. Jadi efikasi-diri akademik juga timbul dari penilaian kognitif mengenai kemampuan
yang
dimiliki individu.
Pendekatan
Terapi
Perilaku
Kognitif
(TPK)
(cognitive
behavior therapy/CBT) secara khusus meliputi strategi intervensi yang terdiri dari ber-
bagai macam. TPK
mencerminkan
sifat-nya kompleks
dan
integratif
serta
mencakup topik-topik
seperti pembiasa-an, pemodelan, restrukturisasi kognitif, persuasi verbal, pemecahan
masalah, dan
pengembangan strategi
coping,
penguasaan,
dan rasa kontrol
diri
(Benyamin, Puleo,
Cummings,
Kendall, 2011; Betz, 1992: Corey, 1996: 328). Pemodelan (M) dimanfaatkan pada
penelitian ini untuk meningkatkan
efikasi-diri akademik (EDA).
Pemodelan adalah
proses
peng-amatan terhadap
tingkahlaku
orang yang
dijadikan model. Pemodelan mengacu pada proses melalui pengamatan ter- hadap
pola pikir, keyakinan serta peri-laku mereka setelah ditampilkan oleh
satu
atau lebih model (Schunk dalam Schunk dan Zimmerman, 2007). Model akan
memberikan informasi mengenai hal-hal yang akan meningkatkan
efikasi-diri (ED) peserta didik. Model bisa ber-asal dari orang dewasa
dan teman-teman
dalam kehidupan siswa.
Pemodelan
dapat
memberikan
beberapa manfaat
bagi para siswa, yaitu
untuk; (1) pembangkit
tingkahlaku, (2) meningkatkan
ketahanan diri
dalam menghadapi kesulitan, (3) menyampai-kan pola perilaku baru (Bell,
1986: 241-242), (4) memberikan standar yang
bisa
dipercaya sebagai pedoman bagi cita-cita si pengamat, atau memberikan tolok rujukan realistis sebagai
perbandingan bagi si pengamat (Rosenthal & Zimmerman, 1978: 636), (5) meramal-kan konsekuensi yang mungkin terjadi (Bandura, 1977a), (6) termotivasi untuk
bertingkahlaku tertentu dengan meng-harapkan konsekuensi yang akan di dapat.
Alasan penggunaan pemodelan dalam penelitian ini, didukung oleh beberapa hasil penelitian yang
telah dilaku-kan.
Bandura & Mischel (1965)
menggunakan model hidup dan
model simbolik
dalam rangka memodifikasi perilaku penundaan
pemberian reward. Hasil penelitian lain berupa
penggunaan pemodelan
realita visual bahasa untuk pelajaran sejarah mengenai
Candi Erechteum Athena untuk siswa
kelas 4 (Eggarxou et all,
2007).
Baker at
all
(2009) yang meneliti penggunaan video pemodelan pada siswa dengan
gangguan emosional dan perilaku. Berikutnya adalah penelitian Pinker (1979) me-ngenai penggunaan model formal dalam
pembelajaaran bahasa pada anak. Penelitian Muslikah (2012), yang mem-buktikan keefektifan teknik
modeling
simbolik
untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Selanjutnya
penelitian Adawiyah (2012) menggunakan teknik modeling
untuk meningkatkan ke-mandirian belajar siswa
SMP.
Pemodelan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan efikasi-diri
akademik (EDA) siswa
ternyata
belum
banyak memperoleh
perhatian.
Informasi
sementara
(berdasarkan
wawancara in-formal dengan
guru
BK
SMK dan SMP, bulan Agustus 2013 pada kegiatan
Sertifikasi Guru) pada
sekolah di hampir
seluruh
kabupaten/kota di Propinsi Kalimantan Barat juga
pada wawancara informal di beberapa SMP di kota Tegal (Jawa Tengah) (July, 2012), secara umum menunjukkan belum telaksana. Kalaupun sudah,
maka pelaksanaannya juga masih terpecah-pecah dan masih belum
sistematis (pengamatan sementara sebagai asesor akreditasi sekolah).
Berdasarkan
uraian
yang telah dikemukakan tersebut,
peningkatan
efikasi-diri akademik (EDA) diharapkan menjadikan siswa bisa menjalankan
perilaku
tertentu yang begitu penting artinya, agar ia dapat memilih kegiatan yang akan dijalaninya sebagai siswa.
A. Hakekat Self-efficacy (SE)/ Efikasi-diri (ED)
1. Pengertian Self-efficacy (SE)/ Efikasi-diri (ED)
Bandura mengatakan bahwa efikasi diri merupakan keyakinan individu
mengenai kemampuannya
dalam
mengatur
serta menjalankan program
tindakan yang diperlukan
untuk mengelola
situasi
yang ada (prospective
situations) (Bandura, 1977a, hal 2). Nilsen (2009) mengatakan bahwa ”self-
efficacy is the belief that one has the
ability
to perform”. Sullivan dan Mahalik
(2000:54) mendefinisikan efikasi-diri sebagai “considered a
cognitive
structure created by cumu-lative learning experiences that leads to the belief or expextation that one can successfully perfrm a specific task or activity”.
Elliot, Kratochwill, Cook, dan Traver (2000:352) mengungkapkan efikasi-diri
sebagai “individual beliefs in their abilities to exert control over their lives; feeling of competency”. Selanjut-nya Schunk (1983: 848) mengemukakan efikasi-diri sebagai “concerned with
judgement about how well one can
organize and execute course of action required in
situation that may contain ambiguous, unpredictable, and stressful elements”.
Berdasarkan beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa efikasi diri adalah: (1) penilaian terhadap
tingkat keyakinan dan pengharapan
diri (berupa struktur kognitif) mengenai
kesuksesan untuk melakukan
kegiatan sehari-hari;
(2) pemberi
arahan serta me-ngontrol perilaku kehidupan; (3) aspek perilaku dengan
rentangan luas, dari penyelesaian tugas-tugas khusus hingga kegiatan penyelesaian masalah-masalah yang bersifat umum, membuat bingung, tidak
pasti, serta
sangat menegangkan.
2. Konsep
Efikasi-diri
Kerangka teori besar yang mendasari Self-efficacy (SE) adalah teori
Kognisi Sosial (Social Cognitive Theory/ SCT).
Teori Kognisi Sosial merupakan penamaan baru dari Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory)
Albert Bandura yang
melihat
manusia
sebagai
suatu
struktur
reciprocal
determinism (lihat gambar 2.1).
B
P E
Bandura (1977, 1986)
sebagai-mana gambar 2.1
mengemukakan
bahwa terdapat hubungan timbal-balik
(Rcipro-cal Determinism) dari faktor- faktor penentu yaitu; (a) faktor pribadi /personal factors (P) dalam bentuk
kognisi dan peristiwa-peristiwa biologis (biological events),
(b)
perilaku
manusia/human behavior (B), dan
(c) pengaruh faktor
lingkungan/environ mental factors (E) dalam interaksi segi-tiga (reciprocality
triadic).
3. Konstruk Efikasi-diri
Efikasi-diri mempunyai dua konstruk
(Bandura,
1986: 391-393; Bell,
1986: 250-251; Elliot et al., 2000: 352),
yaitu;
1. Kepercayaan-diri (efficacy-belief) berhubungan
dengan keyakinan bahwa
individu memiliki kemampuan
untuk melakukan tindakan yang di-
harapkan dalam mencapai
suatu prestasi.
2. Pengharapan- hasil (outcome expec-tations) adalah perkiraan atau esti-masi diri bahwa tingkah
laku yang dilakukan
diri itu akan
mencapai hasil
tertentu.
Kepercayaan-diri individu ma-sing-masing
berlainan, yang dasarnya adalah perbedaan lingkup yang disebut dengan dimensi. Bandura (1977: 84 –
85) mengajukan tiga dimensi efikasi-diri, yakni: 1) Magnitude, yang berkaitan
dengan tingkat kesulitan tugas, sejauh-mana individu merasa mampu dalam
melakukan berbagai tugas dengan sederhana, yang agak sulit, hingga yang
sangat sulit; tugas, sejauhmana individu merasa mampu dalam melakukan
ber-bagai tugas dengan tingkat kesulitan tugas, mulai dari yang sederhana,
yang agak sulit, hingga yang sangat sulit; 2) Generality, sejauhmana individu yakin akan kemampuannya dalam berbagai situasi tugas, mulai dari dalam
melaku-kan suatu aktivitas atau
situasi tertentu, hingga
dalam serangkaian
tugas atau situasi yang
bervariasi; 3) Strength, kuatnya keyakinan seseorang mengenai kemampuan yang dimiliki. Bandura (1986:391) lebih lanjut mengatakan bahwa dimensi-dimensi tersebut ter-cermin dalam perceived self- efficacy yaitu tingkat kepercayaan-diri serta pengharapan
individu untuk
berhasil sebagaimana dia
mempersepsi dirinya.
Pengharapan-hasil terdiri atas tiga bentuk, yaitu; (1) pengharapan hasil
positif (positif expectation) yang ber-tindak sebagai pendorong (incentive), (2)
pengharapan negatif (negative expec-tation) yang bertindak sebagai peng-
hambat (disincentive), dan
dampak (effect) negatif
atau positif
dari ling-
kungan
sosial (Bandura, 1997:22).
Pernyataan perilaku siswa
dapat dilihat pada: (1) unjuk kerja (perfor-
mance), serta (2) keuletan (persistence). Dengan pernyataan perilaku tersebut dapat
di deskripsikan konstruk
efikasi-diri akademik Dengan merujuk pada deskripsi
yang telah
dikemukakan
tersebut, maka dapat di susun konstruk efikasi-diri akademik
4. Sumber
Ekspektasi Efikasi-diri
Perubahan tingkah laku, dalam sistem Bandura kuncinya adalah per-
ubahan ekspektasi (efikasi diri). Efikasi diri atau keyakinan kebiasaan diri itu dapat
diperoleh, diubah, ditingkatkan atau diturunkan, melalui salah satu atau
kombinasi empat
sumber,
yakni
pengalaman yang
berhubungan
dengan
kesuksesan atau kegagalan menguasai sesuatu prestasi (performance
accom- plishment), pengalaman karena mengamati perilaku orang lain (vicarious learning), dorongan atau motivasi yang meyakinkan dari orang lain (verbal per-suation) dan tingkat ketegangan emosi dalam
menghadapi
situasi yang penuh
dengan tantangan
dan hambatan (Emo-tinal arousal/Physiological States ).
b). Pengalaman
Vikarius
Diperoleh melalui model
sosial. Efikasi akan
meningkat ketika
meng-amati pengalaman perilaku orang lain (vicarious experience) yang
berhasil, sebaliknya efikasi akan menurun jika mengamati orang (model) yang
ke-mampuannya kira-kira sama dengan
dirinya ternyata gagal. Kegagalan model
yang setara dengan dirinya,
bisa jadi
membuat individu tidak mau
mengerja-kan apa yang
pernah gagal dikerjakan model yang diamatinya itu dalam jangka waktu yang lama. Kalau figur yang diamati berbeda dengan diri
si-pengamat, pengaruh
perilaku
orang lain (vicarious)
tidak besar.
Dalam menyelenggarakan peng-alaman vikarius (PV), secara operasional diungkapkan dalam
strategi pengubahan sumber ekspektasi,
diinduksi melalui 2 (dua) cara, yaitu; (1)
live modeling, dan (2) symbolic
modeling
Pemodelan (modeling) me-nyediakan standar sosial untuk
menilai kemampuan
diri. Model-model
yang
pandai serta mempunyai efikasi-diri tinggi, akan mendorong kompetensi individu mencapai cita-cita mereka.
Individu akan belajar dari model-modelnya mengenai
cara berfikir,
berekspresi, mengobservasi strategi serta ketrampilan-ketrampilan yang
akan bermuara pada
meningkatnya efikasi-diri.
c). Persuasi Sosial
Efikasi diri juga dapat di-peroleh, diperkuat atau dilemahkan me-
lalui persuasi sosial. Dampak dari sum-ber ini terbatas, tetapi pada kondisi yang tepat persuasi dari orang lain dapat mempengaruhi efikasi diri. Kondisi
itu
adalah rasa percaya kepada pemberi per-suasi, dan sifat realistik dari apa
yang
dipersuasikan.
d). Keadaan Emosi
Keadaan emosi yang mengikuti suatu kegiatan akan mempengaruhi efikasi di
bidang kegiatan
itu.
Emosi yang kuat, takut, cemas, stress, dapat me-ngurangi
efikasi diri. Namun bisa terjadi, peningkatan emosi (yang tidak
berlebihan) dapat
meningkatkan efikasi diri. Perubahan tingkah laku akan terjadi kalau sumber ekspektasi efikasinya
berubah.
B. Hakikat Pemodelan
1. Pengertian Pemodelan (M)
Pemodelan (Modeling) merupa-kan tingkahlaku yang
di demonstrasikan (dipertunjukkan) yang merupakan stimu-lus untuk belajar (
Bell, 1986:
270). Dictionary of Cuonseling Techniques
and Terms
memandang sebagai teknik menggunakan model sebagai sarana untuk memfasilitasi perubahan (Harper, 1981: 26). Modeling mengacu pada proses
melalui pengamatan terhadap pola pikir, keyakinan
serta perilaku mereka setelah ditampilkan oleh satu atau lebih model (Schunk 1987 dalam Schunk dan Zimmerman, 2007). Dapat disimpulkan bahwa pemodelan merupakan
proses pengamatan terhadap tingkahlaku orang yang dijadikan model, untuk sebagai suatu
stimulus
untuk belajar.
Proses pengamatan dalam pe-modelan akan melibatkan Konseli dan
Model. Konseli pada kegiatan ini me-lakukan proses peniruan terhadap model untuk menghasilkan perubahan tingkah laku hampir menyerupai tingkah laku
model tersebut. Adapun yang dimaksud dengan model adalah individu yang
di-jadikan rujukan atau contoh
serta mem punyai pengaruh untuk bisa mengubah tingkahlaku dari individu
(pemer-hati).Model akan memberikan
informasi mengenai hal-hal yang akan meningkat-kan efikasi-diri, dalam hal
ini
adalah efikasi-diri akademik ( EDA) peserta didik.
Pemodelan sebagai suatu teknik intervensi untuk mengubah perilaku
siswa, layak dimanfaatkan.
Salah satu bukti adalah penelitian yang
dikemukakan oleh Meyers dan Craighead (dalam
Benyamin, Puleo,
Settipani, Brodman,
Edmund,
Cummings, Kendall, 2011) mengidentifikasikan bahwa
kekuatan yang dapat mengintervensi perilaku
anak-anak yaitu
dengan melalui (a) pemodelan, (b)
pelatihan pembelajar-an-diri, dan (c) pemecahan masalah.
Dalam upaya
peningkatan
EDA melalui
layanan
konseling terapi
perilaku
kognitif
(TPK) dengan
teknik pemodelan ini,
dilakukan melalui
intervensi pe-modelan lambang (ML)/Symbolic
Mode-ling. Intervensi pengubahan perilaku kognitif dilakukan melalui sajian model yang dalam hal
ini dengan memanfaat-kan video dan dikombinasi-kan dengan
wawancara
serta jurnal efikasi-diri. Pemodelan lambang (ML) ini untuk selanjutnya dalam
pembahasan ini di-sebut dengan pemodelan.
Pemodelan pada TPK di-kembangkan
berdasarkan
pertimbangan unsur-unsur esensial modeling simbolik (MS) yang dikemukakan oleh
Cormier dan Cormier (1985), yaitu: (1) ada ke-samaan sifa-sifat pemakai dengan model
yang ditampilkan,
(2)
tingkahlaku
model di spesifikasi, (3) menggunakan media tertulis atau rekaman (audio, video, film, atau slide), (4) ada skrip akan
disajikan (instruksi, modeling, latihan, balikan, dan ringkasan), dan (5) testing
lapangan dari model yang telah dikembangkan.
Pemodelan simbolik (MS)
juga bisa digunakan untuk menghilangkan sikap
emosional yang merupakan cara in-duksi
symbolic
desensitization dalam rangka pembangkitan emosi (Emotinal
arousal/Physiological
States)
sebagai sumber untuk meningkatkan EDA.
2. Vicarious Learning (VL)
Vicarious
Learning
(VL), pada awalnya
diciptakan oleh
Bandura
(1962) untuk merujuk
pada
pembelajaran bentuk
perilaku dengan menonton
video
dari
perilaku
itu
(misalnya,
agresi).
Vicarious Learning (VL) di-gunakan untuk merujuk kepada keadaan
yang terjadi ketika peserta
didik
melihat dan/ atau mendengar sebuah situasi
pem-belajaran
(yaitu, pelajar dan/atau Guru atau
Instruktur yang diamati
dalam
si-tuasi instruksional) dimana
mereka bukan petutur dan tidak
berinteraksi dengan
pembelajar
yang
diamati atau instruksi
pelajar
yang diamati itu (Gholson & Craig, 2006; Mayes, T et al, 2001; Rosenthal & Zimmerman, 1978).
Situasi belajarnya meskipun sering
disajikan sebagai rekaman video
dari
interaksi manusia atau situasi belajar yang
diciptakan dalam bentuk kartun
(Bandura, 1986), namun bisa men-jangkau definisi live vicarious learning,
misalnya, siswa menonton siswa lain berinteraksi dengan
guru
di depan kelas.
Vicarious Learning (VL) di induksi melalui dua
cara,
yaitu melalui; (1) live modeling,
dan (2) symbolic modeling (Bandura, 1977b: 80). Live
Modeling atau Model Hidup (MH) me-liputi anggota keluarga, teman, rekan
se-kerja, dan orang-orang
lain yang
ada hubungannya dengan individu secara langsung (Bell,
1986: 242).
Symbolic
Modeling atau
Model Simbolik (MS), merupakan
perwujudan tingkahlaku dalam
gambar (Bell, 1986: 242). Pada masa usia SD sampai SMP,
anak masih mempunyai ketertarikan yang
besar untuk visualisasi gambar, misalnya
dengan tampilan video se-demikian rupa
untuk menarik minat siswa.
Video Permodelan
Bandura dalam pandangannya menekankan adanya suatu cara belajar
melalui mengamati sebuah model. Ketika individu melihat orang
secara berhasil
melakukan
sesuatu, maka ke-berhasilan
ini merupakan informasi yang
jelas kepada individu tersebut tentang cara terbaik untuk melakukan dan mem- perkuat rasa
kemampuan.
Pengamatan terhadap
suatu model
yang
sesuai dengan konteks akan dapat bermuara pada peningkatan efikasi-diri (Bandura,
1977b). Salah satu bentuk pemodelan adalah tampilan secara lambang dengan melalui
video
pemodelan. Video permodelan
mengacu
pada
"perubahan
perilaku yang dihasil-kan dari pengamatan berulang pada rekaman video yang menunjukkan hanya perilaku yang diinginkan. Dalam pe-modelan, seorang
individu
belajar
peri-laku produktif dengan mengamati
ke-terlibatan orang yang serupa dalam perilaku positif dari rekaman awal kaset Penekanan video
pemodelan terletak pada perilaku sukses yang focus-nya pada kekurangan dan
masalah-masalah individu. Dengan memungkinkan indivi-du untuk menonton keterlibatan dirinya sendiri dalam peran model pada perilaku produktif dan fungsional, individu
me-rasa diberdayakan untuk kompetensi mereka
sendiri.
Selama intervensi video per-modelan, individu mengamati tingkat superior kinerja yang
menunjukkan
pe-nguasaan masa depan perilaku. Video pemodelan
ini dibangun
dengan meng-identifikasi
film
gambar perilaku
yang diinginkan melalui suatu pengeditan untuk menunjukkan hanya contoh
sam-pel dari
kemampuan
orang tersebut. Video permodelan tentu saja
berbeda dari intervensi umpan balik yang me-libatkan review kinerja masa
lalu,
yang
sering berfokus
pada
kerugian dan
kesalahan.
C. Pendekatan Cognitif Behavior Therapy (CBT)/Terapi Perilaku
Kognitif (TPK).
1. Konsep
Dasar Terapi Perilaku Kog-nitif (TPK)
Terapi perilaku kognitif (TPK) atau Cognitive Behavior Therapy
(CBT) adalah sebuah pen-dekatan konseling yang bertujuan untuk
memecahkan masalah
yang berkaitan
dengan emosi, perilaku
dan kognisi, me- lalui orientasi tujuan,
prosedur sis-tematis.
Isi Kogntif dari TPK berusaha Menciptakan perasaan (Feeling/F)
baru melalui intervensi yang membantah/ meragukan (Disputing intervention)
ter-hadap keyakinan (Belief/B).
Beck mendasarkan teorinya pada rasionalitas yang
menyatakan
bahwa
cara orang
merasakan
(B)
dan
berperilaku
(C)
ditentukan
oleh
cara
mereka menyusun pengalaman (A).
Sasaran dari pendekat-an ini adalah menolong klien mengenali, mengamati dan memantau
jalan pikiran (terutama “jalan pikiran otomatisnya”) yang menyimpang serta menggantikan
dengan kesimpulan yang realistis
dan akurat (Beck, 2011).
Terapi perilaku kognitif (TPK) atau Cognitive Behavior Therapy (CBT)
merupakan sebuah
pendekatan
konseling
yang bertujuan
untuk
me-
mecahkan masalah yang berkaitan dengan emosi, perilaku dan kognisi,
me-lalui orientasi tujuan,
prosedur sis-tematis.
2. Tahapan-tahapan Pemodelan dalam TPK
Beck mengemukakan proses konseling CBT yang memerlukan waktu terbatas,
yaitu 6 sampai 14 kali pertemu-an (sesi). Dalam kaitan ini waktu yang dirancang adalah 12 kali pertemuan, termasuk
per-siapan non konseling.
Berdasarkan hal tersebut, disusunlah for-mulasi langkah-langkah konseling TPK melalui pe-modelan
sebagai berikut:
a. Assesmen dan Masalah Utama; pendekatan dan ke-sepakatan untuk mem-bangun kekuatan
terapeutik.
Selanjutnya
menentukan
di-agnosa
permasalahan (dengan data penguat awal ada-lah informasi dari konselor
sekolah dan
pre tes EDA).
b. Mencari akar permasalah-an yang
bersumber
dari kesimpulan-
kesimpulan yang tidak akurat dengan melaku-kan identifikasi. Dan
melakukan
evaluasi untuk
me-nemukan
keyakinan utama disfungsional
yang me-nyebabkan efikasi-diri akademik
(EDA)
rendah.
c. Menyusun rencana inter-vensi (kolaborasi konselor dan konseli)
dengan
mem-berikan
konsekuensi positif-negatif kepada konseli.
d. Rekonseptualisasi, yaitu me-nata kembali atau me-rancang ulang dalam
bentuk kesimpulan yang
akurat, dan
dimunculkan dalam ting-kahlaku
yang
dijalankan
oleh Model.
e. Intervensi Tingkahlaku me-lalui pemodelan
dalam rangka memodifikasi keyakinan-keyakinan
konseli.
Dalam kegiatan
ini terdapat proses
kognitif, yaitu atensi dan retensi.
f. Pengakhiran Terapi; me-liputi penilaian keefektifan
proses bantuan, dan meng-akhiri proses bantuan, baik sementara
maupun tetap
D. Keterkaitan antara TPK
dan Efikasi-diri Akademik (EDA)
Pendekatan TPK sering dipilih dalam bidang bidang konseling untuk
mengatasi masalah
akademik, termasuk efikasi-diri akademik. Secara
teoritik ada tiga
cara pendekatan,
yaitu;
Cognitive Behavior
Therapy (CBT) yang
digagas oleh Beck (1976), Rational Emotif Behavior Therapy (REBT) yang
digagas oleh Ellis
(1987), serta Cognitive Be-havior
Modification (CBM) dari Meichenbaum. Pendekatan
tersebut sama –sama berasumsi bahwa terjadinya
masalah akademik seperti efikasi-diri akademik disebabkan oleh cara berfikir yang mal-adaptif. Namun CBT memiliki perbedaan, yaitu bahwa pendekatan
ini
tidak memberikan kesimpulan bahwa klien yang
“bermasalah’ adalah individu yang irrasional yang akan membuat klien lebih terpukul, tetapi klien
hanya memiliki “kesimpulan yang tidak akurat”. Oleh karena itu pemberian layanannya lebih menekankan kepada mempertanyakan
akurat dan tidaknya kesimpulan-kesimpulan yang
dibuat klien sehingga menjadi sadar serta bisa
menangani masalahnya secara lebih efektif. Untuk pelaksanaannya dilakukan
melalui permodelan.
Konseling yang berorientasi kognitif perilaku dipilih, dengan alasan
karena
telah banyak
digunakan untuk
mengintervensi berbagai
gangguan-
gangguan kejiwaan,
masalah-masalah psikologis ( Beck, 2011).
Masalah
Psikologis bisa berupa gangguan kecemasan umum dan gangguan perilaku. Sedangkan
efikasi-diri
akademik
rendah
adalah
merupakan salah
satu
gangguan perilaku (perilaku kognitif). Sedangkan
salah satu problem
akademik adalah bagaimana meningkatkan efikasi-diri akademik
siswa yang rendah. Problem
ini
secara umum pemecahannya bisa melalui intervensi yang melibatkan proses kognitif perilaku dalam rangka perubahan perilaku dan kognitif. Di bagian lain efikasi-diri akademik
menurut kerangka teori social learning mempunyai konsep yang merupakan perpaduan antara kognitif
dan behavior (Bandura, 1976; Bandura, 1986; Guire, 2000). Dalam
pandangan Bandura, efikasi-diri timbul sebagai penilaian kognitif terhadap kemampuan
yang dimiliki
individu. Sementara, konseling
kognitif-perilaku
mempunyai
tujuan utama meningkatkan kesadaran individu
mengenai keyakinan
irrasionalnya menjadi keyakinan yang lebih akurat,
adaptif serta berbasis realitas.
Terapi perilaku kognitif (TPK) dalam penerapannya ke dalam
konseling
kognitif-perilaku
di
sisi
lain
memberikan
intervensi
yang secara umum
bertujuan untuk memecahkan masalah yang ber-kaitan dengan emosi, perilaku
dan kognisi, melalui orientasi tujuan serta prosedur sistematis. Menurut Beck
(Beck dalam
Corey, 1996: 337), hal yang esensial adalah memfokuskan pada isi kognitif dari reaksi individual... sasarannya adalah mengubah cara berfikir klien. Penilaian kognitif
yang rendah mengenai kemampuan yang
dimiliki
individu
(diri sendiri), merupakan bentuk
dari efikasi-diri akademik
(EDA) yang
rendah. Lebih lanjut, untuk
mengubah EDA rendah menjadi tinggi,
diberikan-lah perlakuan dengan eksperimen melalui
terapi perilaku-kognitif (TPK).
Berdasarkan penjelasan yang sudah dikemukakan tersebut, dapat digambarkan keterkaitan antara TPK dengan efikasi-diri akademik
(EDA) sebagaimana gambar 2.3:
Sumber efikasi-diri
(a). Performance
|
Efikasi-diri
akademik
|
Eksperimen
Terapi
|
Efikasi-diri akademik tinggi
|
|||
accomplishment
|
rendah
|
Perilaku
|
(acuan pada
|
|||
(b). Vicarious
learning
(c). Emotional arousal,
|
(acuan pada
konten)
|
Kognitif
|
konten)
|
|||
(d). Verbal persuation
|
EDA Efikasi-diri akademik merupakan keyakinan
individu me-ngenai kemampuannya dan cara berfikirnya, yang berpengaruh pada
cara-
cara ber-tingkahlaku
untuk mencapai tujuan
akademik.
penilaian
kognitif mengenai kemampuan yang dimiliki
individu.
TPK
Secara umum intervensi ini
bertujuan untuk memecahkan
masalah yang ber-kaitan
dengan emosi,
perilaku
dan
kognisi,
melalui orientasi
tujuan serta
prosedur sistematis. Menurut Beck
(Beck dalam Corey, 1996:
337), hal yang
esensial
adalah mem-fokuskan
pada isi kognitif
dari reaksi
individual terhadap peristiwa atau alur yang pikiran. sasarannya adalah mengubah cara
berfikir klien.
|
Gambar 2.3: Keterkaitan antara Terapi Perilaku Kognitif (TPK) dan Efikasi
Diri Akademik (EDA)
Individu yang mempunyai efikasi-diri akademik tinggi lebih memungkinkan untuk berpartisipasi dan
berhasil dalam tugas-tugas akademik.
Efikasi-diri akademik (khususnya
yang rendah) dapat
ditingkatkan
melalui
bantuan konseling modifikasi-kognitif perilaku (MKP) dengan memanfaatkan
teknik pemodelan yang
merupakan salah satu bentuk induksi yang
dapat meningkatkan
efikasi-diri akademik.
DAFTAR PUSTAKA
Adawiyah, R. 2012. Pengembangan Model Konseling Behaviour dengan Teknik
Modeling untuk
Meningkatkan Kemaandirian Belajar Siswa SMPN
4 Wanasari Brebes. Http://jour nal.unnes.ac.id/sju/index .php/jbk
Adicondro, Nobelina dan Purnamasari, Alfi. 2011. Efikasi-diri, Dukungan Sosial Keluarga, dan Self
Regulated
Learning pada
Siswa
Kelas VIII.
Humanit as, Januari Vol. VIII No.1.
Ary, Donald., Jacobs, L.C., Razavieh, Asghar. 1982.
Pengantar Penelitian dalam Pendidikan (Judul asli: Introduction
to Research in Education), penterjemah Arief Furchan. Surabay: Usaha
Nasional.
Baker, Sonia D., Lang, Russell., O'Reilly, Mark.
2009. Review of Video Modeling with Students
with Emotional and Behavioral Disorders.
Educa-tion & Treatment of Children,
32 (3).
Bandura, A. 1962. Social
learning
through
imitation. In M. R. Jones
(Ed.), Nebraska sympo-sium of motivation (pp. 211-269). Lincoln: University
of Nebraska Press.
Bandura, A 1977a. Self-efficacy toward unifying theory behaviour change.
Psychological Review, 84, 191-215
Bandura, A, 1977b. Social Learning Theory. Englewood Cliffs.
New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Bandura,
A.
1986. Social Foundation of
Thought and Action:
A Social
Cognitive Theory.
New
Jersey: Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffts
Bandura, A.
1994. Self-efficacy.
In V.
S. Ramachaudran (Ed.),
Ency-clopedia
of human behavior (Vol. 4, 71-81). New York: Academic Press.
(Reprinted in H. Friedman [Ed.], Ency-clopedia of
mental health. San Diego: Academic
Press, 1998).
Bandura, A., dan Mitschel. 1965. Modification of
Self-Imposed Delay
of Reward Through Exposure to Live and Symbolic Model. Journal of
Personality and
Social Psychology.
Stanford
University.
Bandura, A., dan
Schunk, Dale. 1984. Enhancing Self Efficacy and
Achievement Through Rewards
and Goals : Motivation and Information Effects, (ed). The
Journal of Educational Research, 76, (1).
Beck, Judith S. 2011. Cognitive Behavior Therapy Basic and Beyond. Second
Edition.
New York – London: The
Guilford Press.
Benyamin, Courtney L.,
Puleo, Connor M., Settipani, Cara A., Brodman,
Douglas M., Edmund, Juli M., Cummings, Colleen M., Kendall, Philip
M., (2011). History of Cognitive-Behavioral Therapy (CBT) in Youth.
Journal List NIH Public
Access, 20(2): 179-189.
Berlant, Anthony
R.,
Weiss, Maureen R. (1997). Goal Orientation and
the Modeling Process: An Individual's Focus on Form and Outcome. Research Quarterly for
Exercise and Sport,
68 (4)
Betz. N.E. 1992. Counseling uses of career self-efficacy theory. The Career
Development Quarterly,
41, 22-26.
Boesdorfer, Sarah., Lorsbach, Anthony., Morey, Marilyn., (2011). Using a
Vicarious Learning
Event to Create a Conceptual Change in Preservice Teachers’
Under-standings
of the
Seasons. Electronic
Journal
of Science Education Vol. 15, No.
1.
Bray, M.A., &
Kehle, T.J. 1996.
Self-modeling
as an intervention
for
stuttering. School
Psychology
Review,
25, 358–369.
Caprara, Gian Vittorio.,
Vecchione, Michele., Alessandri, Guido., Gerbin,
Maria., Barbaranelli, Claudio., (2011).
The contri-bution of
personality
traits and self-efficacy beliefs to academic achievement: A longitudinal Study. British Journal of Educa-tional Psychology. 81
, 78-96.
Chan, Joanne C. Y. dan Lam, Shui-fong, 2008. Effects of competition on
students' self-efficacy in vicarious learning. British Journal of Educational Psychology. 78
(1)
Cherry, Kendra. 2005. What
is Cognitive Behavior Therapy?. Kendra- cherry.about.comguide
Clare, Susan K., Jenson, William R., Kehle, Thomas J and Bray, Melissa A.
2000. Self-Modeling as a Treatment for Increasing On-Task Behavior.
Psychology in the Schools,
37 (6): 517-522.
Clark, E., & Kehle,
T. J.
1992. Eva-luation of the parameters of self-modeling interventions. School Psychology Review,
21, 246–255.
Cormier, W.H.
and Cormier, L.S. 1985. Interviewing Strategies for Helper Fundamental
Skill an
Cognitive Behavioral Inter-ventions.
Third Edition.
Pasific Grove,
California: Brooks
Publishing Company.
Corey, G. 1996. Theory and Prractice of Counseling and
Psychotherapy. Fifth edition. Pasific
Grove,
Albany: Brooks/Cole
Publish-ing Company.
Cox, Richard.,
dan Pang, Jiangxiong. (...).VL-PATSy Facilitating vi-carious learning via intelligent resource provision. Depart-ment of Informatics,
University of Sussex,
Brighton,
UK.
Creswell, J.W. 2012. Educational Research. Fourth
Edition.
USA: Pearson.
Dimyati, Mohammad. 1997.
Penelitian Kualitatif.
Malang: Program
Pascasarjana IKIP Malang bekerjasama dengan Ikatan Profesi
Teknologi Pendidikan Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar