BAHASA DALAM
KOMUNIKASI PEMBELAJARAN
Luhur Wicaksono
FKIP-UNTAN
www.luhurwicaksono@yahoo.com No. Hp.085252585878
Abstrak : Pembelajaran
merupakan kegiatan yang dirancang oleh guru agar siswa melaksanakan proses
belajar. Acuan pembelajaran tidak boleh menyimpang dari kurikulum yang berlaku
karena ia merupakan panduan baik bagi siswa maupun guru. Pembelajaran sebagai
sebuah rantai kegiatan, harus mempertimbangkan pengetahuan awal dan kebutuhan
siswa, dan harus diinformasikan kepada siswa. Pemberian informasi mengenai
pembelajaran memerlukan perantaraan yaitu dengan bahasa sebagai alat komunikasi
sejak jaman dahulu pada awal kehidupan manusia. Bahasa merupakan bagian penting
dalam komunikasi pem-belajaran, baik dalam bentuknya yang verbal, maupun non
verbal. Dalam pembelajaran, bahasa menjadi penentu keberhasilan kegiatan
tersebut..
Kata kunci : pembelajaran,
bahasa.
Pendahuluan
Pembelajaran
merupakan rancangan sistematis yang dikomunikasikan melalui bahasa kepada
pebelajar, untuk membuat individu/pebelajar melakukan kegiatan belajar dalam
mencapai tujuan yang diinginkan. Perancang pembelajaran biasa disebut guru,
ustad/ustazah, instruktur, atau tenaga ahli sesuai bidangnya. Sistematika
rancangan secara garis besar meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Pebelajar merupakan subyek yang secara aktif melaksanakan kegiatan
pembelajaran. Tujuan pembelajaran diungkapkan dalam sebuah kompetensi
sebagaimana sudah dicanangkan sebelumnya.
Bahasa
menjadi hal yang penting dalam pembelajaran karena pada prinsipnya kegiatan ini
menitikberatkan pada bagaimana menggerakkan manusia/ pebelajar untuk
melaksanakan kegiatan belajar. Bahasa menjadi alat penyampai sehingga
pembelajaran mencapai suatu titik tertentu sebagai suatu kompetensi yang sudah
ditetapkan sebelumnya. Sebagai pemilik bahasa dalam berkomunikasi, be-berapa
unsur yang ada dalam pembelajaran menempatkan manusia sebagai unsur utama,
sedangkan unsur yang lain merupakan pelengkap untuk bisa mengekspresikan bahasa
dalam komunikasi pembelajaran. Unsur yang ada selain manusia meliputi pesan
atau isi pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan perangkat keras pembelajaran.
Bahasa
dengan berbagai ragam bentuknya membuat pembelajaran bisa ber-langsung dalam
suatu interaksi yang kompleks. Bahasa bisa berbentuk lisan, tertulis,
1
2
maupun
simbol-simbol. Bahasa lisan penyampaiannya dapat dilakukan secara langsung
maupun melalui rekaman, radio, televisi, film, maupun youtube. Bahasa tertulis
dalam bentuk buku, tulisan dalam media elektronik. Simbol-simbol dapat berasal
dari buatan manusia atau kejadian yang bersifat alami, termasuk dalam hal ini
adalah dari hewan, dan tumbuhan.
A. Hakikat Pembelajaran
1.
Pengertian Pembelajaran
Instruction yang artinya pembelajaran dalam konteks
pendidikan di sekolah merupakan suatu proses
interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Proses ini berupa bantuan yang diberikan pendidik/guru agar
dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan
tabiat, serta pembentukan sikap serta kepercayaan pada peserta didik, dengan
memanfaatkan sumber belajar. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk
membantu peserta didik/pebelajar agar dapat belajar dengan baik.
Pembelajaran
dapat diartikan sebagai kegiatan yang
dirancang untuk
membantu individu/peserta didik/pebelajar mempelajari suatu kemampuan dan/atau nilai yang
baru. Proses
pembelajaran pada awalnya
dilakukan untuk mengetahui
kemampuan dasar yang dimiliki oleh pebelajar yang meliputi kemampuan dasarnya, motivasinya, latar
belakang akademisnya, latar belakang
sosial ekonominya, dan lain sebagainya.
Pengenalan karakteristik pebelajar merupakan modal utama
pe-nyampaian bahan ajar dan menjadi indikator
suksesnya pelaksanaan
pembelajaran.
Paradigma modern
tentang pembelajaran yang berlaku saat ini adalah sebuah upaya secara
sistematis untuk menciptakan lingkungan belajar dan interaksi sebaik-baiknya,
agar mencapai hasil yang optimal. Lingkungan belajar bisa berupa makhluk hidup,
dan makhluk tak hidup. Makhluk hidup bisa berupa tumbuh-an,hewan, manusia,
termasuk guru dan instruktur di tempat pendidikan/sekolah. Sedangkan interaksi
dimaksudkan sebagai pertautan atau komunikasi antara individu pebelajar dengan
lingkungan belajarnya.
Pembelajaran diberi pengertian secara
beragam oleh para ahli sesuai sudut pandangnya maasing-masing. Gagne dan Briggs (1979:3), mengartikan instruction atau pembelajaran sebagai suatu
sistem yang bertujuan untuk
membantu proses
belajar siswa, yang berisi serangkaian
peristiwa yang
dirancang,
disusun sedemikian
rupa untuk
mempengaruhi
dan
mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. Sementara
itu,
Knirk dan Gustafson (1986) menyatakan bahwa
pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Duffy
dan Roehler (1989),
mengemukakan bahwa pembelajaran
merupakan suatu usaha
yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan profesional yang
dimiliki guru untuk mencapai
tujuan
kurikulum. Dimyati dan Mudjiono (1999) menjelaskan bahwa pembelajaran adalah
kegiatan guru
3
secara terprogram dalam desain isntruksional untuk membuat siswa
belajar secara aktif, yang
menekankan pada penyediaan sumber belajar. Dalam UUSPN No.20 (2003) dan Permendiknas
(2008) dinyatakan bahwa
pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat
dikemukakan bahwa pembelajaran merupakan proses yang sistematis dengan melalui
tahapan rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi, sebagai usaha yang melibatkan dan
menggunakan pengetahuan profesional
dalam sebuah desain instruksional dengan menekankan pada penyediaan sumber
belajar untuk membuat siswa/pebelajar belajar secara aktif.
Pembelajaran tidak terjadi seketika, tetapi sudah melalui
tahapan rancangan pembelajaran. Proses pembelajaran
perlu direncanakan,
dilaksanakan, dinilai, dan diawasi agar terlaksana
secara efektif dan efisien Pembelajaran sebagai proses belajar yang
dibangun untuk mengembangkan kreativitas berpikir
yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir
pebelajar, serta
dapat meningkatkan kemampuan meng-konstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap
materi
pelajaran. Oleh karena itu,
sebelum dibuat rancangan pembelajaran, harus ada langkah persiapan yang berupa
pengetahuan mengenai kemampuan dasar pebelajar, tema atau pesan yang ingin
disampaikan, cara bagaimana pesan itu disampaikan yang meliputi metode dan
media, serta sarana dan prasarananya. Ketika sudah diselenggarakan, maka
dinilai utuk mengetahui apakah semua sudah sesuai
dengan rencana. Sejauhmana capaian sebagaimana tujuan yang
sudah dicanangkan sebelumnya. Apa yang bisa ditingkatkan, dan adakah
kendala-kendala pada pelaksanaan kegiatan.
2.
Tujuan
Pembelajaran
Perubahan
perilaku pembelajaran dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran atau rumusan
kompetensi yang ingin dicapai dengan segala indikatornya. Rumusan tujuan
pembelajaran atau kompetensi dapat dicontohkan sebagai berikut:
“Siswa/pebelajar dapat mengubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung
atau sebaliknya” Kata dapat mengubah merupakan perilaku hasil
belajar yang akan dicapai dalam pembelajaran.
Tujuan (goals) merupakan rumusan mengenai hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Di dalamnya
tujuan terkandung target pembelajaran
serta pengalaman-pengalaman belajar.
Rumusan tujuan dibuat dengan menentukan tingkah laku siswa yang spesifik dan mengacu pada tujuan. Agar mudah diukur, maka tujuan
pembelajaran ditetapkan dengan kalimat-kalimat yang bersifat operasional. Menurut
Hamalik (2005) suatu
tujuan pembelajaran seyogianya memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Tujuan itu
menyediakan situasi atau
kondisi
untuk
belajar,
misalnya dalam
situasi
bermain peran.
4
2. Tujuan mendefinisikan tingkah laku siswa dalam bentuk dapat diukur dan dapat diamati.
3. Tujuan menyatakan tingkat minimal perilaku
yang dikehendaki, misalnya pada
peta pulau jawa, siswa dapat mewarnai dan memberi label pada sekurang-
kurangnya tiga gunung utama.
Tujuan pembelajaran sebenarnya merupakan penjabaran dari tujuan
kurikuler, yang juga merupakan jabaran dari
tujuan pendidikan nasional. Pada pembelajaran jangka panjang, tujuannya
akan mengarah untuk pencapaian tujuan pendidikan nasional. Sedangkan tujuan pendidikan adalah
falsafah negara
atau way
of life bangsa
Indonesia, yaitu Pancasila. Dengan
demikian pendidikan nasional
mempunyai tujuan membentuk manusia Pancasila yang utuh dan bertanggung
jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air melalui
pembangunan nasional.
Lembaga-lembaga di Indonesia baik formal
maupun non formal, secara keseluruhan mengarah pada pencapaian tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan
nasional ini tercantum
dalam Undang-undang
No.
20
Tahun 2003 tentang
Sisdiknas bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang
diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.
3.
Faktor-faktor yang
berpengaruh dalam Pembelajaran
Faktor-faktor berpengaruh dalam pembelajaran, secara
garis besar terdiri atas 3 hal, yaitu; manusia, pesan/materi/bahan ajar, dan
cara/proses. Hal itu berdasarkan apa yang sudah dikemukakan terdahulu sebagai
proses yang sistematis dengan melalui tahapan rancangan, pelaksanaan, dan
evaluasi, sebagai usaha yang melibatkan dan menggunakan pengetahuan profesional
dalam sebuah desain instruksional dengan menekankan pada penyediaan sumber
belajar untuk membuat
siswa/pebelajar
belajar secara aktif. Secara garis besar dapat dikemukakan beberapa faktor yang
berpengaruh dalam pembelajaran.
a.
Manusia
1)
Guru/Tutor/Instruktur/Tenaga Ahli
Guru/Tutor/Instruktur/Tenaga
Ahli merupakan komponen yang menentukan dalam implementasi strategi pembelajaran. Guru/Tutor/Instruktur/ Tenaga Ahli adalah
individu yang merancang pembelajaran. Guru disamping sebagai perancang
pembelajaran, dia juga melaksanakan/menerapkan/mengimplementasikan ran-cangannya
kepada muridnya. Keberhasilan
implementasi suatu strategi pembelajaran
5
akan tergantung
pada keahlian
guru dalam menggunakan metode,
teknik, serta taktik pembelajaran.
Setiap guru akan
mempunyai pengetahuan, kemampuan, pengalaman, gaya, bahkan pandangan yang tidak sama dalam melaksanakan
pembelajaran.
Pelaksanaan pembelajaran
menuntut guru tidak hanya berperan sebagai model, contoh atau peraga bagi siswa yang diajarnya, namun
juga sebagai pengelola pembelajaran
(manager of learning).
Keefektifan proses pembelajaran
dengan begitu terletak
di tangan guru. Dengan demikian keberhasilan
dalam pelaksanaan pembelajaran ditentukan oleh kualitas atau
kemampuan dari guru.
Dunkin (1974) mengemukakan sejumlah aspek yang dapat mempengaruhi kualitas
proses pembelajaran
dilihat dari
faktor guru, yaitu
a)
Teacher formative experience, meliputi jenis kelamin serta semua pengalaman
hidup guru yang menjadi latar belakang sosial
mereka.
b) Teacher training experience, meliputi pengalaman-pengalaman
yang berhubungsn dengan aktivitas
latar belakang pendidikan guru.
c) Teacher properties, meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat yang
dimiliki guru.
Jenis mata
pelajaran/bidang studi juga berpengaruh, selain latar guru seperti di atas. Pandangan/anggapan guru terhadap bidang
studi yang diajarkan, juga dapat pula mempengaruhi proses pembelajaran. Anggapan
bidang studi Bahasa sebagai pelajaran hafalan
akan berbeda
dalam pengelolaan pembelajarannya dibandingkan dengan guru yang
mengganggap sebagai bidang
studi yang dapat
meningkatkan kemampuan
berpikir dan mengkomunikasikan
pemikirannya melalui bahasa.
2)
Siswa/Peserta didik/Pebelajar
Siswa/Peserta
didik/Pebelajar merupakan individu unik
yang berkembang sesuai tahapnya. Setiap tahap perkembangan
memunculkan aspek-aspek kepribadian individu, namun dengan tempo dan irama
perkembangan yang tidak selalu sama untuk tiap-tiap aspek. Faktor-faktor yang dapat memengaruhi
proses
pembelajaran pada individu/siswa meliputi aspek latar belakang siswa yang disebut pupil formative experiences
serta
faktor sifat
yang dimiliki siswa (pupil properties)
(Dunkin, 1974).
Aspek latar belakang meliputi jenis kelamin siswa, suku,
tingkat sosial ekonomi orangtua, tempat tinggal siswa,
pendidikan orangtua, dan lain-lain. Sedangkan
dari sifat yang dimiliki siswa meliputi kemampuan
dasar
serta sikap. Sikap dan penampilan siswa juga
merupakan aspek lain yang
bisa memengaruhi
proses
pembelajaran, misalnya: siswa yang
sangat aktif (hyperkinetic), siswa yang
pendiam, dan tidak sedikit juga
ditemukan
siswa yang memiliki motivasi rendah dalam belajar.
Semuanya
akan berpengaruh terhadap proses pembelajaran
di dalam kelas. Aspek sifat atau
karakteristik individu meliputi faktor-faktor yang berkaitan dengan fisiologis
dan faktor-faktor yang berkaitan dengan psikologis.
6
b.
Pesan/Materi/Bahan Ajar
Pesan/materi/bahan ajar dalam pembelajaran biasanya
merupakan penjabar-an dari kurikulum pada tiap-tiap satuan pendidikan. Dalam
hal ini perlu diperhatikan spesifikasi, kedalaman, ketersediaan, kemampuan pebelajar,
kebutuhan pebelajar, kondisi sosial budaya setempat, dan tidak kalah penting
adalah standar kompetensi sesuai tuntutan kurikulum.
1)
Spesifikasi
Pesan/materi/bahan ajar hendaknya khas, mempunyai ciri
tertentu yang menandai tingkat satuan pendidikan dimaksud. Apabila terdapat
tema yang kebetulan sama atau senama dalam bidang studi yang sama, misalnya;
maka untuk sekolah umum dengan sekolah kejuruan akan tidak sama dalam sudut
pandang pesan/materi/bahan ajar dalam pembelajarannya. Kekhasan ini harus
terlihat nyata pada tingkat satuan pendidikan yang berbeda. Pebelajar harus
bisa merasakan kekhasan tersebut sejak awal pembelajaran sampai akhir
pembelajaran, sejak awal dia masuk di sekolah tersebut sampai tiba saat
kelulusannya. Kekhasan ini pada jenjang satuan pendidikan yang lebih tinggi,
bisa jadi menyangkut kedalaman pesan/materi/bahan ajar.
2)
Kedalaman
Ukuran dalam-tidaknya pesan/materi/bahan ajar sebenarnya
sangat relatif. Penentuan hal tersebut setidaknya bisa ditinjau dari segi
kuantitas maupun kualitas khususnya untuk tiap jenjang satuan pendidikan.
Kuantitas
menyangkut banyak sedikitnya bahan yang disampaikan pada pebelajar. Jenjang satuan
pendidikan yang lebih rendah, materi tidak terlalu banyak, penyampaian secara
lugas, kalimat-kalimat tekstualnya sederhana dan tidak terlalu panjang. Jenjang
satuan pendidikan makin tinggi, memperoleh materi yang semakin banyak,
penyampaian lugas menurut segi keilmuannya, kalimat tekstualnya lebih kompleks
dengan penjelasan yang lebih panjang pada kalimat utama.
Kualitas pesan/materi/bahan ajar merujuk pada uraian
dengan berbagai macam rujukan, sudut pandang, aliran, analisis, yang semua
dikemas menjadi suatu kesatuan yang lebih rinci. Semakin tinggi jenjang satuan
pendidikan, maka semakin rinci pembahasan yang diuraikan. Sebagai contoh,
sama-sama bidang studi IPA, untuk jenjang satuan pendidikan SD/MI kedalamannya
tidak sama dengan SMP/MTs, SMA/MA/SMK/MAK, dan Pendidikan Tinggi. Pada jenjang
satuan Pendidikan Tinggi, bidang studi IPA masih dibagi lagi menjadi banyak
mata kuliah, dan tentunya itu lebih sulit dari IPA untuk bidang studi di SD.
3)
Ketersediaan
Ketersediaan dimaksudkan sebagai ada-tidaknya pesan/materi/bahan
ajar di lingkungan tempat tinggal pebelajar. Semakin rendah tingkat satuan
pendidikan,
7
maka hal ini
menjadi sangat penting, karena kemampuan pebelajar belum sampai tingkat
berfikir abstrak, apalagi untuk menganalisis sesuatu yang sangat abstrak.
Contoh-contoh konkrit diperlukan, dan itu harus ada di lingkungan tempat
tinggal pebelajar, sehingga. Pembelajaran harus disesuaikan dengan apa yang
dilihat, apa yang dialami, dan apa yang dirasakan pebelajar. Ketersediaan
berkait dengan kebutuhan pebelajar, karena apabila pesan/materi/bahan ajar itu
sesuai atau bisa diterapkan langsung dalam kehidupannya sehari-hari, maka pebelajar
merasa bahwa hal itu dibutuhkan/diperlukannya dalam menjalani hidupnya.
4)
Kebutuhan Pebelajar
Kebutuhan/kepentingan/keperluan merupakan perpaduan
antara ketersedia-an dengan keinginan, minat, bakat, dan cita-cita. Ketersediaan
tidak serta merta menjadi kebutuhan pebelajar apabila itu tidak sesuai dengan
keinginan, minat, bakat, dan cita-citanya. Ketersediaan yang besar dari
lingkungan berkaitan pesan/materi/ bahan ajar lebih menguntungkan pebelajar,
karena ia akan mempunyai banyak variasi pilihan yang sesuai dengan keinginan,
minat, bakat, dan cita-citanya. Misalnya dengan kemajuan teknologi sekarang
ini, maka hampir semua orang (bahkan anak-anak), apalagi di perkotaan, memiliki
HP atau gadget. Ada sebagian orang yang kurang membutuhkan HP, walaupun
kelompok ini sangat jarang, ada
yang
memerlukannya hanya untuk memenuhi keinginannya terhadap hiburan yaitu: game,
youtube, dlsb. Namun ada kelompok yang merasa bahwa HP itu sebagai suatu
kebutuhan, ia merasa bahwa begitu pentingnya HP, karena disamping bisa menjadi
pemenuhan keinginan hiburan, alat komunikasi, dan yang lebih penting adalah
untuk
mencari
informasi berkait dengan penyaluran dan pengembangan minat serta cita-citanya,
yang tidak bisa lepas dari bidang studi yang digelutinya. Berbagai contoh bisa
dianalogkan dengan kebutuhan pebelajar. Salah satu kunci suksesnya pembelajaran
adalah apabila ia dirancang sebagai hal yang dibutuhkan pebelajar.
5)
Kemampuan Pebelajar
Kemampuan pebelajar erat hubungannya dengan ketersediaan,
dan kebutuhan/ kepentingan Kemampuan ini berhubungan dengan bagaimana perancang
pembelajaran dan/atau pebelajar mampu mengadakan/menyediakan hal-hal yang harus
dipenuhi dalam pembelajaran, juga kemampuannya untuk mengolah sesuai dengan
kebutuhannya sehingga bermakna dalam kehidupannya sehari-hari, terutama bagi
pebelajar.
Karakteristik phisik dan psikologis berperan pada
individu dalam menerima dan mengolah pesan/materi/bahan ajar yang pada akhirnya
membuahkan hasil yang berbeda-beda pada masing-masing individu pebelajar, hal
itu juga ditunjang dengan kemampuan sosial ekonomi dan cita-cita pebelajar dan
keluarga.
6)
Kondisi Sosial Budaya Setempat
Pesan/materi/bahan ajar hendaknya sesuai dengan kondisi
sosial budaya setempat. Kesesuaian tersebut menjadikan pembelajaran “membumi”,
karena semua
8
yang dibahas
ada dan sesuai dengan kondisi sekeliling
pebelajar. Pembelajaran yang membumi akan lebih menarik, disamping membuat
lebih mudah dipahami. Pembelajaran yang tidak sesuai dengan kondisi sosial
budaya setempat, bisa menjadikan siswa kebingungan bahkan apabila bertentangan,
bisa menyebabkan kemarahan dari siswa, orangtua, dan masyarakat setempat.
Keharmonisan hubungan antara orang yang
terlibat dalam proses
pembelajaran
juga mempunyai peran penting. Kondisi ini
dapat terjadi secara
internal
maupun eksternal. Kondisi internal adalah hubungan antara orang yang
terlibat dalam lingkungan sekolah.
Sedangkan kondisi
eksternal adalah harmonisnya hubungan antara
warga sekolah dengan dunia
luar. Sekolah yang memiliki hubungan baik secara internal ataupun
eksternal, dapat meningkatkan
kualitas pembelajarannya.
7)
Standar Kompetensi
Standar kompetensi merupakan deskripsi capaian yang harus
dikuasai pebelajar yang sudah ditetapkan sebelumnya. Standar dimaksud,
merupakan kualifikasi kemampuan pebelajar sebagai gambaran terhadap penguasaan
pengetahuan, sikap, serta ketrampilan untuk suatu bidang studi pada setiap semester
sesuai kurikulum. Standar kompetensi ini dijabarkan menjadi kompetensi dasar,
yaitu tingkat minimal penguasaan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap dari
standar kompetensi yang harus dicapai pebelajar, Capaian
kompetensi dasar ditandai dengan
indikator, yaitu perubahan perilaku terukur
dari pengetahuan, sikap, dan ketrampilan.
c.
Cara
1)
Sumber Belajar
Sumber belajar
dapat berupa guru, siswa itu sendiri, dan lingkungan. Sumber belajar merujuk pada segala informasi
pembelajaran, yaitu wawasan keilmuan, keterampilan,
pengetahuan yang luas, variasi aktivitas belajar, dan pengalaman belajar. Guru
dapat dikatakan sebagai sumber belajar utama mempunyai wawasan keilmuan,
keterampilan, pengetahuan yang luas. Siswa dengan aktivitas belajar dan
pengalaman belajarnya juga dapat menjadi sumber belajar. Lingkungan adalah benda atau makhluk diluar individu pebelajar,
kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang dirasakan oleh individu
pebelajar, dan fenomena-fenomena diluar individu pebelajar tetapi yang bisa
dirasakan atau diamati.
Ragam sumber
belajar ternyata banyak sekali, namun
Gerlach dan Ely (1971) secara garis besar membaginya menjadi lima, yaitu: manusia, bahan, lingkungan, alat dan
perlengkapan, serta aktivitas.
Manusia sebagai sumber belajar
digolongkan dalam dua kelompok, yaitu yang sudah dipersiapkan secara khusus
melalui pendidikan untuk menjadi sumber belajar, misalnya konselor, dan guru.
Kelompok kedua adalah mereka yang tidak
dipersiapkan melalui pendidikan khusus untuk menjadi seorang nara sumber,
9
tetapi memiliki keahlian yang berkaitan erat dengan
pembelajaran yang akan disampaikan, misalnya: insinyur, dokter, polisi, dan
sebagainya.
Bahan sering
disebut juga dengan media pembelajaran yaitu segala sesuatu yang berfungsi
membawa pesan atau informasi untuk pembelajaran. Bahan terdiri atas dua
kelompok, yaitu yang didesain khusus untuk pembelajaran, dan yang tidak
didesain tetapi sesuai untuk pembelajaran
Lingkungan
merupakan segala sesuatu yang bisa memberikan peng-kondisian belajar. Ada dua
kelompok lingkungan, yaitu yang didesain khusus untuk pembelajaran, contohnya
laboratorium, dan kelas. Sedangkan kelompok
yang lain
adalah lingkungan yang bisa dimanfaatkan sebagai pendukung penyampaian materi
pembelajaran, seperti museum, dan kebun binatang.
Alat atau perlengkapan merupakan
segala sesuatu yang dimanfaatkan untuk produksi atau menampilkan sumber-sumber
belajar lainnya. Seperti komputer untuk membuat pembelajaran berbasis komputer,
TV untuk membuat program belajar jarak jauh, juga tape recorder untuk
membuat program pembelajaran audio misalnya dalam pelajaran bahasa Inggris.
Aktivitas yang biasa dapat dijadikan
sumber belajar merupakan aktivitas yang mendukung pencapaian tujuan
pembelajaran. Aktivitas tersebut didalamnya terdapat perpaduan antara teknik
penyajian dengan sumber belajar lainnya untuk memberi kemudahan bagi pebelajar.
Seperti aktivitas dalam bentuk diskusi, mengamati, belajar tutorial, dan
sejenisnya.
2)
Media
Media pembelajaran mengandung dua
unsur, yaitu (a) sebagai perangkat lunak untuk menyampaikan pesan atau bahan
pengajaran, dan (b) sebagai perangkat keras, yaitu alat yang digunakan untuk menampilkan pesan. Media
ditinjau dari penggunaan sumber dayanya, juga dibagi menjadi dua, yaitu : (1)
media elektronik, dan (2) media non elektronik. Media elektronik adalah media
yang menggunakan perangkat dengan sumber daya elektronik, misalnya: radio,
video, film, TV, dan internet. Sedangkan
media non elektronik adalah media yang tidak memanfaatkan elektronik sebagai
sumber dayanya, misalnya: brosur, pamplet, poster, spanduk, baliho, buku,
Koran, tabloid, majalah, dll.
3)
Metode
Metode merupakan
suatu cara yang digunakan dalam rangka mencapai
tujuan yang diharapkan. Metode pembelajaran dapat juga diartikan sebagai suatu cara yang
dipilih oleh guru untuk mengoptimalkan proses belajar mengajar dengan tujuan
mencapai hasil pembelajaran yang diharapkan. Optimasisasi adalah capaian
masing-masing pebelajar secara maksimal (yang mungkin tidak sama, karena
kemampuannya berbeda), terhadap kompetensi yang sudah ditetapkan sebelumnya. Beberapa
jenis metode pembelajaran, antara lain: ceramah, diskusi, Tanya-jawab, karya
wisata, sosiodrama, eksperimen, dan sebagainya.
10
Metode
pembelajaran mempunyai peran penting dalam proses pembelajar-an, disamping membuat proses belajar mengajar tidak
membosankan, juga membuat materi menjadi mudah untuk dicerna. Itulah sebabnya,
pemilihan metode hendaknya dilakukan dengan memperhatikan karakteristik pebelajar.
Penggunaan metode pembelajaran untuk masing-masing kelas tidak harus sama,
karena disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik pebelajar.
B. Hakikat Bahasa
1.
Ciri-ciri bahasa
Bahasa (dari bahasa Sanskerta भाषा, bhāṣā)
adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya
menggunakan tanda, misalnya kata dan gerakan (Wikipedia, 2017). Bahasa sebagai alat bantu penyampai pesan, yang dalam hal
ini berkaitan dengan pembelajar, mempunyai beberapa
ciri, yaitu :
a.
Bahasa
bersifat simbolik
b.
Makna
ada pada orang,tidak pada kata-kata
c.
Bahasa
membentuk persepsi Individu.
d.
Bahasa
mencerminkan sikap Individu
2.
Komunikasi
Verbal dan Nonverbal
Komunikasi
verbal (kata-kata) merupakan lambang – lambang abstrak yang dibuat sekelompok
orang tertentu yang sepakat dengan memberikan makna – makna tertentu juga
terhadap lambang-lambang tersebut.
Komunikasi
nonverbal adalah pesan-pesan yang dinyatakan bukan lewat sarana linguistik.
Karakteristik dan ciri-ciri komunikasi nonverbal antara lain :
a.
Komunikasi
nonverbal mentransmisikan perasaan
b.
Komunikasi
nonverbal bermakna ganda
c.
Banyak
dari komunikasi nonverbal terikat kebudayaan
d.
Komunikasi
nonverbal memiliki banyak fungsi
Beberapa
kategori komunikasi nonverbal yaitu : 1) komunikasi obyek, 2) gerakan tubuh, 3) vokalik, dan 4) sentuhan
(Wikipedia, 2017)
1)
Komunikasi Obyek
Komunikasi
objek yang paling umum adalah penggunaan pakaian. Seragam (missal: seragam tentara, polisi,
dll), yang digunakan individu merupakan salah satu bentuk komunikasi objek.
Individu dinilai dari jenis pakaian yang digunakannya, walaupun ini dianggap
termasuk salah satu bentuk stereotipe. Sebagai misal, individu sering menyukai
orang lain, hanya karena cara berpakaian yang menarik darinya. Selain itu,
dalam wawancara pekerjaan seseorang yang berpakaian rapi dan menarik cenderung
lebih mudah mendapat pekerjaan daripada yang tidak.
11
2)
Gerakan tubuh
atau Kinetik
Kategori ini
terdiri dari:
· Orientasi Tubuh,
ialah derajat individu (komunikator) dalam menghadapkan tubuhnya ke arah atau
menjauh dari seseorang (komunikan), dengan tubuhnya, kaki atau kepala Individu
sendirinya,
· Postur (gaya tubuh). Cara lain
berkomunikasi nonverbal ialah melalui postur/gaya tubuh, misalnya apabila
seorang siswa duduk menyandar kebelakang saat pelajaran dikelas, maka bisa
ditafsirkan sebagai pernyataan bosan terhadap penuturan guru
· Gerakan Isyarat
(gesture) merupakan sumber informasi
yang baik bagi komunikasi nonverbal. Wajah merupakan saluran yang paling
kentara dalam penyampaian pesan/informasi/emosi. Hendaknya komunikator
berhati-hati dalam mengontrol ekspresi wajahnya, apabila ingin mencoba
menyembunyikan perasaannya.
· Wajah dan mata
Wajah merupakan saluran
pernyataan (komunikasi) yang paling rumit. Pertama adalah, sulit sekali untuk
menggambarkan jumlah dan jenis dari ekspresi-ekspresi dihasilkan dari wajah dan
mata individu (komunikator). Alasan lain untuk sulitnya memahami ekspresi wajah
ialah dapat berubah-ubah dalam waktu yang singkat.
3)
Vokalik/Suara/Paralanguage
Suara merupakan
satu saluran yang lain dari komunikasi nonverbal. Suara merupakan parabahasa (paralanguage), yaitu cara bagaimana
kata-kata itu diucapkan. Terdapat berbagai cara dimana suara bisa
mengkomunikasikan sesuatu, yaitu; lewat nada, kecepatan, tinggi suara, besar
suara, jumlah dan panjang istirahat, dan ketidaklancaran. Faktor-faktor
tersebut semuanya dapat berperan dalam memperkuat atau melemahkan pesan yang
disampaikan kata-kata seseorang.
4)
Sentuhan
Sentuhan dapat
mengkomunikasikan banyak pesan. Sentuhan dapat merupakan penyampaian rasa
persahabatan, perhatian, seksual, dan keagresifan. Pesan yang didapat dari sentuhan
juga berpengaruh terhadap cara bagaimana seseorang memberi arti pada sentuhan,
disamping arti sentuhan yang dimaksudkan komunikator itu sendiri.
3.
Berbicara dan
Mendengarkan
Berbicara
merupakan komunikasi yang biasanya terjadi karena pembicara (komunikator) ingin
menyampaikan suatu maksud/pesan yang sudah dibayangkan sebelumnya. Jadi maksud itu harus sudah jelas dalam
pikirannya.
Terdapat 3 kriteria untuk satu pernyataan maksud yang baik
yaitu :
a.
Pesan
harus berorientasi pada khalayak/audien
b.
Pesan
harus mudah dipahami, dan tepat
c.
Pesan
harus mudah dicapai
`12
Mendengarkan
merupakan salah satu dari keterampilan – keterampilan komunikasi yang
memerlukan proses. Mendengarkan secara efektif adalah suatu proses upaya penuh
kesadaran yang memiliki 6 komponen, yaitu: mendengar, memperhatikan, mengerti,
mengingat, mengevaluasi, dan merespon. Mendengar merupakan aspek fisiologi dari
mendengarkan. Sementara proses mendengarkan dimulai dari proses fisiologi,
segera setelah itu menjadi proses psikologi. Memperhatikan adalah aspek
psikologi dari mendengarkan. Mengerti
adalah memberikan arti terhadap pesan yang diperoleh menurut nilai-nilai,
kepercayaan, ide, harapan, kebutuhan, serta sejarah pribadi individu. Mengingat merupakan proses
penyimpanan pesan/informasi (dalam memori jangka panjang) yang akan digunakan
untuk waktu yang akan datang. Mengevaluasi yaitu:
menerapkan keterampilan berfikir kritis untuk memisahkan fakta dan opini. Merespon adalah melakukan
suatu reaksi setelah individu melakukan evaluasi terhadap pesan
pembicara.
4.
Menulis dan
Membaca
Menulis dan
membaca merupakan kegiatan yang saling berkaitan. Menulis merupakan tindakan
menyajikan pesan secara tertulis, sementara membaca adalah tindakan menerima
pesan tertulis dalam suatu komunikasi.
Membaca adalah
suatu proses untuk memperoleh makna dari halaman tertulis. Dengan pemberian
makna kedalam halaman tertulis tersebut,
pembaca yang baik adalah individu yang membawa seluruh hidupnya
menghadapi gagasan-gagasan baru yang ditemui dihalaman-halaman tertulis.
C. Bahasa dan
Komunikasi Pembelajaran
Penggunaan bahasa dalam pembelajaran
tidak dapat diabaikan. Bahasan sangat penting untuk memperlancar komunikasi
pembelajaran. Faktor-faktor yang
berpengaruh
dalam pembelajaran bisa berfungsi dengan baik apabila ia memakai bahasa sebagai
sarana komunikasi dalam pembelajaran. Secara garis besar penggunaan bahasa
dalam komunikasi pembelajaran dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut:
13
Berdasarkan bagan yang tertera tersebut
dapat dikemukakan bahwa bahasa digunakan pada komunikasi untuk semua faktor-faktor
dalam pembelajaran. Bahasa yang terdiri
atas bahasa verbal maupun non verbal
a.
Manusia
Bahasa
digunakan oleh manusia baik oleh guru, maupun siswa (pebelajar) dalam berkomunikasi untuk menyampaikan pesan
pada kegiatan pembelajaran. Guru sebagai komunikator menyampaikan
pesan/materi/bahan ajar dengan menggunakan bahasa verbal, dan/atau bahasa non
verbal. Penggunaan bahasa verbal hendaknya dilakukan melalui pilihan-pilihan
kata yang disesuikan dengan bidang studi, spesifikasi atau kekhasan
pesan/materi/bahan ajar, kedalaman berdasarkan jenjang
satuan
pendidikan, ketersediaan/kekonkritan, kemampuan pebelajar untuk mencerna, dan
kondisi sosial budaya.
Spesifikasi atau kekhasan bahasa sesuai
bidang studi, merujuk pada pilihan kata-kata teknis, baik yang masih dalam
istilah asing, maupun yang sudah menjadi bahasa Indonesia. Misalnya, istilah
berat (W) pada bidang studi atau pelajaran IPA, merupakan istilah teknis yang
khas yang tidak sama dengan istilah awam pada umumnya yang menganggap massa
adalah berat.
Bahasa non verbal baik berupa komunikasi obyek, kinetik, suara,
dan sentuhan dapat menumbuhkan makna, persepsi, sikap, dan pemberian motivasi
pada pebelajar dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Dengan berpegang pada
pemahaman bahwa pembelajaran merupakan usaha guru agar siswanya melakukan
kegiatan belajar, maka bahasa non verbal menduduki posisi yang tidak kalah penting
dibandingkan dengan bahasa verbal.
Komunikasi obyek dalam kaitannya dengan
penyampaian pesan/materi/ bahan
ajar karier untuk SD kelas rendah misalnya, bisa dicontohkan dengan media poster yang berisi gambar polisi,
tentara, pilot, dokter dan sebagainya, serta bercerita mengenai deskripsi sederhana tugas, dan suka duka masing-masing
karier. Model asli dapat juga didatangkan untuk berbagi pengalaman kerja secara
riil.
Kinetik atau gerakan tubuh dapat
berfungsi sebagai bahasa dalam pembelajaran. Anggukan, gelengan, sorot mata,
ekspresi wajah, dll mewakili bagaimana pebelajar mereaksi/merespon terhadap
pembelajaran. Gerakan tubuh juga dapat menjadi cerminan untuk melihat secara
sepintas sukses-tidaknya pembelajaran. Sebagai contoh, pebelajar yang mengeleng-gelengkankan
kepala saat menghadapi soal, bisa jadi sebagai indikator (walaupun belum pasti) soal tersebut sulit
b.
Pesan/Materi/
Bahan ajar
Bahasa dalam bentuk verbal maupun
nonverbal digunakan didalam komunikasi pembelajaran untuk menyampaikan pesan/materi/bahan
ajar. Perkataan secara lisan atau verbal, dapat digunakan untuk menyampaikan
pesan/materi/bahan ajar pembelajaran yang berbentuk perangkat lunak. Sedangkan bahasa dalam bentuk non verbal untuk kedalaman
tertentu, misalnya pada jenjang pendidikan SD, untuk
14
menyampaikan
materi tentang binatang, guru dapat mengeluarkan suara sesuai dengan binatang
yang dimaksudkan.
c.
Cara
Bahasa
digunakan sebagai cara dalam komunikasi pembelajaran. Cara merujuk pada
bagaimana pebelajar dapat melakukan kegiatan belajar dengan baik, dengan
komponennya yang meliputi sumber belajar, media, dan metode. Sumber belajar terdiri
atas guru, murid dan lingkungan. Dalam
kondisi tertentu, guru dan murid/pebelajar disamping dapat berfungsi sumber
belajar, dapat juga menjadi media
belajar. Bahasa (baik yang verbal maupun non verbal), mempunyai peran penting
dalam komunikasi pembelajaran antara guru dan murid.
Kesimpulan
Instruction yang artinya pembelajaran
dalam konteks pendidikan di sekolah merupakan suatu proses
interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Pembelajaran mempunyai tujuan yang dirumuskan sebagai kemauan pebelajar
melakukan perubahan perilaku, dan pencapaian perubahan perilaku sesuai dengan
rrumusan tujuan pembelajaran atau kompetensi. Pembelajaran mempunyai beberapa
faktor yang merupakan komponennya, yaitu; manusia, pesan, dan cara.
Bahasa adalah
kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan
manusia lainnya. Dalam pembelajaran, bahasa digunakan untuk berkomunikasi.
Bentuk komunikasai yang dilakukan adalah secara verbal maupun non verbal. Semua
faktor dalam pembelajaran menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi untuk
mencapai tujuan yang diinginkan.
DAFTAR BACAAN
Agustina, Z. 2006. Materi Kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi Massa. http://meiliemma. wordpress.com/2006/09/27. diakses tanggal 2
Oktober 2010.
Anonim. 2009. Sejarah Komunikasi. http://tentang-teori.blogspot.com/2009/01/ sejarah-komunikasi.html. diakses tanggal 2 Oktober 2010.
Depdiknas. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.
Dimyati dan Mudjiono. 1999.
Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Duffy and Rochler. 1989. Improving Classroom Reading Instruction.
New York: Random House.
Dunkin, M.J. 1987. The International Encyclopedia of Teaching and Teacher
Education.
England: Pergamoon Press.
Gagne, R. & Briggs, L.J. 1979. Principle of Instructional
Design. New York: Holt
Rinehart and Winston.
Hamalik, O.
2007. Kurikulum dan Pembelajaran.
Jakarta: PT Bumi Aksara
Knirk, F.G. dan Gustafson, K.L. 1986. Instructional
Technology, A Systematic Approach to
Education.
New York: Holt Rinehart
and Winston.
Permendiknas No. 41 Tahun
2007.
Standar Proses untuk
Satuan
Pendidikan Dasar
dan Menengah.
Umar, S. 1989. Komunikasi untuk Pembangunan. Jakarta: P2LPTK-Dirjen
Dikti-Depdikbud.
Vernon,
G. S. & Ely, D. P. 1971. Teaching & Media : A Systematic Approach.
New Jersey: Prentice-hall Company.
Wikipedia.
Komunikasi. https://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi,
diakses tanggal 2 Oktober 2010.
Wikipedia.
Komunikasi nonverbal. https://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi nonverbal, diakses 1 Januari 2017.
Wikipedia. Bahasa.
https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa,
diakses 1 Januari 2017
15
